Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Aturan Pembelian Hambat Perusahaan Capai Target Energi Bersih

Kompas.com, 23 September 2026, 18:53 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Perusahaan-perusahaan global memperingatkan bahwa hambatan pasar dan aturan pembelian energi terbarukan menghambat kemajuan mereka menuju target 100 persen energi terbarukan, sekaligus gagal melindungi perusahaan dari melonjaknya harga energi yang tidak stabil.

Melansir Edie, Senin (21/9/2026) laporan tahunan terbaru dari RE100 milik Climate Group menemukan bahwa sejumlah perusahaan kesulitan mendapatkan akses energi terbarukan yang aman di beberapa negara, sehingga menghambat mereka mencapai target iklim yang telah lama ditetapkan.

Laporan tersebut mencatat bahwa secara keseluruhan, perusahaan-perusahaan anggota RE100 kini menggunakan 59 persen listrik ramah lingkungan secara global.

Selain itu, 65 persen energi bersih yang dibeli perusahaan-perusahaan tersebut berasal dari proyek-proyek baru yang dibangun dalam 15 tahun terakhir, membuktikan bahwa dunia usaha mampu mendorong permintaan fasilitas energi terbarukan baru.

Baca juga: China Targetkan Produksi Energi Terbarukan Naik 50 Persen pada 2030

Korea Selatan tercatat sebagai pasar dengan hambatan aturan pembelian terbesar bagi perusahaan.

Energi terbarukan hanya menyumbang 12 persen dari total penggunaan energi anggota RE100 di negara tersebut, tidak berubah dari tahun lalu. Sementara itu, persentase perusahaan yang berhasil menggunakan 100 persen energi bersih di Korea Selatan hanya mencapai 5 persen.

Pasar-pasar lain di Asia, termasuk Singapura, Taiwan, dan Jepang, juga menghadapi masalah penyerapan yang serupa.

Tingginya biaya, terbatasnya pasokan, kurangnya pilihan mekanisme pembelian, serta hambatan regulasi menjadi alasan paling umum yang memicu minimnya penggunaan energi bersih oleh perusahaan.

"Perusahaan-perusahaan terkemuka di dunia sangat mendambakan energi terbarukan, dan investasi mereka sedang membentuk masa depan energi baru yang lebih cerdas bagi semua orang. Namun, kemacetan jaringan listrik, batasan regulasi, dan pasar yang tidak efisien membatasi apa yang bisa mereka beli," ungkap CEO Climate Group, Helen Clarkson.

"Pemerintah yang serius ingin melindungi perekonomiannya dari dampak buruk ketidakstabilan bahan bakar fosil harus segera menyingkirkan hambatan-hambatan ini," katanya lagi.

Keberhasilan perusahaan

Kendati hadapi hambatan, laporan juga mengungkapkan bahwa lebih dari 70 anggota RE100 telah melampaui 90 persen penggunaan listrik ramah lingkungan. Perusahaan-perusahaan yang baru saja terverifikasi mencapai 100 persen energi bersih antara lain Asahi, Aviva, K-water, Lloyds, dan Mitie.

Nike juga berhasil memenuhi 100 persen kebutuhan energinya di seluruh dunia menggunakan energi terbarukan untuk pertama kalinya.

Baca juga: Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim

"Di Nike, kami fokus pada bagian rantai pasok yang memberikan dampak terbesar. Itulah mengapa listrik ramah lingkungan menjadi prioritas lingkungan sekaligus peluang bagi rantai pasok kami," papar Chief Sustainability Officer Nike, Cimarron Nix.

"Transisi ke listrik ramah lingkungan membutuhkan kerja sama antar-perusahaan, dan kami bangga bisa berkontribusi bersama pihak lain untuk membangun masa depan energi yang lebih tangguh," tambahnya.

Laporan statistik kapasitas terbaru dari Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA) mencatat bahwa sebanyak 692 GW kapasitas energi terbarukan ditambahkan ke jaringan listrik global pada tahun 2025.

Ini merupakan peningkatan 15,5 persen dibanding tahun sebelumnya sekaligus penambahan tahunan terbesar sepanjang sejarah industri ini.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
Swasta
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
LSM/Figur
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau