KOMPAS.com - Riset terbaru menemukan bahwa keanekaragaman jenis pohon memegang peran penting dalam melindungi hutan dari ancaman cuaca ekstrem yang terus meningkat.
Penelitian ini menganalisis data dari 88.116 petak hutan terpisah di seluruh Amerika Serikat untuk mempelajari dampak cuaca ekstrem majemuk yaitu ketika dua bencana seperti kekeringan dan gelombang panas terjadi secara bersamaan.
Studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications ini dipimpin oleh Universitas Peking di Beijing, China , dan dilakukan oleh tim ilmuwan internasional, termasuk Dr. Hannah White dari Anglia Ruskin University (ARU).
Melansir Phys, Sabtu (5/9/2026) dengan memanfaatkan pengamatan satelit dan data inventarisasi hutan, para peneliti mengamati kemampuan bertahan saat cuaca ekstrem terjadi serta seberapa efektif hutan bangkit kembali setelah bencana berlalu.
Jika penelitian sebelumnya umumnya hanya berfokus pada dampak bencana tunggal seperti gelombang panas saja, kenyataannya cuaca ekstrem jarang terjadi secara terpisah. Akibatnya, hanya mengamati satu jenis bencana berisiko meremehkan bahaya sebenarnya dari perubahan iklim.
Baca juga: Pohon di Hutan Sulit Beradaptasi saat Hadapi Kekeringan Panjang
Riset terbaru menemukan bahwa ketika gelombang panas dan bencana terkait kelembapan terjadi di waktu yang sama, dampaknya tidak hanya bertambah tetapi justru makin parah dan menghasilkan kerusakan yang jauh lebih besar dibanding gabungan dampak bencana secara terpisah.
Sebagai contoh, suhu panas ekstrem dapat memperparah kekeringan dengan meningkatkan penguapan air dan membuat tanaman makin kehabisan air. Sebaliknya, suhu panas yang berpadu dengan kelembapan berlebih seperti tanah yang tergenang air dapat memperburuk kekurangan oksigen pada tanah dan merusak akar pohon.
Dari seluruh 88.116 petak hutan yang diteliti, cuaca ekstrem gabungan ini terjadi setidaknya satu kali antara tahun 2001 hingga 2020. Ketika dihantam oleh kombinasi bencana tersebut, hutan secara umum menunjukkan daya tahan yang lebih lemah serta proses pemulihan yang lebih lambat dibanding saat hanya menghadapi satu jenis bencana saja.
Hal yang paling penting, penelitian ini menemukan bahwa hutan yang memiliki keanekaragaman jenis pohon lebih banyak mampu menghadapi tekanan tersebut dengan jauh lebih baik.
Petak hutan dengan variasi spesies pohon yang lebih kaya mengalami penurunan produktivitas yang lebih kecil saat dihantam cuaca ekstrem gabungan, serta dapat pulih kembali dengan lebih efektif setelahnya.
Baca juga: Kelestarian Hutan Tropis Bergantung pada Aktivitas Mamalia Besar
Temuan ini menunjukkan bahwa keanekaragaman hayati dapat berfungsi sebagai "asuransi biologis", yang membantu hutan menjaga kestabilannya di tengah iklim yang makin tidak menentu.
Hutan adalah salah satu ekosistem paling produktif di Bumi dan sangat penting bagi kelangsungan planet kita. Namun, hutan kini makin sering terpapar cuaca ekstrem yang lebih parah akibat perubahan iklim.
"Penelitian kami, yang menggunakan data survei hutan luas dan pengukuran produktivitas dari satelit, menunjukkan bahwa ketika bencana-bencana ini terjadi bersamaan, dampaknya bisa jauh lebih parah, merusak daya tahan hutan sekaligus menghambat kemampuannya untuk pulih kembali," kata salah satu penulis studi, Dr. White, dosen senior ekologi dan konservasi di Anglia Ruskin University (ARU).
"Meskipun begitu, kami juga menemukan bahwa keanekaragaman hayati memegang peranan kunci dalam menjaga stabilitas hutan. Hutan dengan jenis pohon yang lebih beragam terbukti konsisten berkinerja lebih baik di kondisi yang sulit ini. Temuan kami memiliki implikasi penting bagi proyeksi siklus karbon di masa depan dan membuktikan peran vital keanekaragaman hayati dalam membantu mengurangi dampak perubahan iklim," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya