Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi

Kompas.com, 11 September 2026, 19:17 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

Sumber CNA

KOMPAS.com - Badan pemantau iklim Eropa Copernicus menyatakan pada Kamis (10/9/2026) bahwa bulan Agustus merupakan bulan terpanas yang pernah dicatat di seluruh dunia dan memperingatkan bahwa kondisi bisa memburuk seiring makin kuatnya pola El Niño yang tak pernah terjadi sebelumnya.

Suhu global di darat dan laut melonjak ke titik tertinggi sepanjang sejarah pada bulan Agustus, memuncaki musim panas ekstrem yang diwarnai gelombang panas dan kebakaran hutan, menjadikannya musim panas terpanas dalam catatan untuk Eropa Barat dan wilayah utama Amerika Serikat.

Melansir CNA, Copernicus menyebutkan rata-rata suhu udara global pada bulan Agustus mencapai 16,82 derajat atau memecahkan rekor bulanan sebelumnya yang tercatat pada Juli 2023.

Pemantau EU tersebut menganggap kedua bulan ini berada di tingkat tertinggi yang seimbang karena selisihnya yang sangat tipis.

Pengamatan Copernicus mencatat data sejak tahun 1940, tetapi bukti dari sampel es, lingkaran pohon, dan fosil terumbu karang memperlihatkan kondisi iklim saat ini jauh lebih parah dibandingkan masa lalu.

Baca juga: PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia

"Manusia tidak pernah merasakan suhu sepanas hari ini setidaknya dalam 100.000 tahun terakhir," kata Samantha Burgess dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts, lembaga yang mengawasi Copernicus.

Musim panas yang tak biasa

Musim panas yang tidak biasa ini juga membuat suhu permukaan laut melonjak ke rekor tertinggi selama tiga bulan berturut-turut, menurut Simon van Gennip dari Mercator Ocean International.

Gelombang panas laut terus terjadi di beberapa wilayah perairan selama lebih dari 60 hari, memperlihatkan betapa aneh dan bertahannya kondisi ekstrem ini.

Suhu permukaan laut global mencatatkan rekor harian tertinggi sepanjang sejarah pada bulan Agustus, seimbang dengan catatan bulan terpanas untuk lautan yang pernah direkam.

Copernicus menyatakan pendorong utamanya adalah pemanasan global akibat pembakaran batu bara, minyak, dan gas, serta kenaikan suhu yang tajam di Samudra Pasifik, tempat fenomena El Nino besar mulai mengumpulkan kekuatan.

Kepala iklim PBB, Simon Stiell juga menegaskan buktinya sudah tidak bisa dibantah lagi bahwa inilah dampak buruk dari ketergantungan manusia terhadap bahan bakar fosil.

Peristiwa El Nino sendiri ditandai dengan suhu air Pasifik yang jauh lebih hangat dari biasanya, tetapi fenomena ini memicu perubahan besar pada curah hujan dan angin secara global, sehingga meningkatkan risiko cuaca ekstrem ribuan mil jauhnya.

Para pemrakiraan cuaca dunia memprediksi bahwa fenomena tahun ini akan mencapai puncaknya pada akhir tahun dengan tingkat keparahan yang belum pernah terlihat di era modern.

Copernicus menyebutkan dampaknya sudah mulai terasa di Indonesia, di mana musim kemarau yang panjang dan terik memicu kebakaran hutan yang menghanguskan sebagian besar wilayah Pulau Kalimantan.

Namun, para ilmuwan iklim menyatakan bahwa kondisi terburuk masih belum terjadi dan cuaca panas ekstrem di bulan Agustus ini barulah pembukaan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau