Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan

Kompas.com, 21 September 2026, 11:40 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com-Peristiwa tak terduga seperti bencana alam, krisis ekonomi hingga wabah penyakit merampas mata pencaharian warga dan kehidupan mereka.

Gambaran yang menyedihkan itu diperkirakan akan makin memburuk di masa depan akibat perubahan iklim dan situasi dunia yang kian tak menentu.

Namun, melansir Phys, Senin (14/9/2026) analisis baru menegaskan berbagai gejolak, baik akibat alam maupun manusia tidak harus berujung pada meningkatnya kelaparan.

Sebuah penelitian baru yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences membantah anggapan umum bahwa segala hal pasti akan memburuk setelah terjadinya bencana. Sebaliknya, penelitian ini memberikan bukti nyata bahwa hubungan antara bencana dan krisis pangan sebenarnya bisa diputus.

Baca juga: Mengapa Kita Selalu Terlambat Menghadapi Bencana?

Kunci utamanya adalah ketahanan. Secara sederhana, ketahanan adalah kemampuan masyarakat, komunitas, lingkungan, maupun sistem pangan untuk bertahan dan tetap berfungsi dengan baik meskipun dilanda bencana dan gejolak.

Kesiapsiagaan Hadapi Bencana

Menggunakan kumpulan data besar dari puluhan negara di seluruh dunia yang dicatat selama lebih dari 10 tahun, para peneliti internasional menunjukkan bahwa hal yang paling penting saat menghadapi bencana bukanlah seberapa maju suatu negara atau seberapa sering negara tersebut dilanda bencana.

Yang jauh lebih penting adalah seberapa siap negara tersebut dan seberapa besar kapasitas ketahanan yang telah disiapkan.

Para peneliti menemukan beberapa contoh negara, khususnya di Asia yang menunjukkan perbaikan tingkat ketahanan pangan, meskipun negara-negara tersebut dilanda bencana yang lebih parah dibandingkan negara lain di dunia.

"Di tengah meningkatnya bencana dan gejolak seperti perubahan iklim, konflik, dan pandemi, temuan ini sangat penting. Ini membuktikan bahwa krisis pangan bukanlah sesuatu yang tidak bisa dihindari, dan penderitaan dapat dicegah jika suatu negara, khususnya sistem pangannya, benar-benar siap," ujar Chris Béné, penulis utama penelitian ini.

Ciri-ciri sistem pangan yang lebih kuat

Untuk memahami faktor yang membuat suatu negara mampu menjaga ketahanan pangan di tengah krisis dan bencana, para peneliti mengamati negara-negara dengan tingkat pendapatan berbeda.

Mereka menganalisis berbagai faktor, seperti tingkat keparahan bencana, kemampuan pemerintah, kualitas infrastruktur, keharmonisan ekonomi dan sosial, serta ciri khas dari sistem pangan negara tersebut.

Baca juga: APBN Harus Punya Alokasi Khusus Pemulihan dan Penanggulangan Bencana Iklim

Hasil penelitian ini memberikan masukan penting bagi pemerintah yang ingin memperkuat kesiapsiagaan nasional dan ketahanan pangan. Meskipun setiap negara berbeda, ada beberapa prinsip umum yang ditemukan yakni banyaknya sumber pangan, pemerintah yang efektif serta hubungan sosial yang kuat.

"Untuk memperkuat sistem pangan yang tahan bencana, pemerintah, lembaga pembangunan, dan lembaga keuangan harus memprioritaskan peningkatan kemampuan pemerintah dalam mengantisipasi serta merespons bencana," ungkap Jose-Luis Vivero-Pol, salah satu penulis penelitian

"Selain itu, penting untuk mendorong keberagaman sumber pangan, bukan hanya mengejar efisiensi pasokan cepat serta berinvestasi pada kemampuan masyarakat di tingkat rumah tangga dan komunitas untuk melindungi gizi dan aset keluarga," tambahnya.

Di tengah banyaknya kisah duka akibat bencana di berbagai belahan dunia, penelitian ini hadir membawa harapan. Studi ini membuktikan bahwa meski banyak bencana yang tidak bisa diprediksi, dampaknya tetap bisa dikurangi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
Pemerintah
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
Swasta
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau