KOMPAS.com - Jumlah sampah plastik yang dihasilkan di seluruh dunia sepanjang tahun 2026 secara resmi telah melebihi kapasitas kemampuan dunia untuk mengelolanya secara aman, menurut temuan para peneliti.
Sepertiga dari seluruh sampah plastik yang dihasilkan tahun ini diperkirakan akan dibuang sembarangan, dibakar, atau menjadi limbah liar.
Para peneliti di organisasi Earth Action For Impact asal Swiss pun menetapkan 6 September 2026 sebagai 'Plastic Overshoot Day' yaitu titik waktu ketika jumlah sampah plastik manusia secara resmi melampaui kapasitas pengelolaan global. Tahun lalu, dunia mencapai batas ini pada tanggal 5 September.
Melansir Edie, Senin (7/9/2026) sekitar 227 juta ton sampah plastik diperkirakan akan dihasilkan tahun ini dengan rata-rata 27,4 kg per orang, yang mencakup sampah kemasan, tekstil, dan rumah tangga.
Baca juga: Sampah Plastik Makanan dan Minuman Dominasi Laut Indonesia
Namun, kapasitas yang ada hanya mampu mengelola 67,3 persen dari sampah plastik tersebut secara layak. Sisanya, sebanyak 72 juta ton plastik, diperkirakan akan berakhir menjadi polusi. Sementara pembakaran plastik, pembuangan sembarangan, serta penumpukan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang buruk masih menjadi masalah global yang serius.
Menurut laporan tersebut, 12 negara bertanggung jawab atas hampir 60 persen sampah plastik dunia yang tidak terkelola dengan baik, yaitu China, India, Rusia, Brasil, Meksiko, Vietnam, Indonesia, Pakistan, Mesir, Amerika Serikat, Nigeria, dan Turki.
Laporan ini juga menentukan tanggal ‘Plastic Overshoot Day’ untuk tiap-tiap negara, tergantung pada kemampuan masing-masing dalam mengelola sampah plastik yang mereka hasilkan.
Misalnya untuk Inggris, Overshoot Day diperkirakan jatuh pada 3 Desember 2026.
Para peneliti memperkirakan sekitar 12,8 persen dari total sampah plastik Inggris akan diekspor ke luar negeri. Hal ini menempatkan Inggris dalam kategori ‘the overloaders’, yaitu kelompok negara penghasil sampah plastik tinggi yang mengekspor sebagian besar limbahnya ke negara lain.
Negara lain yang masuk dalam kelompok ‘overloaders’ antara lain Australia, Denmark, Prancis, Jerman, Islandia, Norwegia, Polandia, Portugal, Spanyol, Swedia, Swiss, Amerika Serikat, dan Singapura.
Laporan tersebut menyimpulkan bahwa meskipun ada sedikit peningkatan dalam pengelolaan sampah global dalam lima tahun terakhir, lonjakan produksi sampah plastik yang terus terjadi pada periode yang sama membuat perbaikan tersebut tidak berdampak berarti.
Negara-negara di dunia saat ini sedang menyusun Perjanjian Plastik Global untuk mengakhiri polusi plastik.
Perjanjian ini digadang-gadang sebagai kesempatan langka seumur hidup untuk membuat aturan internasional yang mengikat guna menghentikan polusi plastik pada tahun 2040, perjanjian ini telah dirancang sejak tahun 2022.
Inisiatif ini didukung oleh lebih dari 330 perusahaan global, lembaga keuangan, dan organisasi nirlaba, termasuk Amcor, Coca-Cola, Mars, Nestlé, PepsiCo, Unilever, dan Walmart.
Perjanjian tersebut awalnya dijadwalkan untuk di finalisasi pada akhir tahun 2024 dalam pertemuan kelima Komite Negosiasi Antarpemerintah (INC-5) di Busan, Korea Selatan.
Baca juga: Tak Lagi Bebas Polusi, Plastik Ditemukan di Lapisan Tanah Murni Antartika
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya