Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ancam Dunia Usaha, Biaya Risiko Krisis Air Capai Rp 7.158 Triliun

Kompas.com, 23 September 2026, 18:45 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Perusahaan-perusahaan memperkirakan potensi kerugian hampir 400 miliar dolar AS atau sekitar Rp7.158 triliun akibat gangguan terkait air di masa depan, sementara banyak organisasi masih belum memiliki sistem untuk mengelola risiko ini di sepanjang rantai pasok mereka.

Hal tersebut terungkap dari analisis lembaga riset CDP terhadap laporan penggunaan air di lebih dari 6.500 perusahaan. Studi ini menemukan bahwa baru seperlima perusahaan yang menjabarkan dampak keuangan akibat masalah air secara terukur.

Saat ini, melansir Edie, Senin (21/9/2026) perusahaan-perusahaan melaporkan kerugian keuangan sebesar 1,4 miliar dolar AS (sekitar Rp25 triliun) akibat masalah air, dan memperkirakan angka ini melonjak hingga 400 miliar dolar AS (Rp7.158 triliun) di masa depan.

Angka tersebut mencakup perkiraan biaya akibat penghentian operasional, risiko regulasi, hingga kebutuhan modal investasi baru.

Baca juga: Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran

CDP juga mencatat bahwa lebih dari sepertiga perusahaan tidak memiliki proses sama sekali untuk menilai maupun mengelola risiko air.

Selain itu, baru 54 persen lembaga keuangan yang menilai risiko dan peluang terkait air pada portofolio investasi mereka.

"Di berbagai sektor mulai dari kecerdasan buatan (AI) dan manufaktur canggih hingga bahan baku penting air makin menjadi isu bisnis strategis yang berdampak langsung pada pertumbuhan dan daya saing," ungkap Sherry Madera, CEO CDP.

"Saat perusahaan mengambil keputusan tentang investasi, pasokan, dan ekspansi, ada satu batasan mendasar yang tidak bisa diselesaikan sekadar dengan memindahkan pabrik. Anda bisa memindahkan lokasi produksi, tetapi Anda tidak bisa memindahkan aliran sungai," paparnya lagi.

Tahun lalu, CDP melaporkan bahwa perusahaan memperkirakan dampak kerugian finansial 339 miliar dolar AS atau sekitar Rp6.066 triliun akibat risiko terkait air hingga tahun 2030. Risiko ini mencakup kekeringan, pencemaran, dan kelangkaan air akibat pengambilan air tanah yang berlebihan.

Risiko Rantai Pasok

Setelah gelombang kekeringan di musim panas, air kini menjadi risiko keamanan utama bagi dunia usaha.

Temuan CDP mengungkapkan adanya potensi risiko senilai 45 miliar dolar AS (sekitar Rp805 triliun) yang mengancam rantai pasok bagian hulu. Meskipun banyak perusahaan mencoba memindahkan atau mendekatkan rantai pasok mereka ke wilayah asal hal tersebut tidak bisa dilakukan pada sumber air.

CDP menemukan bahwa perusahaan-perusahaan di Negara Maju menanggung 60 persen risiko air mereka pada rantai pasok hulu yang berlokasi di Negara Berkembang.

Tahun lalu, tolok ukur Valuing Water Finance Initiative 2025 dari Ceres mencatat bahwa seluruh perusahaan teknologi besar kini telah menetapkan target penghematan air sesuai kondisi wilayah operasional mereka, meningkat dibanding empat dari lima perusahaan pada tahun 2023.

Baca juga: Transisi Energi Hadapi Risiko Krisis Air dan Pelanggaran HAM

Perusahaan-perusahaan juga menunjukkan pengawasan yang lebih kuat di tingkat direksi terhadap risiko air. Sekitar 73 persen perusahaan dalam penilaian tersebut kini memiliki pengawasan resmi dari direksi dan manajemen senior terkait isu air, dan separuh di antaranya menghubungkan bonus eksekutif dengan pencapaian target air.

Namun, seperti temuan laporan CDP, rantai pasok masih menjadi blind spot yang luput dari pengawasan.

Seiring melonjaknya kebutuhan AI, CDP menemukan bahwa perusahaan makin menyadari hubungan antara air dan peluang ekonomi. Lebih dari 7.000 catatan yang menghubungkan air dengan ketahanan serta pertumbuhan bisnis ditemukan dalam laporan keterbukaan perusahaan.

Selain risiko, perusahaan juga melaporkan adanya peluang bisnis terkait air senilai 35 miliar dolar AS (sekitar Rp626 triliun) saat ini, dan memperkirakan peluang masa depan mencapai 925 miliar dolar AS (sekitar Rp16.552 triliun).

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau