Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
CERITA LESTARI

Perempuan di Balik Aktivitas Lapangan Perkebunan Sawit Solok Selatan

Kompas.com, 18 September 2026, 13:39 WIB
Muhammad Rizqan Alfarisi,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

SOLOK SELATAN, KOMPAS.com – Suara mesin terdengar dari area perkebunan PT Kencana Sawit Indonesia (KSI, Wilmar Group) di Solok Selatan. Di antara barisan tanaman kelapa sawit, Yulianti Novera mengendarai mini-traktor (ginga) yang menjadi bagian dari pekerjaannya sehari-hari.

Mengoperasikan alat di tengah perkebunan mungkin bukan pekerjaan yang selama ini identik dengan perempuan. Namun bagi Yulianti, pekerjaan di lapangan tidak semestinya dibedakan berdasarkan jenis kelamin. Selama memahami pekerjaan dan mampu menjalankan tanggung jawab, perempuan pun dapat mengambil bagian dalam aktivitas operasional di perkebunan.

Pengalaman serupa dijalani Yusmi. Bedanya, perempuan berusia 50 tahun itu tidak berada di balik kemudi mini-traktor. Ia bertugas sebagai aplikator pupuk dan pembasmi hama, pekerjaan yang telah dijalaninya selama 14 tahun.

Baca juga: Warga dan Hutan Konservasi, Menjaga Ruang Hidup di Solok Selatan

Keduanya menjalani pekerjaan yang berbeda, tetapi sama-sama bersentuhan langsung dengan aktivitas perkebunan.

Menjalani pekerjaan di lapangan

Bekerja sebagai operator mini-traktor menjadi pengalaman baru bagi Yulianti. Saat perusahaan membutuhkan operator perempuan, ia melihat kesempatan tersebut sebagai tantangan yang layak dicoba.

"Kami mencoba yang belum ada dan ternyata sanggup," ujar Yulianti kepada rekan-rekan media yang mendampinginya.

Yulianti sebelumnya belum pernah mengoperasikan mini-traktor. Ia belajar bersama operator lama, mulai dari medan datar sebelum akhirnya dipercaya mengoperasikan alat tersebut secara mandiri setelah menjalani proses pelatihan sekitar satu minggu.

Yulianti sedang mengoperasikan mini-traktor untuk kebutuhan pengaplikasian pembasmi tanaman liar di sekitar kawasan perkebunan PT KSI pada Kamis (10/9/2026).KOMPAS.com/Muhammad Rizqan Alfarisi Yulianti sedang mengoperasikan mini-traktor untuk kebutuhan pengaplikasian pembasmi tanaman liar di sekitar kawasan perkebunan PT KSI pada Kamis (10/9/2026).

Tantangan terbesar justru datang dari medan perkebunan. Jalan menanjak, turunan, hingga terasan yang sempit membuat Yulianti harus lebih berhati-hati saat mengendalikan mini-traktor.

"Kalau yang menantang itu di terasan. Kadang sempit, jadi payah mengendalikan ginga di situ," katanya.

Meski pekerjaan tersebut sebelumnya lebih banyak dilakukan laki-laki, Yulianti mengatakan dirinya tidak menghadapi kendala khusus karena faktor gender. Rekan kerjanya pun sempat terkejut melihat perempuan mengoperasikan alat tersebut.

"Agak wow lah, karena perempuan belum ada yang bawa ini. Baru kami yang coba," ujar Yulianti.

Di sisi lain, Yusmi sudah jauh lebih lama terbiasa dengan pekerjaan lapangan. Selama 14 tahun, perempuan berusia 50 tahun itu menjalankan tugas sebagai aplikator pupuk dan pembasmi hama, termasuk melakukan aplikasi pada area piringan tanaman.

Baca juga: Cerita Satwa Liar yang Menemukan Ruang Hidup di Hutan Konservasi Solok Selatan

Dalam sehari, Yusmi dapat menangani sekitar 13 hingga 14 hektare lahan. Ia mengatakan kondisi fisiknya tidak menjadi kendala karena sudah terbiasa menjalani pekerjaan tersebut.

"Mungkin sudah biasa jadi masih kuat," kata Yusmi ketika ditanya apakah tubuhnya masih kuat menjalani pekerjaan tersebut.

Bagi Yusmi, pekerjaan itu bukan sekadar aktivitas sehari-hari. Penghasilan yang diperoleh selama bertahun-tahun turut digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai pendidikan anak-anaknya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
Pemerintah
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
Swasta
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau