Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru

Kompas.com, 11 September 2026, 19:10 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Asap rokok elektrik (vape) tidak hanya mengganggu orang-orang yang melintas, tetapi juga dapat membahayakan lingkungan secara aktif, menurut sebuah studi baru.

Melansir Phys, Kamis (10/9/2026) sisa cairan (e-liquid) pada vape nikotin buangan mengandung kadar timbal dan logam berat lainnya yang sangat tinggi, ungkap para peneliti dalam jurnal Environmental Monitoring and Assessment.

Tak hanya itu saja, pada vape sekali pakai terdapat baterai, sirkuit elektronik, dan plastik dalam satu wadah ringkas yang sangat sulit dibongkar dan didaur ulang, jelas peneliti.

"Penggunaan vape memicu dua masalah sekaligus," kata John Scott, ilmuwan pencegahan pencemaran di University of Illinois Urbana-Champaign.

"Pertama, ini adalah masalah sampah padat dan kedua, ini adalah masalah kesehatan. Orang-orang bilang vape adalah alternatif yang lebih baik daripada rokok konvensional. Padahal bahayanya sama saja, bahkan bisa lebih buruk," ungkapnya lagi.

Baca juga: Filter Rokok Turut Merusak Lingkungan lewat Limbah, Polusi, dan Emisi

Kandungan timbal yang tinggi

Dalam penelitian ini, para peneliti mengumpulkan perangkat bekas di toko-toko vape di Inggris dan Amerika Serikat. Banyak dari toko ini menumpuk perangkat bekas karena tidak ada sistem yang jelas untuk pembuangannya secara benar.

Hasil analisis menunjukkan bahwa cairan yang diambil dari beberapa vape bekas mengandung kadar timbal yang sangat tinggi, termasuk salah satu yang tertinggi yang pernah dilaporkan dalam penelitian rokok elektrik.

Kandungan timbal tersebut bukan berasal dari komponen keras perangkat, seperti sambungan solder atau elemen pemanas, dalam jumlah yang bisa menjelaskan tingkat kontaminasi tersebut. Cairan itu sendiri yang tampaknya menjadi sumber utama timbal.

Sebagai tindak lanjut, tim peneliti membeli sejumlah kecil vape baru yang belum dipakai dan mengujinya juga. Hasilnya ternyata sama dengan vape bekas, yang menunjukkan bahwa kandungan logam berat memang sudah ada sejak awal.

Meski begitu, peneliti belum menguji secara langsung apakah logam dalam cairan vape tersebut ikut terbawa ke dalam asap yang dihirup penggunanya atau apakah ada logam yang masuk ke paru-paru saat pemakaian normal.

Proses daur ulang yang sulit

Scott menambahkan, membongkar perangkat ini untuk membantu proses daur ulang juga terbukti sangat sulit.

"Melepaskan baterai dari benda-benda ini benar-benar sangat sulit, karena banyak di antaranya yang hampir tidak bisa dibuka," kata Scott.

Baca juga: Sampah Puntung Rokok Berpotensi Berubah Jadi Mikroplastik

Di Inggris, vape bekas yang dibuang sering kali memicu kebakaran di fasilitas pengolahan sampah akibat baterainya yang remuk dan terbakar saat tertekan.

"Membuat baterai yang mudah dilepas dapat menjadi solusi untuk mencegah masalah kebakaran tersebut, sehingga baterainya pun bisa didaur ulang," jelas Scott.

Tim peneliti menyimpulkan bahwa vape sekali pakai tidak hanya berisiko mencemari air tanah dengan logam berat, tetapi juga akan terus menambah tumpukan sampah padat di tempat pembuangan akhir (TPA).

Desain produk yang lebih baik dapat membantu mengatasi masalah ini, seperti baterai yang mudah dilepas, penggunaan plastik yang bisa didaur ulang, serta membuat perangkat yang dapat diisi ulang daripada yang sekali pakai.

"Dengan makin populernya rokok elektrik, disarankan agar cairan vape secara umum termasuk yang digunakan pada perangkat isi ulang diawasi dan diatur dengan lebih ketat terkait kandungan zat berbahaya seperti logam," tutup para peneliti.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Pemerintah
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Pemerintah
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
Pemerintah
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau