KOMPAS.com - Varietas pisang Cavendish yang saat ini paling banyak dikonsumsi dan diperdagangkan secara global, rentan terhadap penyakit layu Fusarium.
Strain Fusarium Tropical Race 4 (TR4) yang mengancam industri pisang global bukan tanpa preseden. Sebelumnya, varietas Gros Michel yang pernah mendominasi pasar pisang global juga mengalami kehancuran akibat serangan penyakit Fusarium.
“Sebelumnya terdapat varietas Gros Michel yang juga pernah mendominasi pasar dunia, tetapi akhirnya musnah akibat serangan penyakit tersebut,” ujar peneliti Ahli Utama Pusat Riset Rekayasa Genetika BRIN, Prof. Enny Sudarmonowati, dilansir dari laman resmi BRIN, Senin (7/9/2026).
Baca juga: Sekolah di NTT Raih Penghargaan Asia Pasifik Berkat Inovasi Olah Limbah Kulit Pisang
Indonesia merupakan salah satu pusat asal tanaman pisang yang telah menyebar hingga Afrika sejak ribuan tahun lalu.
Ia menganggap, Indonesia memiliki posisi strategis dalam keberadaan dan keragaman pisang dunia. Bahkan, Indonesia tercatat sebagai produsen pisang terbesar ketiga di dunia.
Indonesia menyimpan 'harta karun' genetik pisang yang pemanfaatannya sebagai sumber pangan di Indonesia masih belum optimal dibandingkan sejumlah negara Afrika.
Di balik keragaman pisang lokal yang mencapai lebih dari 300 jenis, tersimpan potensi genetik untuk menghasilkan varietas baru yang lebih tahan penyakit, adaptif terhadap krisis iklim, kaya nutrisi, sampai mampu menghasilkan buah tanpa biji.
Indonesia mempunyai modal genetik yang sangat besar untuk mewujudkan target lima karakter pisang unggul. BRIN mencatat ada 16 subspesies pisang liar di Indonesia.
Kendati mayoritas pisang liar memiliki banyak biji dan daging buah relatif sedikit, karakter genetiknya berpotensi dimanfaatkan dalam program pemuliaan melalui persilangan.
Dengan proses tersebut, Enny berharap memperoleh varietas baru dengan sifat unggul yang bisa dikonsumsi setelah melalui beberapa tahap persilangan.
“Indonesia memiliki kekayaan sumber daya yang sangat besar untuk mendukung pengembangan varietas pisang unggul,” tutur Enny.
Dengan lebih dari 300 jenis pisang lokal, Indonesia memiliki keragaman karakter yang dapat menjadi sumber material penelitian untuk menghasilkan varietas unggul baru.
Baca juga: Ilmuwan Sebut Pohon Pisang Bisa Jadi Kunci Atasi Perubahan Iklim
Kawasan hutan di Pulau Jawa berpotensi menjadi lokasi penemuan pisang liar maupun pisang budidaya unik yang selanjutnya dapat diteliti dan dikembangkan bersama.
Riset pisang BRIN menunjukkan bahwa kekayaan biodiversitas Indonesia dapat menjadi modal strategis untuk menghadapi tantangan pangan di masa depan. Pisang lokal maupun pisang liar yang selama ini belum banyak dimanfaatkan bisa menjadi sumber genetik untuk menghasilkan varietas lebih tangguh dan sesuai kebutuhan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya