Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perdagangan Global Menyumbang 35 Persen Emisi Karbon UE pada 2023

Kompas.com, 15 September 2026, 15:59 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

Sumber Euronews

KOMPAS.com - Uni Eropa sedang berusaha keras mengurangi emisi di dalam negerinya sendiri.

Namun, menurut data dari European Climate Foundation (ECF) dan konsultan iklim Matière, sebanyak 35 persen dari total jejak karbon Uni Eropa pada tahun 2023 justru dihasilkan di luar negeri.

Jejak karbon tersebut didapat karena adanya perbedaan antara tempat barang dikonsumsi dan tempat barang tersebut dibuat. Dalam hal ini, Eropa mengimpor atau mengonsumsi barang dari negara lain.

Melansir Euro News, Selasa (8/9/2026) angka tersebut pun menjadi permasalahan karena UE telah berinvestasi sangat besar untuk membersihkan emisi pabrik, pembangkit listrik, dan mobil di dalam negerinya, tetapi mereka masih terus mengonsumsi barang-barang yang proses produksinya menghasilkan emisi besar di negara lain.

Data baru dari Traded Emissions Tracker mengungkapkan bahwa di Irlandia, Swedia, Austria, Siprus, Malta, dan Spanyol, barang-barang impor menyumbang lebih dari 40 persen dari total jejak karbon nasional mereka pada tahun 2023. Itu di luar perdagangan antarnegara anggota Uni Eropa.

Baca juga: Gelombang Panas Melanda, Pasokan Energi Surya Uni Eropa Naik 17 Persen

Data yang mencakup 45 negara ekonomi utama dari tahun 2010 hingga 2023, menunjukkan bahwa emisi yang berasal dari perdagangan internasional tumbuh lebih cepat daripada emisi global secara keseluruhan, yakni melonjak sebesar 10 poin persentase antara tahun 1995 dan 2023.

Pengurangan emisi dari mitra dagang

Laporan dari ECF dan Matière menunjukkan bahwa kerja sama dengan mitra dagang, seperti China, dapat memberikan pengurangan emisi terbesar, khususnya melalui standar produk yang dipakai bersama.

Hubungan Uni Eropa dan China bukan hanya soal ketergantungan Eropa pada panel surya, baterai, kendaraan listrik, mesin, atau bahan mentah penting dari China. Hubungan ini juga menyangkut karbon tersembunyi yang ada di dalam rantai pasok untuk menopang konsumsi warga Eropa.

Laporan tersebut mengungkapkan bahwa menyelaraskan aturan iklim antara Uni Eropa dan China untuk produk-produk dagang dapat memengaruhi arus perdagangan yang menyumbang sekitar 7 persen dari emisi global, serta hampir sepertiga dari seluruh emisi yang berkaitan dengan perdagangan internasional.

"Kerja sama internasional berkemungkinan besar memberikan potensi terbesar untuk memangkas emisi yang berkaitan dengan perdagangan. Uni Eropa dapat mendukung mitra dagangnya untuk membersihkan emisi produksi mereka, serta bekerja sama dengan negara-negara ekonomi utama lainnya untuk menetapkan standar lingkungan bersama," kata pihak ECF dan Matière.

Menurut Komisi Eropa, China menyumbang 27,8 persen dari emisi gas rumah kaca global yang terkait dengan konsumsi pada tahun 2023, dibandingkan dengan Uni Eropa yang menyumbang 7,8 persen.

Penyelarasan aturan iklim seperti ini bisa jadi jauh lebih ampuh daripada harus memeriksa kandungan karbon dari setiap barang impor satu per satu di perbatasan.

Sebagai alternatif, laporan tersebut menyarankan agar para pembuat undang-undang Uni Eropa mempermudah pengembalian pabrik dan proses produksi ke wilayah Eropa sendiri.

Namun, laporan itu menegaskan bahwa memindahkan produksi kembali ke dalam negeri tidak otomatis menjadi kemenangan bagi lingkungan. Jika pabrik-pabrik di Eropa sendiri masih menghasilkan banyak karbon, pemindahan tersebut hanya sekadar memindahkan lokasi polusi, bukan menghilangkannya.

Baca juga: Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia

Menekan emisi lewat regulasi

Uni Eropa sebenarnya sudah mulai menekan emisi dari luar negeri melalui aturan seperti Mekanisme Penyesuaian Perbatasan Karbon (Carbon Border Adjustment Mechanism) yang mengenakan pajak atau harga karbon pada barang-barang impor tertentu.

Selain itu, melalui undang-undang anti-deforestasi Uni Eropa yang rencananya akan berlaku mulai 30 Desember 2027 yang melarang impor komoditas seperti sapi, kakao, kopi, kelapa sawit, karet, kedelai, dan kayu jika proses pengambilannya merusak atau merambah hutan.

Meskipun aturan CBAM dan Peraturan Deforestasi Uni Eropa dapat membantu memasukkan unsur emisi karbon ke dalam aturan perdagangan, laporan berpendapat bahwa kerja sama yang lebih besar dengan negara-negara mitra dagang tetap sangat diperlukan untuk mencapai kemajuan yang nyata.

Hingga saat ini, belum ada satu negara pun yang secara resmi menetapkan target untuk memangkas emisi dari barang impor. Namun, Prancis, Denmark, dan Belanda mulai bergerak ke arah tersebut, yang berpotensi membuka babak baru dalam kebijakan iklim di tingkat nasional.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Pemerintah
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Pemerintah
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
Pemerintah
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau