KOMPAS.com - Aktivitas penambangan pasir laut berpotensi meningkatkan kekeruhan perairan dan mengganggu ekosistem pesisir, termasuk terumbu karang dan padang lamun.
Dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University, Meutia Samira Ismet, mengatakan, dampak pengerukan pasir laut tidak hanya terjadi di lokasi penambangan.
Ia mencontohkan aktivitas penambangan pasir laut di sekitar Pulau Numbing, Kepulauan Riau. Pengerukan dasar perairan dapat meningkatkan jumlah partikel tersuspensi yang kemudian memengaruhi kondisi perairan di sekitarnya.
Baca juga: Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
“Dengan adanya pengerukan, tingkat partikel tersuspensi akan meningkat dan menyebabkan kekeruhan perairan. Ini tentu dapat berdampak terhadap keberlangsungan ekosistem pesisir, terutama terumbu karang dan lamun,” ujar Meutia, dilansir dari laman resmi IPB University, Rabu (23/9/2026).
Menurut Meutia, meningkatnya kekeruhan dapat mengurangi penetrasi cahaya matahari ke dalam perairan. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu proses fotosintesis organisme yang bergantung pada cahaya, termasuk alga Zooxanthellae yang bersimbiosis dengan karang.
Partikel pasir dan debu yang tersuspensi juga dapat menutupi polip karang sehingga mengganggu kehidupan dan pertumbuhannya.
Gangguan terhadap terumbu karang kemudian dapat berdampak pada organisme lain yang bergantung pada ekosistem tersebut. Penurunan kualitas habitat berpotensi memengaruhi keanekaragaman dan kelimpahan biota laut yang hidup di dalamnya.
Salah satu biota yang memiliki keterkaitan erat dengan ekosistem terumbu karang adalah kerapu sunu.
Meutia menjelaskan, kerapu sunu merupakan ikan karang yang bersifat teritorial sehingga memiliki keterikatan kuat dengan habitatnya.
“Kerapu sunu merupakan ikan karang yang bersifat teritorial yang memiliki keterikatan yang sangat tinggi terhadap wilayah habitatnya. Ketika habitat terganggu, kehidupan dan pertumbuhannya juga dapat ikut terganggu,” tuturnya.
Selain bergantung pada habitat terumbu karang, kerapu sunu merupakan predator tingkat atas yang membutuhkan ketersediaan mangsa dalam ekosistem.
Baca juga: Populasi Ikan Kakatua Menurun, IPB Ingatkan Ancaman bagi Terumbu Karang dan Pesisir
Peningkatan kekeruhan dapat mengganggu kemampuan visual ikan dalam menemukan dan menangkap mangsa. Perubahan kondisi habitat pada akhirnya dapat memengaruhi ketersediaan makanan dan pertumbuhan kerapu sunu.
Menurut Meutia, pengerukan juga berpotensi meningkatkan bahan organik di perairan. Kondisi tersebut dapat mendorong pertumbuhan makroalga secara berlebihan.
Pertumbuhan makroalga yang lebih cepat dibandingkan karang berpotensi mengubah keseimbangan ekosistem dan menutupi terumbu karang.
Perubahan nutrisi perairan juga berpotensi memengaruhi kadar oksigen dan keseimbangan mikroorganisme, termasuk meningkatkan risiko berkembangnya bakteri oportunis seperti Vibrio.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya