Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim

Kompas.com, 8 September 2026, 12:52 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Riset terbaru menemukan bahwa keanekaragaman jenis pohon memegang peran penting dalam melindungi hutan dari ancaman cuaca ekstrem yang terus meningkat.

Penelitian ini menganalisis data dari 88.116 petak hutan terpisah di seluruh Amerika Serikat untuk mempelajari dampak cuaca ekstrem majemuk yaitu ketika dua bencana seperti kekeringan dan gelombang panas terjadi secara bersamaan.

Studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications ini dipimpin oleh Universitas Peking di Beijing, China , dan dilakukan oleh tim ilmuwan internasional, termasuk Dr. Hannah White dari Anglia Ruskin University (ARU).

Melansir Phys, Sabtu (5/9/2026) dengan memanfaatkan pengamatan satelit dan data inventarisasi hutan, para peneliti mengamati kemampuan bertahan saat cuaca ekstrem terjadi serta seberapa efektif hutan bangkit kembali setelah bencana berlalu.

Jika penelitian sebelumnya umumnya hanya berfokus pada dampak bencana tunggal seperti gelombang panas saja, kenyataannya cuaca ekstrem jarang terjadi secara terpisah. Akibatnya, hanya mengamati satu jenis bencana berisiko meremehkan bahaya sebenarnya dari perubahan iklim.

Baca juga: Pohon di Hutan Sulit Beradaptasi saat Hadapi Kekeringan Panjang

Saat cuaca ekstrem terjadi bersamaan

Riset terbaru menemukan bahwa ketika gelombang panas dan bencana terkait kelembapan terjadi di waktu yang sama, dampaknya tidak hanya bertambah tetapi justru makin parah dan menghasilkan kerusakan yang jauh lebih besar dibanding gabungan dampak bencana secara terpisah.

Sebagai contoh, suhu panas ekstrem dapat memperparah kekeringan dengan meningkatkan penguapan air dan membuat tanaman makin kehabisan air. Sebaliknya, suhu panas yang berpadu dengan kelembapan berlebih seperti tanah yang tergenang air dapat memperburuk kekurangan oksigen pada tanah dan merusak akar pohon.

Dari seluruh 88.116 petak hutan yang diteliti, cuaca ekstrem gabungan ini terjadi setidaknya satu kali antara tahun 2001 hingga 2020. Ketika dihantam oleh kombinasi bencana tersebut, hutan secara umum menunjukkan daya tahan yang lebih lemah serta proses pemulihan yang lebih lambat dibanding saat hanya menghadapi satu jenis bencana saja.

Keanekaragaman pohon memperingan dampak bencana

Hal yang paling penting, penelitian ini menemukan bahwa hutan yang memiliki keanekaragaman jenis pohon lebih banyak mampu menghadapi tekanan tersebut dengan jauh lebih baik.

Petak hutan dengan variasi spesies pohon yang lebih kaya mengalami penurunan produktivitas yang lebih kecil saat dihantam cuaca ekstrem gabungan, serta dapat pulih kembali dengan lebih efektif setelahnya.

Baca juga: Kelestarian Hutan Tropis Bergantung pada Aktivitas Mamalia Besar

Temuan ini menunjukkan bahwa keanekaragaman hayati dapat berfungsi sebagai "asuransi biologis", yang membantu hutan menjaga kestabilannya di tengah iklim yang makin tidak menentu.

Hutan adalah salah satu ekosistem paling produktif di Bumi dan sangat penting bagi kelangsungan planet kita. Namun, hutan kini makin sering terpapar cuaca ekstrem yang lebih parah akibat perubahan iklim.

"Penelitian kami, yang menggunakan data survei hutan luas dan pengukuran produktivitas dari satelit, menunjukkan bahwa ketika bencana-bencana ini terjadi bersamaan, dampaknya bisa jauh lebih parah, merusak daya tahan hutan sekaligus menghambat kemampuannya untuk pulih kembali," kata salah satu penulis studi, Dr. White, dosen senior ekologi dan konservasi di Anglia Ruskin University (ARU).

"Meskipun begitu, kami juga menemukan bahwa keanekaragaman hayati memegang peranan kunci dalam menjaga stabilitas hutan. Hutan dengan jenis pohon yang lebih beragam terbukti konsisten berkinerja lebih baik di kondisi yang sulit ini. Temuan kami memiliki implikasi penting bagi proyeksi siklus karbon di masa depan dan membuktikan peran vital keanekaragaman hayati dalam membantu mengurangi dampak perubahan iklim," tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Pemerintah
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Pemerintah
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
Pemerintah
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau