Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kerusakan Bumi Memburuk, 7 dari 9 Batas Aman Planet Resmi Terlampaui

Kompas.com, 23 September 2026, 19:13 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Tujuh dari sembilan batas daya tahan yang menjaga kesehatan Bumi kini telah melampaui ambang batas aman, dan kondisinya menunjukkan tren yang kian memburuk.

Hal ini terungkap dalam laporan Planetary Health Check 2026 yang dirilis oleh Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK), Jerman.

Melansir Down to Earth, Selasa (22/9/2026) tujuh batas aman yang telah terlampau tersebut meliputi perubahan iklim, rusaknya keanekaragaman hayati, gangguan siklus kimia alam, masuknya zat pencemar baru, alih fungsi lahan, krisis air bersih, serta keasaman air laut.

Dari tujuh poin ini, empat poin pertama sudah berada di tingkat risiko sangat tinggi sementara tiga sisanya berada di tingkat risiko yang terus meningkat.

Hanya ada dua batas aman yang masih terjaga, yaitu polusi partikel udara dan lapisan ozon pelindung Bumi. Meski demikian, polusi partikel udara di beberapa daerah seperti Asia Selatan sudah mulai melampaui batas aman.

Sementara itu, pemulihan lapisan ozon yang melindungi Bumi dari sinar ultraviolet juga mulai melambat dan jalurnya masih berada di bawah tingkat pertengahan abad ke-20.

Baca juga: Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari

Tekanan aktivitas manusia

Selama sekitar 11.700 tahun yang dikenal sebagai era Holosen manusia hidup dan berkembang pesat dalam batas-batas kondisi Bumi yang aman. Di era inilah manusia mulai mengenal sistem pertanian hingga berhasil membangun kota-kota modern dengan teknologi serba canggih.

"Sepanjang era Holosen ini, suhu planet Bumi relatif hangat, pola iklim mudah diprediksi, ketersediaan air bersih dan nutrisi tanah mendukung pertanian, serta ekosistem menyediakan fondasi kuat bagi pangan, permukiman, dan kesejahteraan hidup manusia," tulis laporan tersebut.

Namun, tekanan dari aktivitas manusia yang terus meningkat terutama sejak pertengahan abad ke-20 telah merusak dan melampaui berbagai batas aman tersebut. Tren saat ini bahkan makin memburuk dan berisiko memicu kerusakan permanen pada sistem penopang kehidupan di Bumi.

"Jumlah penduduk, penggunaan energi, produksi industri, pemakaian pupuk kimia, alih fungsi lahan, konsumsi air, transportasi, hingga eksploitasi bahan baku melonjak sangat tajam," tegas para penulis laporan.

Setiap batas daya tahan Bumi diukur menggunakan satu atau dua variabel yang menggambarkan kondisi kesehatan sistem tersebut. Secara keseluruhan, terdapat 13 petunjuk utama yang tersebar di sembilan batas daya tahan planet ini.

Saling keterkaitan antar-sistem ini membuat kerusakan pada satu batas dapat berdampak buruk pada batas lainnya. Efek domino ini berisiko memicu perubahan permanen atau titik krisis pada sistem penopang kehidupan di Bumi.

Variabel kesehatan Bumi

Untuk perubahan iklim petunjuk utamanya adalah konsentrasi gas karbondioksida di udara serta penumpukan panas akibat gas rumah kaca.

Faktor-faktor ini mengganggu keseimbangan energi planet, memicu pemanasan udara dan lautan, hingga akhirnya mengubah pola iklim global. Para peneliti menemukan bahwa laju perubahan iklim saat ini bergerak jauh lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

"Dampaknya sudah terlihat nyata lewat lonjakan suhu, cuaca ekstrem, kerusakan ekosistem, kenaikan permukaan air laut, hingga tingginya risiko terhadap kesehatan, pangan, air bersih, infrastruktur, dan stabilitas ekonomi. Pemanasan yang terus terjadi juga meningkatkan kemungkinan terjadinya kerusakan parah yang saling memperburuk dan sulit dihentikan," tulis laporan tersebut.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
Swasta
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
LSM/Figur
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau