Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap

Kompas.com, 11 September 2026, 10:43 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber ESG News

KOMPAS.com - Thailand akan meluncurkan program panel surya atap bernilai 1,52 miliar dolar AS (sekitar Rp26,66 triliun) pada pertengahan Oktober.

Program ini bertujuan mengubah rumah tangga menjadi produsen listrik skala kecil sekaligus melindungi mereka dari fluktuasi harga energi.

Melansir ESG News, Rabu (9/9/2026) Menteri Keuangan sekaligus Wakil Perdana Menteri Ekniti Nitithanprapas menyampaikan bahwa pemerintah pada tahap awal menargetkan program ini dapat menjangkau 1 juta rumah tangga.

Kementerian Dalam Negeri bahkan sedang mempertimbangkan untuk menaikkan target tersebut hingga 1,5 juta rumah tangga.

Setiap rumah tangga yang memenuhi syarat akan menerima subsidi sebesar 1.520 dolas AS (sekitar Rp26,66 juta) per pemasangan. Pemerintah juga akan membebaskan pajak untuk komponen panel surya impor tertentu guna menekan biaya di seluruh rantai pasok pemasangan.

Atasi hambatan pemasangan panel surya

Program ini mengatasi salah satu hambatan utama masyarakat dalam memasang panel surya, yaitu besarnya biaya modal awal. Pemerintah Thailand berencana menggerakkan bank-bank milik negara untuk memberikan pembiayaan bagi rumah tangga yang berpartisipasi.

Baca juga: Dampak Ekspansi Panel Surya China, Keanekaragaman Burung Turun

"Masyarakat yang tidak memiliki uang tunai dalam jumlah besar untuk berinvestasi tidak perlu khawatir. Kami akan melibatkan lembaga keuangan milik negara ke dalam program ini untuk menanggung investasi awal. Pihak otoritas listrik akan membeli listrik yang dihasilkan, dan pendapatan dari penjualan listrik tersebut akan langsung digunakan untuk memotong cicilan ke bank. Artinya, masyarakat mungkin tidak perlu mengeluarkan modal sendiri sama sekali," jelas Wakil Perdana Menteri Ekniti Nitithanprapas.

Skema ini menghubungkan subsidi pemerintah, pinjaman dari bank negara, dan jaminan pembelian listrik. Pendekatan ini dapat memperluas akses panel surya hingga ke masyarakat luas, tidak hanya terbatas pada pemilik rumah mampu yang bisa membeli sistem tenaga surya sendiri.

Bagi para eksekutif dan investor, program yang didukung pemerintah ini membuka peluang bisnis besar di pasar perumahan mulai dari kebutuhan instalasi, penyediaan peralatan, hingga layanan perawatan.

Keberhasilannya akan sangat bergantung pada syarat pinjaman, kecepatan proses penyambungan ke jaringan listrik, serta harga beli listrik yang ditetapkan oleh perusahaan listrik negara.

Rumah tangga jadi produsen energi

Pemerintah ingin agar warga yang berpartisipasi dapat menghasilkan listrik untuk kebutuhan mereka sendiri, lalu menjual kelebihan listriknya ke jaringan listrik nasional. Langkah ini dapat menekan tagihan bulanan warga sekaligus memberikan penghasilan tambahan.

Perkiraan awal pemerintah menunjukkan bahwa rumah tangga yang memasang sistem panel surya berkapasitas 5 kilowatt dan memiliki penggunaan listrik relatif rendah bisa menghasilkan pendapatan sekitar 30 dolar AS (sekitar Rp526.260) per bulan dari penjualan kelebihan listrik.

Panel surya umumnya beroperasi selama 25 hingga 30 tahun, sehingga berpotensi memberikan penghasilan jangka panjang setelah biaya pinjaman lunas.

Bagi rumah tangga dengan konsumsi listrik tinggi, keuntungan terbesar didapat dari penghematan tagihan bulanan daripada hasil penjualan listrik. Perbedaan pola konsumsi ini akan memengaruhi penentuan ukuran sistem panel surya, jangka waktu pelunasan, serta keuntungan finansial bagi tiap pelanggan.

Subsidi dari pemerintah baru akan dibayarkan setelah otoritas listrik menyelesaikan penyambungan sistem panel surya ke jaringan listrik nasional. Setiap hak subsidi juga wajib terhubung dengan satu pemilik meteran listrik. Aturan ketat ini dibuat untuk mencegah pengajuan palsu dan pembayaran pada sistem yang belum atau tidak beroperasi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau