KOMPAS.com - Krisis Iklim berdampak langsung pada efisiensi pembangkitan dan pola konsumsi energi masyarakat, yang menuntut adaptasi dalam sistem kelistrikan nasional.
Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan DJK, Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ahmad Amiruddin mengakui kenaikan temperatur udara akibat krisis iklim telah berdampak pada performa teknis pembangkit listrik.
Mengutip riset dari Kamia Handayani, kata dia, kenaikan suhu dapat menurunkan efisiensi pembangkitan listrik, terutama pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), dengan estimasi penurunan mencapai dua hingga tiga persen.
Baca juga: Efek Krisis Iklim, Nyamuk Tropis Invasif Ditemukan di London
"Krisis iklim ini pastinya akan menurunkan efisiensi pembangkit. Atau, karena variasi musim, bisa karena penurunan kenaikan temperatur untuk pendinginan pembangkit uap misalnya, atau hal-hal lainnya yang menyebabkan pembangkit mengalami penurunan efisiensi," ujar Amiruddin dalam webinar Reforming Indonesia’s National Grid Resilience amid Escalating Climate Crisis Impacts, dikutip Senin (7/9/2026).
Selain memengaruhi sisi produksi, krisis iklim juga mengubah profil permintaan (demand) listrik. Kenaikan suhu udara memicu penggunaan perangkat pendingin ruangan yang lebih masif.
"Krisis iklim ini juga menyebabkan berubahnya demand begitu ya. Jadi yang tadinya suhunya meningkat artinya penggunaan pendinginnya juga meningkat, atau terlampau dingin, sehingga penggunaan untuk heater-nya juga meningkat," tutur Amiruddin.
Dinamika ini memaksa para perencana sistem ketenagalistrikan untuk menghitung ulang porsi perencanaan kapasitas agar tetap mampu memenuhi kebutuhan beban yang semakin fluktuatif.
Baca juga: Studi Ungkap Hewan Laut Respons Perubahan Iklim dengan Cara Berbeda-beda
Dari sisi perencanaan, tantangan utama bukan terletak pada pemodelan teknis, melainkan lebih pada konsistensi dalam menerapkan optimasi biaya terendah. Penyesuaian perencanaan kini harus mempertimbangkan variabel yang lebih luas, termasuk risiko penurunan daya mampu neto dari pembangkit yang sudah ada.
Meski secara model matematika penambahan kapasitas bisa dilakukan dengan meningkatkan persentase cadangan, implementasinya di lapangan berbenturan dengan realitas ekonomi.
Perencanaan masa depan harus mampu menyeimbangkan antara kesiapan infrastruktur untuk menghadapi lonjakan permintaan dengan efisiensi biaya investasi agar tidak membebani keuangan negara maupun konsumen.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya