Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Air Hujan Pasca Erupsi Gunung Berapi, Pakar IPB Ingatkan Jernih Belum Tentu Aman

Kompas.com, 15 September 2026, 16:35 WIB
Manda Firmansyah,
Andika Aditia

Tim Redaksi

‎

KOMPAS.com - Erupsi sejumlah gunung berapi di Indonesia berisiko mengancam sumber daya air (SDA) dan ekosistem perairan. Abu vulkanik yang terbawa angin maupun aliran air hujan bisa masuk ke sungai, danau, embung, sumur dangkal, bak penampungan, sampai kolam budi daya.

‎Menurut pakar pencemaran dan ekotoksikologi IPB University, Etty Riani mengatakan, tingkat ancaman abu vulkanik terhadap sumber air bergantung pada ketebalan dan komposisi abu, jarak dari gunung api, volume air, serta kondisi pH dan alkalinitas.

‎“Ancaman abu vulkanik terhadap air, terutama pada sumber air terbuka seperti sungai, danau, embung, sumur dangkal, bak penampungan, dan penampung air hujan tentunya harus diperhatikan,” ujar Etty, dilansir dari IPB University, Senin (14/9/2026).

‎Menurut Etty, erupsi tidak serta-merta menyebabkan air terkontaminasi logam berbahaya. Dampak yang lebih cepat terjadi pada peningkatan kekeruhan dan padatan tersuspensi atau total suspended solids (TSS). Partikel abu yang sangat halus dapat bertahan lama di dalam air, menyumbat saringan, merusak pompa, sekaligus mengurangi efektivitas proses desinfeksi.

Baca juga: Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru

‎Selain itu, abu vulkanik juga mengandung berbagai mineral yang berpotensi melepaskan sulfat, klorida, fluorida, aluminium, besi, mangan, kalsium, magnesium, natrium, dan kalium. Pemeriksaan terhadap unsur toksik, seperti arsenik, timbal, kadmium, dan merkuri juga diperlukan jika abu yang masuk dalam jumlah besar.

‎Etty memperingatkan bahwa air yang tampak jernih belum tentu aman dikonsumsi. Air yang telah mengendap masih mungkin mengandung unsur terlarut. Karena itu, sebaiknya air yang terkena abu dianalisis dan diolah terlebih dahulu.

‎“Merebus air hanya membunuh mikroorganisme, tetapi tidak menghilangkan abu halus, fluorida, garam terlarut, atau logam berat. Bahkan, penguapan selama perebusan berpotensi memekatkan bahan kimia terlarut,” tutur Etty.

‎Ganggu ikan

‎Abu vulkanik juga bisa mengganggu kehidupan ikan. Secara fisik, partikel abu dapat menempel pada insang, menimbulkan peradangan, menghambat pertukaran oksigen, dan memicu stres pernapasan. Kekeruhan tinggi juga mengurangi penetrasi cahaya sehingga fotosintesis fitoplankton dan tumbuhan air menurun.

‎“Jika paparannya sangat tinggi, ikan dapat mengalami gangguan fisiologis, kerusakan jaringan, perubahan perilaku, penurunan pertumbuhan, bahkan kematian,” ucapnya.

‎Kematian langsung, terutama berisiko terjadi pada kolam budi daya yang kecil, dangkal, padat ikan, dan memiliki pergantian air terbatas. Penurunan oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO), perubahan pH secara mendadak, sampai penyumbatan aerator dan pompa bisa memperparah kondisi.

‎Etty menyarankan agar sumur, bak, tandon, dan wadah penyimpanan air ditutup. Air hujan pertama setelah erupsi sebaiknya tidak ditampung. Sedangkan atap dan talang perlu dibersihkan sebelum kembali digunakan. Ia mengimbau masyarakat untuk tidak membuang abu ke selokan, sungai, dan kolam. Jadi, untuk minum dan memasak, kata dia, sebaiknya menggunakan air kemasan atau pasokan resmi.

‎Bagi pembudi daya ikan, Etty merekomendasikan kolam agar ditutup sebagian dengan terpal tanpa menghambat pertukaran udara, aerasi ditingkatkan, serta DO, pH, kekeruhan, suhu, dan perilaku ikan dipantau secara berkala. 

‎“Jika ikan megap-megap atau kehilangan keseimbangan, segera lakukan langkah penyelamatan dan gunakan air pengganti yang telah dipastikan aman,” tutur Etty. 

‎Baca juga: Pertamina Beri Bantuan ke Warga Terdampak Erupsi Gunung Semeru

‎Anjuran

‎Sebelumnya, Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Tjandra Yoga Aditama menyebut, ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah potensi risiko dari tersebarnya abu vulkanik.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Pemerintah
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Pemerintah
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
Pemerintah
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau