KOMPAS.com - Perusahaan-perusahaan global memperingatkan bahwa hambatan pasar dan aturan pembelian energi terbarukan menghambat kemajuan mereka menuju target 100 persen energi terbarukan, sekaligus gagal melindungi perusahaan dari melonjaknya harga energi yang tidak stabil.
Melansir Edie, Senin (21/9/2026) laporan tahunan terbaru dari RE100 milik Climate Group menemukan bahwa sejumlah perusahaan kesulitan mendapatkan akses energi terbarukan yang aman di beberapa negara, sehingga menghambat mereka mencapai target iklim yang telah lama ditetapkan.
Laporan tersebut mencatat bahwa secara keseluruhan, perusahaan-perusahaan anggota RE100 kini menggunakan 59 persen listrik ramah lingkungan secara global.
Selain itu, 65 persen energi bersih yang dibeli perusahaan-perusahaan tersebut berasal dari proyek-proyek baru yang dibangun dalam 15 tahun terakhir, membuktikan bahwa dunia usaha mampu mendorong permintaan fasilitas energi terbarukan baru.
Baca juga: China Targetkan Produksi Energi Terbarukan Naik 50 Persen pada 2030
Korea Selatan tercatat sebagai pasar dengan hambatan aturan pembelian terbesar bagi perusahaan.
Energi terbarukan hanya menyumbang 12 persen dari total penggunaan energi anggota RE100 di negara tersebut, tidak berubah dari tahun lalu. Sementara itu, persentase perusahaan yang berhasil menggunakan 100 persen energi bersih di Korea Selatan hanya mencapai 5 persen.
Pasar-pasar lain di Asia, termasuk Singapura, Taiwan, dan Jepang, juga menghadapi masalah penyerapan yang serupa.
Tingginya biaya, terbatasnya pasokan, kurangnya pilihan mekanisme pembelian, serta hambatan regulasi menjadi alasan paling umum yang memicu minimnya penggunaan energi bersih oleh perusahaan.
"Perusahaan-perusahaan terkemuka di dunia sangat mendambakan energi terbarukan, dan investasi mereka sedang membentuk masa depan energi baru yang lebih cerdas bagi semua orang. Namun, kemacetan jaringan listrik, batasan regulasi, dan pasar yang tidak efisien membatasi apa yang bisa mereka beli," ungkap CEO Climate Group, Helen Clarkson.
"Pemerintah yang serius ingin melindungi perekonomiannya dari dampak buruk ketidakstabilan bahan bakar fosil harus segera menyingkirkan hambatan-hambatan ini," katanya lagi.
Kendati hadapi hambatan, laporan juga mengungkapkan bahwa lebih dari 70 anggota RE100 telah melampaui 90 persen penggunaan listrik ramah lingkungan. Perusahaan-perusahaan yang baru saja terverifikasi mencapai 100 persen energi bersih antara lain Asahi, Aviva, K-water, Lloyds, dan Mitie.
Nike juga berhasil memenuhi 100 persen kebutuhan energinya di seluruh dunia menggunakan energi terbarukan untuk pertama kalinya.
Baca juga: Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
"Di Nike, kami fokus pada bagian rantai pasok yang memberikan dampak terbesar. Itulah mengapa listrik ramah lingkungan menjadi prioritas lingkungan sekaligus peluang bagi rantai pasok kami," papar Chief Sustainability Officer Nike, Cimarron Nix.
"Transisi ke listrik ramah lingkungan membutuhkan kerja sama antar-perusahaan, dan kami bangga bisa berkontribusi bersama pihak lain untuk membangun masa depan energi yang lebih tangguh," tambahnya.
Laporan statistik kapasitas terbaru dari Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA) mencatat bahwa sebanyak 692 GW kapasitas energi terbarukan ditambahkan ke jaringan listrik global pada tahun 2025.
Ini merupakan peningkatan 15,5 persen dibanding tahun sebelumnya sekaligus penambahan tahunan terbesar sepanjang sejarah industri ini.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya