KOMPAS.com – Menjaga masjid tetap bersih, nyaman, dan siap digunakan untuk berbagai kegiatan menjadi bagian dari keseharian marbot dan pengurus masjid. Pekerjaan tersebut berlangsung ketika jamaah datang untuk beribadah hingga berbagai kegiatan pembinaan dan pelayanan umat selesai digelar.
Peran mereka berjalan beriringan dengan fungsi masjid yang semakin luas di tengah masyarakat. Masjid tidak hanya menjadi tempat menjalankan ibadah, tetapi juga ruang untuk belajar, membangun solidaritas, dan menjalankan berbagai kegiatan pemberdayaan.
Data Sistem Informasi Masjid (Simas) Kementerian Agama Republik Indonesia mencatat lebih dari 710.000 masjid dan mushola terdaftar di seluruh Indonesia.
Di tengah jumlah tersebut, ada banyak marbot dan pengurus yang memastikan aktivitas di lingkungan masjid tetap berjalan. Mereka mengatur berbagai kebutuhan sehari-hari, menjaga fasilitas, membantu kelancaran kegiatan ibadah, hingga melayani jamaah.
Pekerjaan itu tidak selalu terlihat. Meski demikian, keberadaan mereka menjadi bagian dari keseharian masyarakat yang menjadikan masjid sebagai ruang ibadah sekaligus tempat beraktivitas bersama.
Kepala Bidang Penyelenggara Peribadatan Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI) KH Bukhori Sail Attahiri, Lc, MA, yang mewakili Menteri Agama Republik Indonesia sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Dr KH Nasaruddin Umar mengatakan pengabdian para marbot dan pengurus masjid turut menjaga keberlangsungan fungsi masjid di tengah masyarakat.
“Pengabdian para marbot dan pengurus masjid adalah inspirasi yang patut kita teladani bersama. Dari ketulusan mereka, kita diingatkan bahwa terdapat keberkahan dalam setiap upaya kita untuk berlomba-lomba menghadirkan kebaikan bagi umat dan masyarakat,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima oleh Kompas.com pada Selasa (22/9/2026).
Sekretaris Jenderal DMI Dr H Rahmat Hidayat, SE, MT (kiri) bersama General Secretary Director Danone Indonesia Agung Laksamana, (kanan) menyerahkan koper sebagai simbol pelepasan keberangkatan 26 marbot ke Tanah Suci.Pengabdian tersebut kemudian mendapat bentuk apresiasi melalui kesempatan menunaikan ibadah umrah.
Sebanyak 26 marbot dan pengurus masjid dari berbagai daerah di Indonesia diberangkatkan ke Tanah Suci pada tahun ketiga pelaksanaan program. Secara keseluruhan, program ini telah memberangkatkan 70 marbot dan pengurus masjid.
Bagi peserta, perjalanan tersebut menjadi kesempatan yang tidak setiap hari bisa didapatkan. Salah satunya dirasakan Abdul Muaz, peserta dari Bogor yang menjadi perwakilan masjid dari Jawa Barat.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur diberi kesempatan untuk berangkat umroh ke Baitullah. Perjalanan ini menjadi pengalaman yang sangat berarti bagi kami,” kata Abdul.
Ia juga mengapresiasi persiapan yang diberikan selama perjalanan, termasuk kebutuhan telekomunikasi dan keperluan sehari-hari.
“Dengan semua dukungan tersebut, kami bisa berangkat dengan hati yang tenang dan lebih fokus beribadah di Tanah Suci,” lanjutnya.
Pemberangkatan tersebut merupakan hasil kolaborasi AQUA bersama Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI).
Sekretaris Jenderal DMI Dr H Rahmat Hidayat, SE, MT, mengatakan perhatian terhadap marbot dan pengurus masjid menjadi salah satu bagian dari upaya memperkuat ekosistem masjid.
“DMI memiliki perhatian besar untuk mendorong masjid agar semakin berdaya dan mampu menjalankan perannya secara lebih luas di tengah masyarakat,” ujarnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya