KOMPAS.com - Erupsi sejumlah gunung berapi di Indonesia berisiko mengancam sumber daya air (SDA) dan ekosistem perairan. Abu vulkanik yang terbawa angin maupun aliran air hujan bisa masuk ke sungai, danau, embung, sumur dangkal, bak penampungan, sampai kolam budi daya.
Menurut pakar pencemaran dan ekotoksikologi IPB University, Etty Riani mengatakan, tingkat ancaman abu vulkanik terhadap sumber air bergantung pada ketebalan dan komposisi abu, jarak dari gunung api, volume air, serta kondisi pH dan alkalinitas.
“Ancaman abu vulkanik terhadap air, terutama pada sumber air terbuka seperti sungai, danau, embung, sumur dangkal, bak penampungan, dan penampung air hujan tentunya harus diperhatikan,” ujar Etty, dilansir dari IPB University, Senin (14/9/2026).
Menurut Etty, erupsi tidak serta-merta menyebabkan air terkontaminasi logam berbahaya. Dampak yang lebih cepat terjadi pada peningkatan kekeruhan dan padatan tersuspensi atau total suspended solids (TSS). Partikel abu yang sangat halus dapat bertahan lama di dalam air, menyumbat saringan, merusak pompa, sekaligus mengurangi efektivitas proses desinfeksi.
Baca juga: Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Selain itu, abu vulkanik juga mengandung berbagai mineral yang berpotensi melepaskan sulfat, klorida, fluorida, aluminium, besi, mangan, kalsium, magnesium, natrium, dan kalium. Pemeriksaan terhadap unsur toksik, seperti arsenik, timbal, kadmium, dan merkuri juga diperlukan jika abu yang masuk dalam jumlah besar.
Etty memperingatkan bahwa air yang tampak jernih belum tentu aman dikonsumsi. Air yang telah mengendap masih mungkin mengandung unsur terlarut. Karena itu, sebaiknya air yang terkena abu dianalisis dan diolah terlebih dahulu.
“Merebus air hanya membunuh mikroorganisme, tetapi tidak menghilangkan abu halus, fluorida, garam terlarut, atau logam berat. Bahkan, penguapan selama perebusan berpotensi memekatkan bahan kimia terlarut,” tutur Etty.
Abu vulkanik juga bisa mengganggu kehidupan ikan. Secara fisik, partikel abu dapat menempel pada insang, menimbulkan peradangan, menghambat pertukaran oksigen, dan memicu stres pernapasan. Kekeruhan tinggi juga mengurangi penetrasi cahaya sehingga fotosintesis fitoplankton dan tumbuhan air menurun.
“Jika paparannya sangat tinggi, ikan dapat mengalami gangguan fisiologis, kerusakan jaringan, perubahan perilaku, penurunan pertumbuhan, bahkan kematian,” ucapnya.
Kematian langsung, terutama berisiko terjadi pada kolam budi daya yang kecil, dangkal, padat ikan, dan memiliki pergantian air terbatas. Penurunan oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO), perubahan pH secara mendadak, sampai penyumbatan aerator dan pompa bisa memperparah kondisi.
Etty menyarankan agar sumur, bak, tandon, dan wadah penyimpanan air ditutup. Air hujan pertama setelah erupsi sebaiknya tidak ditampung. Sedangkan atap dan talang perlu dibersihkan sebelum kembali digunakan. Ia mengimbau masyarakat untuk tidak membuang abu ke selokan, sungai, dan kolam. Jadi, untuk minum dan memasak, kata dia, sebaiknya menggunakan air kemasan atau pasokan resmi.
Bagi pembudi daya ikan, Etty merekomendasikan kolam agar ditutup sebagian dengan terpal tanpa menghambat pertukaran udara, aerasi ditingkatkan, serta DO, pH, kekeruhan, suhu, dan perilaku ikan dipantau secara berkala.
“Jika ikan megap-megap atau kehilangan keseimbangan, segera lakukan langkah penyelamatan dan gunakan air pengganti yang telah dipastikan aman,” tutur Etty.
Baca juga: Pertamina Beri Bantuan ke Warga Terdampak Erupsi Gunung Semeru
Sebelumnya, Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Tjandra Yoga Aditama menyebut, ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah potensi risiko dari tersebarnya abu vulkanik.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya