Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Biaya 'Siluman' Sisa Makanan Berkuah

Kompas.com, 23 September 2026, 17:55 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Seporsi mangkuk bekas pembeli dengan kecambah, bihun, mi, dan kuah yang masih utuh bertengger di meja ketika tangan sang pedagang bakso sibuk membungkus pesanan dari ojek online yang terus berdatangan.

Ketika saya hendak memesan bakso, sang pedagang mengangkut mangkuk itu ke dapur untuk dicuci dan sisa makanannya dibuang ke saluran air yang terhubung ke selokan di depan warung.

‎"Untuk pentol yang tidak laku masuk ke freezer dan besok masih bisa dijual. Kalau air kuah ya dibuang ke selokan," ujar si pedagang di Jakarta Timur, Minggu (6/9/2026).

Baca juga: Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk Urban Farming Tanaman Anggur

Persoalan sisa makanan tidak hanya dihadapi oleh pedagang kaki lima. Hotel dan restoran pun juga menghadapi persoalan yang sama.

Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Hariyadi Sukamdani mengatakan, sisa makanan berkuah berisiko menambah beban operasional hotel atau restoran untuk pemeliharaan penjebak lemak (grease trap) dan instalasi pengolahan air limbah (IPAL).

Grease trap membutuhkan pemeriksaan, pembersihan, dan pengangkutan lemak secara berkala agar tidak terjadi penyumbatan aliran air.

Sistem IPAL juga perlu pemeliharaan, pengawasan kualitas air limbah dan penggunaan energi, serta kemungkinan penyesuaian proses pengolahan jika beban lemak atau bahan organik lainnya semakin meningkat.

Persoalan dari Makanan yang Dimasak

Berdasarkan riset terbaru Gotong Royong Atasi Susut dan Sisa Pangan di 2030 (GRASP 2030), makanan yang telah siap dikonsumsi menjadi sumber utama food waste. Sayur matang dan masakan berkuah menjadi jenis makanan yang paling banyak terbuang atau sebesar 67 persen.

"Karena dari data formatif, sisa makanan yang banyak terbuang adalah sayur atau makanan berkuah. Kalau untuk masyarakat, tidak spesifik anggota GRASP 2030, makanan berkuah, seperti soup bisa diolah kembali, contohnya kemarin dari chef Unilever diolah menjadi gabin kroket," ujar Executive Director Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD), Indah Budiani, Selasa (15/9/2026).

Humas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Yogi Ikhwan mengatakan, sisa makanan tetap mengandung air yang cukup tinggi, meski tidak berkuah. Air tidak serta merta menghilang ketika makanan dibuang.

Dalam proses penguraian atau pembusukan secara alami, kandungan organik pada sisa makanan mengalami perubahan, sehingga sebagian airnya akan keluar dan berkontribusi terhadap pembentukan air lindi.

Potensi pembentukan lindi tidak hanya berasal dari kuah atau cairan yang secara langsung dibuang bersama sampah, namun juga dari kandungan air pada material organik itu sendiri.

"Semakin besar jumlah bahan organik basah yang masuk ke sistem pengelolaan akhir, semakin besar pula potensi timbulnya lindi. Jika cairan dan sisa makanan basah ikut masuk ke dalam sampah, penanganannya dapat menambah kebutuhan penampungan, pembersihan sarana pengangkutan, serta pengelolaan dan pengolahan lindi," tutur Yogi, Senin, (14/9/2026).

Baca juga: Bank Jakarta Bangun Biodigester Komunal, Olah 500 Kg Sampah Organik per Hari

Sampah organik yang basah cenderung lebih cepat mengalami proses pembusukan, sehingga dapat meningkatkan potensi timbulnya cairan, bau, dan gangguan operasional lainnya. ‎Namun, besaran biaya tambahan dari sisa makanan berkuah membutuhkan data mengenai jumlah sampah organik yang masuk, kadar air, volume dan karakteristik lindi, serta sistem pengumpulan maupun pengolahannya.
‎
"‎Demikian pula, pengaruhnya terhadap kapasitas dan masa pakai TPST Bantargebang tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan jenis sampahnya. Perlu diperhitungkan karakteristik timbulan, kadar air, proses penguraian, pemadatan, serta kapasitas dan kinerja sistem pengelolaan sampah dan lindi di fasilitas tersebut," ucapnya.

Perberat Kinerja RDF

Kadar air dan bahan organik juga memperberat kinerja fasilitas pengolahan sampah untuk diubah menjadi bahan bakar alternatif, refuse derived fuel (RDF) di Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara.

Hal ini karena sampah tercampur antara dari rumah tangga, organik, dimasukkan dalam plastik, ada yang pakai karung, dan sebagainya.

Kondisi sampah yang bercampur aduk menyebabkan biaya operasional proyek mengubah sampah menjadi energi (Waste to Energy/WtE) berbasis proses termal membengkak.

Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB, Pandji Prawisudha mengatakan, sampah dalam kondisi basah cenderung menghasilkan listrik lebih sedikit atau energi semakin rendah ketimbang yang kering karena mudah terbakar.

‎Akademisi dari Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia, Yuki M.A. Wardhana mengatakan, tingginya kadar air berpotensi mempercepat pembentukan metana dan degradasi fraksi organik.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
Pemerintah
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
Swasta
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau