KOMPAS.com - Emisi dari industri petrokimia, yang sudah menjadi sumber utama karbon dioksida di bumi, dapat melonjak hingga 50 persen pada tahun 2050 jika tidak ada perubahan.
Melansir Earth, Minggu (13/9/2026) kini penelitian baru telah menghasilkan gambaran paling mendalam mengenai dari mana sebenarnya emisi tersebut berasal, hingga ke tingkat pabrik per pabrik.
Studi ini dipimpin oleh Fanran Meng dari School of Chemical, Materials and Biological Engineering di University of Sheffield.
Hingga saat ini, belum ada yang memiliki gambaran menyeluruh dan rinci di tingkat global mengenai emisi petrokimia.
Baca juga: Industri Tambang Indonesia Mulai Adopsi Teknologi Rendah Emisi
Studi ini adalah yang pertama memetakan emisi dalam skala sebesar ini, dengan melacak gas rumah kaca yang dilepaskan oleh lebih dari 37.000 fasilitas produksi dan unit pengolahan di seluruh dunia.
Dengan membagi emisi berdasarkan pabrik, produk, proses pengolahan, hingga tingkat negara, penelitian ini tidak hanya menunjukkan berapa total emisi industri secara keseluruhan, tetapi juga secara tepat memperlihatkan di mana saja emisi tersebut paling banyak terkumpul.
Untuk industri yang sangat luas ini, mengetahui di mana harus bertindak terlebih dahulu dapat menjadi pembeda utama dalam merancang langkah penanganan yang efektif.
Salah satu temuan paling menonjol dari studi ini adalah betapa terpusatnya masalah yang ada. Hanya 10 persen pabrik dari seluruh fasilitas yang dianalisis ternyata menyumbang 53 persen dari total emisi industri ini.
Secara teori, jika kita memperbaiki atau mengganti 10 persen pabrik tersebut, kita sudah menyelesaikan lebih dari separuh masalah emisi industri ini.
Setidaknya ada dua bahan kimia paling menonjol di antara yang lainnya. Etilena dan amonia adalah penyumbang emisi terbesar di antara bahan-bahan kimia utama yang dianalisis oleh para peneliti.
Keduanya adalah bahan dasar kehidupan modern sehari-hari, yang digunakan untuk membuat segala hal mulai dari plastik dan kemasan makanan, hingga pupuk dan produk pembersih rumah tangga.
Hal inilah yang menjelaskan mengapa proses produksinya menghasilkan jejak karbon yang sangat besar.
"Emisi dari industri petrokimia sudah sangat besar, dan penelitian kami menemukan bahwa emisi tersebut diperkirakan akan melonjak hingga 50 persen pada tahun 2050 jika kita tetap memakai cara lama," kata Meng.
Sebagian dari kendala ini bersifat mendasar. Pasalnya, petrokimia bukanlah produk pelengkap semata bahan ini sudah menyatu erat dengan industri manufaktur, pertanian, dan barang kebutuhan sehari-hari manusia modern.
"Sayangnya, mengingat rumitnya industri petrokimia dan peran krusialnya dalam menopang berbagai produk harian masyarakat modern, tidak ada satu solusi ajaib yang bisa menyelesaikan semua masalah secara langsung," tambah Meng.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya