Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026

Kompas.com, 9 September 2026, 10:10 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Jumlah sampah plastik yang dihasilkan di seluruh dunia sepanjang tahun 2026 secara resmi telah melebihi kapasitas kemampuan dunia untuk mengelolanya secara aman, menurut temuan para peneliti.

Sepertiga dari seluruh sampah plastik yang dihasilkan tahun ini diperkirakan akan dibuang sembarangan, dibakar, atau menjadi limbah liar.

Para peneliti di organisasi Earth Action For Impact asal Swiss pun menetapkan 6 September 2026 sebagai 'Plastic Overshoot Day' yaitu titik waktu ketika jumlah sampah plastik manusia secara resmi melampaui kapasitas pengelolaan global. Tahun lalu, dunia mencapai batas ini pada tanggal 5 September.

Produksi melebihi kapasitas pengelolaan 

Melansir Edie, Senin (7/9/2026) sekitar 227 juta ton sampah plastik diperkirakan akan dihasilkan tahun ini dengan rata-rata 27,4 kg per orang, yang mencakup sampah kemasan, tekstil, dan rumah tangga.

Baca juga: Sampah Plastik Makanan dan Minuman Dominasi Laut Indonesia

Namun, kapasitas yang ada hanya mampu mengelola 67,3 persen dari sampah plastik tersebut secara layak. Sisanya, sebanyak 72 juta ton plastik, diperkirakan akan berakhir menjadi polusi. Sementara pembakaran plastik, pembuangan sembarangan, serta penumpukan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang buruk masih menjadi masalah global yang serius.

Menurut laporan tersebut, 12 negara bertanggung jawab atas hampir 60 persen sampah plastik dunia yang tidak terkelola dengan baik, yaitu China, India, Rusia, Brasil, Meksiko, Vietnam, Indonesia, Pakistan, Mesir, Amerika Serikat, Nigeria, dan Turki.

Laporan ini juga menentukan tanggal ‘Plastic Overshoot Day’ untuk tiap-tiap negara, tergantung pada kemampuan masing-masing dalam mengelola sampah plastik yang mereka hasilkan.

Misalnya untuk Inggris, Overshoot Day diperkirakan jatuh pada 3 Desember 2026.

Para peneliti memperkirakan sekitar 12,8 persen dari total sampah plastik Inggris akan diekspor ke luar negeri. Hal ini menempatkan Inggris dalam kategori ‘the overloaders’, yaitu kelompok negara penghasil sampah plastik tinggi yang mengekspor sebagian besar limbahnya ke negara lain.

Negara lain yang masuk dalam kelompok ‘overloaders’ antara lain Australia, Denmark, Prancis, Jerman, Islandia, Norwegia, Polandia, Portugal, Spanyol, Swedia, Swiss, Amerika Serikat, dan Singapura.

Laporan tersebut menyimpulkan bahwa meskipun ada sedikit peningkatan dalam pengelolaan sampah global dalam lima tahun terakhir, lonjakan produksi sampah plastik yang terus terjadi pada periode yang sama membuat perbaikan tersebut tidak berdampak berarti.

Perjanjian plastik global

Negara-negara di dunia saat ini sedang menyusun Perjanjian Plastik Global untuk mengakhiri polusi plastik.

Perjanjian ini digadang-gadang sebagai kesempatan langka seumur hidup untuk membuat aturan internasional yang mengikat guna menghentikan polusi plastik pada tahun 2040, perjanjian ini telah dirancang sejak tahun 2022.

Inisiatif ini didukung oleh lebih dari 330 perusahaan global, lembaga keuangan, dan organisasi nirlaba, termasuk Amcor, Coca-Cola, Mars, Nestlé, PepsiCo, Unilever, dan Walmart.

Perjanjian tersebut awalnya dijadwalkan untuk di finalisasi pada akhir tahun 2024 dalam pertemuan kelima Komite Negosiasi Antarpemerintah (INC-5) di Busan, Korea Selatan.

Baca juga: Tak Lagi Bebas Polusi, Plastik Ditemukan di Lapisan Tanah Murni Antartika

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau