Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Negara Miskin Berisiko Jadi yang Terakhir Rasakan Manfaat Target Net-Zero Global

Kompas.com, 23 September 2026, 19:59 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

Sumber Guardian

KOMPAS.com - Dampak ketimpangan krisis iklim terhadap masyarakat termiskin di dunia, termasuk yang tinggal di wilayah tropis, kembali disorot oleh penelitian baru.

Studi ini menemukan bahwa mereka akan menjadi kelompok terakhir yang merasakan manfaatnya meskipun emisi gas rumah kaca global berhasil ditekan hingga nol bersih.

Melansir Guardian, Selasa (22/9/2026) tim ilmuwan iklim dari Australia menemukan, ketimpangan ini tidak akan langsung hilang meski emisi global mencapai net zero.

Ketimpangan ini bahkan dapat memakan waktu hingga beberapa dekade untuk mulai membaik meskipun karbon dioksida telah ditarik dari atmosfer melalui rencana emisi negatif.

Riset ini dirilis bertepatan dengan laporan badan pengungsi PBB (UNHCR) yang menunjukkan bagaimana krisis iklim makin meningkatkan risiko masyarakat kehilangan kewarganegaraan.

Studi ketimpangan iklim yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Research Letters ini dipimpin oleh Dr. Andrew King dan rekan-rekannya di Universitas Melbourne.

Baca juga: Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan

Mereka menguji tiga model simulasi komputer mengenai kemungkinan perubahan suhu jika emisi global mencapai net zero, lalu membandingkan hasilnya dengan Produk Domestik Bruto (PDB) atau tingkat kekayaan tiap negara.

"Jika kita mengikuti jalur menuju net zero, maka ketimpangan pemanasan yang kita lihat saat ini akan terus bertahan tanpa batas waktu," kata King.

"Negara-negara kaya yang menjadi penyumbang masalah terbesar bukanlah pihak yang paling parah terdampak, bahkan setelah net zero tercapai. Wilayah yang tidak menyebabkan pemanasan justru yang paling menderita," katanya lagi.

King menjelaskan, nasib wilayah termiskin di bumi yang sebagian besar berada di sekitar garis khatulistiwa akan sangat bergantung pada seberapa banyak gas rumah kaca yang dilepaskan sebelum dunia berhasil mencapai net zero.

"Bahkan ketika kita mencapai net zero, kita sudah terlanjur melepaskan karbon dalam jumlah sangat besar ke atmosfer dan dampaknya akan terus berlanjut hingga berabad-abad. Kita tidak bisa dengan mudah memperbaiki kerusakan itu," ujarnya.

"Mencapai net zero lebih cepat berarti kita memperkecil risiko pemanasan jangka panjang setelahnya. Kita harus mencapai net zero sesegera mungkin untuk menekan ketimpangan tersebut," paparnya.

King menjelaskan bahwa ekosistem tropis, seperti terumbu karang, berevolusi untuk hidup dalam rentang suhu yang sangat terbatas dibandingkan ekosistem di wilayah utara. Akibatnya, ekosistem tropis ini akan terus terdampak parah dalam waktu yang lebih lama meskipun dunia sedang memangkas emisi.

Ciptakan lebih banyak orang tanpa kewarganegaraan

Laporan terpisah mengenai dampak perubahan iklim terhadap masyarakat tanpa kewarganegaraan yang dibuat atas permintaan badan pengungsi PBB dan Peter McMullin Centre mendesak negara-negara untuk mendukung keberlangsungan status kenegaraan bagi wilayah yang menghadapi kerusakan iklim ekstrem.

Laporan itu menyebutkan bahwa pulau-pulau di Samudra Pasifik berada dalam risiko tinggi karena daratannya terus tergerus oleh naiknya permukaan air laut.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau