Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 11 September 2026, 16:00 WIB
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

KOMPAS.com - Banyak perusahaan saat ini mendorong pertumbuhan bisnis yang pesat dan adaptasi operasional serba digital. Namun, di balik itu muncul satu pertanyaan mendasar apakah kondisi kerja yang ada sudah benar-benar aman dan adil bagi manusia di dalamnya?

Aturan etika dan fasilitas pelaporan pelanggaran (whistleblowing system) mungkin sudah tercetak rapi di buku panduan karyawan. Kendati demikian, dalam praktiknya, banyak pekerja memilih diam karena ragu akan rasa aman dan kepastian tindakan dari manajemen.

Kesenjangan antara komitmen di atas kertas dan realitas di lapangan ini dipotret secara lugas dalam temuan riset terbaru PPM Manajemen.

Riset melibatkan 282 responden dari 173 organisasi di lebih dari 20 sektor menunjukkan bahwa 98,6 persen karyawan menempatkan kejujuran sebagai nilai inti (core value). Ironisnya, baru 15,8 persen organisasi benar-benar memiliki sistem antikorupsi terstandar.

Masalah lainnya terlihat pada efektivitas saluran pengaduan. Sebanyak 56,3 persen karyawan mengonfirmasi mekanisme pelaporan pelanggaran sudah tersedia di tempat kerja. Namun, hanya sekitar 55-60 persen merasa cukup aman untuk betul-betul menggunakannya.

Pemaparan data riset tersebut menjadi bagian dari peluncuran kemitraan strategis Global Ethics Forum (GEF) 2026 di Jakarta (9/9/2026).

Perhelatan yang diinisiasi Yayasan Dharma Etika Madani (Yadema) bersama Globethics ini dijadwalkan berlangsung di Sanur, Bali, pada 20–22 Oktober 2026 mengusung tema “Responsible Governance in a Fragmented World: Ethical Pathways to Human Flourishing in Business, Technology and Policy”.

Ajang ini menjadi catatan sejarah karena untuk pertama kalinya forum etika global tersebut diselenggarakan di kawasan Asia Timur dan Pasifik, dengan Indonesia bertindak sebagai tuan rumah.

Dalam peluncuran tersebut, GEF 2026 menggandeng sepuluh mitra dari pelbagai sektor mulai dari PPM Manajemen, National Geographic Indonesia, TribunNetwork, CNN Indonesia, PT Telkom Indonesia, UNESCO Office Jakarta, Rotary Sentul Peace Club Indonesia, Universitas Udayana, Universitas Hindu Indonesia, hingga Universitas Gadjah Mada.

Mengukur Etika dari Kesejahteraan Karyawan

Guna membedah persoalan etika secara lebih mendalam, riset terpisah PPM Manajemen dengan sampel 444 responden mengembangkan kerangka ETHOZ.

Pendekatan ini menguji dua indikator utama, yakni Ethical Climate and Health Indicator (ECHI) untuk mengukur penerapan etika organisasi secara terukur, serta Human Centered Organization (HCO) untuk melihat sejauh mana desain tempat kerja mendukung karyawan tumbuh dan berkelanjutan.

Head of Corporate Strategy and Value Creation PPM Manajemen, Aries Heru Prasetyo menegaskan penerapan etika di dalam korporasi tidak bisa lagi hanya dibebankan pada komitmen moral individu, melainkan harus diwujudkan dalam sistem dan desain kerja nyata.

“Sebuah organisasi tidak bisa meminta orang berperilaku etis tanpa melihat kondisi tempat mereka diminta bekerja," tegasnya.

"Riset kami menunjukkan bahwa nilai-nilai kemanusiaan sangat berpengaruh pada bagaimana pekerjaan dirancang, dan rancangan kerja itulah yang menentukan apakah orang bisa tumbuh di dalamnya,” ujar Aries.

Senada dengan hal tersebut Wakil Presiden Globethics sekaligus pendiri Yadema, Assoc. Prof. Dicky Sofjan. Dia menyampaikan kemitraan lintas sektor ini menjadi langkah krusial menjawab tantangan tata kelola yang makin kompleks di tengah ketidakpastian global.

“Kerja sama ini adalah bukti bahwa etika bukan hanya wacana akademis, melainkan komitmen bersama untuk menciptakan tata kelola yang bertanggung jawab dan berdampak nyata bagi masyarakat,” tegasnya.

Dari data riset dan pandangan para pakar tersebut, dapat ditarik konklusi penting bagi dunia industri di mana keberlanjutan bisnis tidak akan pernah tercapai jika etika hanya berhenti sebagai dokumen formalitas atau pemenuhan aturan administratif.

Kesenjangan antara ketersediaan sistem pelaporan dengan rasa aman karyawan membuktikan bahwa tantangan terbesar tata kelola saat ini terletak pada keberanian korporasi menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan transparan.

Baca juga: Harpelnas 2026, Perusahaan Diminta Manfaatkan Teknologi demi Layanan Relevan

Ketika perusahaan mampu merancang kondisi kerja yang melindungi nilai-nilai kemanusiaan, perilaku etis akan tumbuh menjadi budaya.

Pada akhirnya, tata kelola yang beretika bukan hanya membentengi organisasi dari risiko korupsi, melainkan menjadi fondasi nyata bagi pertumbuhan ekonomi yang adil dan berdampak panjang.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Pemerintah
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Pemerintah
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
Pemerintah
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau