Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
CERITA LESTARI

Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan

Kompas.com, 22 September 2026, 09:07 WIB
Muhammad Rizqan Alfarisi,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

SOLOK SELATAN, KOMPAS.com – Gelak tawa anak-anak terdengar bersahut-sahutan di sebuah ruangan luas di kawasan perumahan perkebunan kelapa sawit PT Kencana Sawit Indonesia (KSI, Wilmar Group), Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat.

Di satu sudut ruangan, beberapa balita asyik bermain dengan mainan yang tersedia, sementara anak-anak lainnya mengikuti kegiatan bersama pengasuh. Pagi itu, aktivitas mereka berlangsung seperti biasa di Tempat Penitipan Anak (TPA) atau daycare yang disediakan secara gratis bagi para pekerja PT KSI.

Pada saat yang sama, orangtua mereka telah lebih dulu memulai aktivitas pekerjaan. Bagi keluarga pekerja yang memiliki anak usia dini, TPA menjadi salah satu pilihan untuk memastikan anak tetap mendapat pengasuhan selama orang tua bekerja.

Baca juga: Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan

Ketua Komite Women of Working (WoW) PT KSI Herni Zen atau Eni, mengatakan fasilitas TPA mulai dirintis sejak 2008.

Menurut Eni, saat itu pekerja, terutama ibu-ibu yang bertugas di lapangan seperti bagian maintenance dan spraying, kerap kesulitan mencari tempat untuk menitipkan anak selama bekerja.

"Jadi berawal dari tahun 2008, kenapa kita mengadakan TPA ini karena pekerja kita kurang fokus bekerja, terutama yang di lokasi. Pagi dia sudah berangkat, anaknya mau dititipkan ke tetangga-tetangga, sehingga kurang fokus dan tidak nyaman ketika bekerja," ujar Eni saat mendampingi Kompas.com mengunjungi salah satu fasilitas penitipan yang ada.

Kondisi tersebut kemudian mendorong manajemen PT KSI menyediakan TPA yang tersebar di sejumlah divisi perusahaan. Saat ini terdapat tujuh unit TPA yang dapat dimanfaatkan seluruh karyawan dan staf PT KSI tanpa dipungut biaya.

Baca juga: Jejak Karier Wahidah di Balik Kendali Ekskavator Perkebunan Solok Selatan

"Tujuannya kita menjangkau semua pekerja kita. Berangkat dari rumah, mengantar anaknya ke TPA, nanti dia nyaman bekerja, selepas jam kerja bisa dibawa pulang kembali," kata Eni.

Seluruh biaya operasional TPA, termasuk gaji para penjaga atau pengasuh, ditanggung perusahaan. Pada awalnya, pengasuh direkrut dari karyawan perusahaan yang telah lama bekerja.

Beberapa anak terlihat sedang bermain di salah satu fasilitas permainan yang ada di TPA kawasan PT KSI. Dok. PT Kencana Sawit Indonesia Beberapa anak terlihat sedang bermain di salah satu fasilitas permainan yang ada di TPA kawasan PT KSI.

Seiring waktu, perusahaan memprioritaskan pengasuh yang memiliki latar belakang tenaga pendidik. Para pengasuh juga mendapatkan pelatihan agar dapat mendampingi anak dan memberikan kegiatan yang sesuai dengan usia mereka.

Tak hanya tempat penitipan

Bagi anak-anak, berada di TPA bukan berarti hanya menunggu orang tua selesai bekerja. Ada berbagai kegiatan yang mengisi waktu mereka sepanjang hari.

Eni menjelaskan, kegiatan di TPA tidak sekadar memberikan tempat bagi anak selama orang tua bekerja. Anak-anak mengikuti sejumlah aktivitas yang disesuaikan dengan usia mereka, mulai dari bermain, makan, belajar mengenal warna, mewarnai, bernyanyi, hingga mengenal huruf hijaiyah.

Baca juga: Perempuan di Balik Aktivitas Lapangan Perkebunan Sawit Solok Selatan

"Jadi dia datang ke sini tidak hanya datang, tidur, makan, pulang. Jadi ada sedikit ilmu yang diberikan kepada anak. Dia mengenal huruf, mengenal warna, sesuai dengan usia dia," ujar Eni.

Anak-anak yang dititipkan di TPA berusia sekitar 2 hingga 5 tahun. Bagi anak yang sudah mengikuti Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), orang tua mengantarkan mereka ke PAUD terlebih dahulu sebelum kembali dititipkan di TPA setelah kegiatan belajar selesai.

TPA beroperasi pada pagi hari mulai pukul 06.30 hingga 12.00 WIB. Fasilitas kembali digunakan pada pukul 14.00 hingga 17.00 WIB sehingga anak dapat pulang terlebih dahulu ketika orangtua memasuki waktu istirahat.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
Pemerintah
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
Swasta
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau