Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan

Kompas.com, 9 September 2026, 10:30 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Harita Nickel menurunkan sebanyak 2.600 unit reef cube atau terumbu karang buatan ke dasar laut perairan wilayah operasionalnya.

Reef cube yang dirancang khusus untuk memulihkan ekosistem laut itu berbahan baku slag nikel yang merupakan produk sisa dari operasional industri.

‎"Jadi, slag nikel bisa dimanfaatkan, karena non-B3 (bahan beracun dan berbahaya) dan memang sudah melalui uji toksisitas dan sebagainya, ini sudah aman. Ini kami coba menjadi media bagi koral untuk tumbuh dan memang hasil cukup bagus," ujar penulis dan editor buku, tim enviromental marine HSE Harita Nickel, Windy Prayogo, dalam peluncuran dan bedah buku 'Keindahan Laut Pesisir Barat Pulau Obi' di Kompas Institute, Selasa (8/9/2026).

Baca juga: Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam

‎Terumbu karang, yang sangat sensitif terhadap lingkungan sekitarnya, ternyata mampu tumbuh dan menempel dengan baik pada struktur tersebut.

‎"Kalau dia (terumbu karang) tidak cocok, dia tidak mau tumbuh di sana. Nah, ternyata media yang kita buat dengan by product ini cocok. Dan memang dari hasil pantauan kita, monitoring kita, ini pertumbuhan karang bagus," tutur Windy.

‎Selain reef cube, Harita Nickel juga mulai melakukan perbaikan ekosistem pesisir dengan rehabilitasi hutan mangrove dan padang lamun. Sebagai habitat ikan, ekosistem mangrove, padang lamun, dan terumbu karang merupakan ekosistem penting untuk menjaga persediaan ikan bagi masyarakat setempat.

‎Temuan Ikan Endemik 

‎Salah satu pendekatan paling menonjol dari inisiatif ini adalah transformasi masalah limbah industri menjadi solusi ekologis (enrichment dan enhancement). Material slag atau sisa produk peleburan nikel, yang umumnya menjadi beban pengelolaan perusahaan, kini dikonversi menjadi unit terumbu buatan (Reef Cube).

‎Akademisi Kelautan Universitas Padjadjaran, Candra Wirawan mengatakan, langkah ini menciptakan ruang hidup baru di dasar laut. Media Reef Cube memiliki fungsi vital untuk menarik berbagai spesies laut agar datang dan berdiam di area tersebut.

Kunci utama dari inovasi ini adalah kecocokan substrat; apabila suatu media terumbu buatan sesuai dengan karakteristik lingkungan, kumpulan ikan spesifik akan menetap dan secara alami mengundang spesies lain untuk menciptakan satu kesatuan habitat yang unik dan saling terikat.

‎Seiring dengan penambahan kubus-kubus terumbu buatan di dasar laut, jenis spesies ikan yang mendiami kawasan tersebut diproyeksikan akan terus bertambah.

‎

Di perairan sekitar Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, tersimpan kekayaan ekosistem bawah laut yang indah.Manda Firmansyah/Kompas.com Di perairan sekitar Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, tersimpan kekayaan ekosistem bawah laut yang indah.

‎Kondisi lingkungan yang sehat ditandai dengan semakin tingginya indeks keanekaragaman hayati. Menurut Candra, perairan Obi telah membuktikan hal tersebut melalui kehadiran berbagai biota yang saat ini menjadi fokus konservasi oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Kehadiran ikan-ikan ini menjadi tolok ukur penting bagi perusahaan untuk terus mengevaluasi dan meningkatkan kesehatan terumbu karang di masa mendatang.

‎Berdasarkan buku 'Keindahan Laut Pesisir Barat Pulau Obi', terdapat beberapa penemuan jenis ikan yang menjadi indikasi kuat dari pulihnya ekosistem tersebut. 

‎Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Beginer Subhan, mengatakan potensi penemuan fauna endemik di area Obi masih sangat terbuka lebar.

Terdapat kemungkinan besar untuk menemukan spesies unik seperti hiu berjalan, yang sebarannya baru-baru ini telah dipublikasikan.

Baca juga: Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?

Spesies hiu memiliki keterikatan habitat yang sangat erat dengan ekosistem terumbu karang, padang lamun, dan area mangrove. Upaya penemuan spesies nokturnal tersebut umumnya memerlukan aktivitas penyelaman di malam hari.

‎"Spesies endemik ini sebenarnya mungkin kemungkinan besar itu ada ya, salah satunya tadi dari penelitian kami ya tentang hiu berjalan ya. Informasinya itu memang harus menyelamnya malam," ujar Beginer.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
Pemerintah
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
Swasta
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau