Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini

Kompas.com, 21 September 2026, 09:57 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Guardian

KOMPAS.com - Penurunan tingkat polusi udara terbukti membuat anak usia balita tumbuh lebih cerdas dan memiliki daya tangkap lebih baik, menurut studi terbaru dari Universitas Columbia di New York.

Selama lebih dari dua dekade, Prof. Frederica Perera dan tim dari Columbia Center for Children’s Environmental Health mengukur tingkat paparan polusi udara pada ibu hamil serta perkembangan anak-anak mereka di lingkungan kurang mampu di Manhattan Utara dan South Bronx. Lebih dari 1.100 anak dievaluasi saat mereka berusia satu, dua, dan tiga tahun.

"Kami menguji kemampuan kognitif anak, termasuk daya ingat dan persepsi sensorik, pemecahan masalah seperti mencocokkan bentuk dan menyusun balok, hingga kemampuan komunikasi berupa bicara dan pemahaman bahasa. Pada tahun-tahun awal penelitian, kami menemukan hubungan nyata antara paparan polusi udara saat masa kehamilan dengan gangguan perkembangan saraf pada anak. Itu adalah kabar buruk," kata Perera dikutip dari Guardian, Jumat (18/9/2026).

Baca juga: Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor

Selama penelitian berlangsung, kualitas udara di pusat kota New York membaik secara drastis. Peraturan udara bersih berhasil mengurangi sebagian emisi polusi dari taksi kota hingga 80 persen pemanas gedung, dan bahan bakar yang lebih bersih mulai digunakan pada bus-bus kota. Polusi partikel halus dan tingkat nitrogen dioksida berkurang separuhnya antara tahun 1998 dan 2016.

Peningkatan skor perkembangan mental

Peneliti pun lantas bertanya-tanya apakah ada hubungan juga antara kualitas udara yang membaik dengan peningkatan skor perkembangan mental pada balita dari waktu ke waktu.

Kabar baiknya, skor perkembangan balita memang meningkat seiring membaiknya kualitas udara. Hal ini terlihat sangat jelas saat anak-anak berusia dua dan tiga tahun, serta pada periode ketika penurunan polusi udara terjadi secara drastis.

Para peneliti juga memperhitungkan faktor-faktor lain yang mungkin memengaruhi perkembangan anak, seperti penurunan drastis jumlah anak yang tinggal dengan perokok (turun dari 34 persen menjadi 18 persen) serta peningkatan tingkat pendidikan ibu, di mana jumlah ibu yang lulus SMA naik sebesar 9 persen.

Studi di New York ini menambah bukti yang terus berkembang bahwa polusi udara adalah masalah yang bisa diatasi, dan kesehatan akan membaik ketika polusi udara berkurang.

Contoh lainnya di Inggris, penerapan kawasan emisi sangat rendah di London diikuti oleh membaiknya kesehatan paru-paru anak-anak serta berkurangnya jumlah anak yang mengalami gangguan fungsi paru-paru.

Bagi orang dewasa di pusat kota London, terjadi penurunan 3 persen pada angka pasien darurat di rumah sakit, termasuk penurunan 8 persen untuk masalah jantung dan 6 persen untuk masalah pernapasan.

Selain itu, kunjungan ke dokter umum untuk masalah jantung dan pernapasan berkurang sekitar 25 persen setelah diterapkannya kawasan udara bersih di Bradford, West Yorkshire.

Baca juga: Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat

Meskipun terjadi perbaikan kualitas udara di New York, Perera menegaskan tidak bisa menyimpulkan bahwa tingkat polusi udara saat ini sudah sepenuhnya aman bagi perkembangan saraf semua anak.

Langkah nyata dalam mengatasi polusi udara membutuhkan kepemimpinan politik yang berani. Hal ini sering kali memicu kontroversi dan kerap dijadikan isu politik yang memecah belah, namun dampaknya terbukti berhasil.

"Kita membutuhkan lebih banyak penelitian seperti ini untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya udara bersih dan kebijakan iklim, sekaligus mendorong para pembuat kebijakan," tambah Perera.

Laporan terbaru dari Program Lingkungan PBB (UNEP) menemukan bahwa langkah terpadu dalam mengatasi polusi udara dan emisi perubahan iklim juga sangat menguntungkan secara ekonomi, dengan rata-rata hasil keuntungan ekonomi sebesar 15 dolar AS untuk setiap 1 dolar AS yang diinvestasikan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
Pemerintah
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
Swasta
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau