KOMPAS.com - Tujuh dari sembilan batas daya tahan yang menjaga kesehatan Bumi kini telah melampaui ambang batas aman, dan kondisinya menunjukkan tren yang kian memburuk.
Hal ini terungkap dalam laporan Planetary Health Check 2026 yang dirilis oleh Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK), Jerman.
Melansir Down to Earth, Selasa (22/9/2026) tujuh batas aman yang telah terlampau tersebut meliputi perubahan iklim, rusaknya keanekaragaman hayati, gangguan siklus kimia alam, masuknya zat pencemar baru, alih fungsi lahan, krisis air bersih, serta keasaman air laut.
Dari tujuh poin ini, empat poin pertama sudah berada di tingkat risiko sangat tinggi sementara tiga sisanya berada di tingkat risiko yang terus meningkat.
Hanya ada dua batas aman yang masih terjaga, yaitu polusi partikel udara dan lapisan ozon pelindung Bumi. Meski demikian, polusi partikel udara di beberapa daerah seperti Asia Selatan sudah mulai melampaui batas aman.
Sementara itu, pemulihan lapisan ozon yang melindungi Bumi dari sinar ultraviolet juga mulai melambat dan jalurnya masih berada di bawah tingkat pertengahan abad ke-20.
Baca juga: Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Selama sekitar 11.700 tahun yang dikenal sebagai era Holosen manusia hidup dan berkembang pesat dalam batas-batas kondisi Bumi yang aman. Di era inilah manusia mulai mengenal sistem pertanian hingga berhasil membangun kota-kota modern dengan teknologi serba canggih.
"Sepanjang era Holosen ini, suhu planet Bumi relatif hangat, pola iklim mudah diprediksi, ketersediaan air bersih dan nutrisi tanah mendukung pertanian, serta ekosistem menyediakan fondasi kuat bagi pangan, permukiman, dan kesejahteraan hidup manusia," tulis laporan tersebut.
Namun, tekanan dari aktivitas manusia yang terus meningkat terutama sejak pertengahan abad ke-20 telah merusak dan melampaui berbagai batas aman tersebut. Tren saat ini bahkan makin memburuk dan berisiko memicu kerusakan permanen pada sistem penopang kehidupan di Bumi.
"Jumlah penduduk, penggunaan energi, produksi industri, pemakaian pupuk kimia, alih fungsi lahan, konsumsi air, transportasi, hingga eksploitasi bahan baku melonjak sangat tajam," tegas para penulis laporan.
Setiap batas daya tahan Bumi diukur menggunakan satu atau dua variabel yang menggambarkan kondisi kesehatan sistem tersebut. Secara keseluruhan, terdapat 13 petunjuk utama yang tersebar di sembilan batas daya tahan planet ini.
Saling keterkaitan antar-sistem ini membuat kerusakan pada satu batas dapat berdampak buruk pada batas lainnya. Efek domino ini berisiko memicu perubahan permanen atau titik krisis pada sistem penopang kehidupan di Bumi.
Untuk perubahan iklim petunjuk utamanya adalah konsentrasi gas karbondioksida di udara serta penumpukan panas akibat gas rumah kaca.
Faktor-faktor ini mengganggu keseimbangan energi planet, memicu pemanasan udara dan lautan, hingga akhirnya mengubah pola iklim global. Para peneliti menemukan bahwa laju perubahan iklim saat ini bergerak jauh lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.
"Dampaknya sudah terlihat nyata lewat lonjakan suhu, cuaca ekstrem, kerusakan ekosistem, kenaikan permukaan air laut, hingga tingginya risiko terhadap kesehatan, pangan, air bersih, infrastruktur, dan stabilitas ekonomi. Pemanasan yang terus terjadi juga meningkatkan kemungkinan terjadinya kerusakan parah yang saling memperburuk dan sulit dihentikan," tulis laporan tersebut.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya