KOMPAS.com - Dampak ketimpangan krisis iklim terhadap masyarakat termiskin di dunia, termasuk yang tinggal di wilayah tropis, kembali disorot oleh penelitian baru.
Studi ini menemukan bahwa mereka akan menjadi kelompok terakhir yang merasakan manfaatnya meskipun emisi gas rumah kaca global berhasil ditekan hingga nol bersih.
Melansir Guardian, Selasa (22/9/2026) tim ilmuwan iklim dari Australia menemukan, ketimpangan ini tidak akan langsung hilang meski emisi global mencapai net zero.
Ketimpangan ini bahkan dapat memakan waktu hingga beberapa dekade untuk mulai membaik meskipun karbon dioksida telah ditarik dari atmosfer melalui rencana emisi negatif.
Riset ini dirilis bertepatan dengan laporan badan pengungsi PBB (UNHCR) yang menunjukkan bagaimana krisis iklim makin meningkatkan risiko masyarakat kehilangan kewarganegaraan.
Studi ketimpangan iklim yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Research Letters ini dipimpin oleh Dr. Andrew King dan rekan-rekannya di Universitas Melbourne.
Baca juga: Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Mereka menguji tiga model simulasi komputer mengenai kemungkinan perubahan suhu jika emisi global mencapai net zero, lalu membandingkan hasilnya dengan Produk Domestik Bruto (PDB) atau tingkat kekayaan tiap negara.
"Jika kita mengikuti jalur menuju net zero, maka ketimpangan pemanasan yang kita lihat saat ini akan terus bertahan tanpa batas waktu," kata King.
"Negara-negara kaya yang menjadi penyumbang masalah terbesar bukanlah pihak yang paling parah terdampak, bahkan setelah net zero tercapai. Wilayah yang tidak menyebabkan pemanasan justru yang paling menderita," katanya lagi.
King menjelaskan, nasib wilayah termiskin di bumi yang sebagian besar berada di sekitar garis khatulistiwa akan sangat bergantung pada seberapa banyak gas rumah kaca yang dilepaskan sebelum dunia berhasil mencapai net zero.
"Bahkan ketika kita mencapai net zero, kita sudah terlanjur melepaskan karbon dalam jumlah sangat besar ke atmosfer dan dampaknya akan terus berlanjut hingga berabad-abad. Kita tidak bisa dengan mudah memperbaiki kerusakan itu," ujarnya.
"Mencapai net zero lebih cepat berarti kita memperkecil risiko pemanasan jangka panjang setelahnya. Kita harus mencapai net zero sesegera mungkin untuk menekan ketimpangan tersebut," paparnya.
King menjelaskan bahwa ekosistem tropis, seperti terumbu karang, berevolusi untuk hidup dalam rentang suhu yang sangat terbatas dibandingkan ekosistem di wilayah utara. Akibatnya, ekosistem tropis ini akan terus terdampak parah dalam waktu yang lebih lama meskipun dunia sedang memangkas emisi.
Laporan terpisah mengenai dampak perubahan iklim terhadap masyarakat tanpa kewarganegaraan yang dibuat atas permintaan badan pengungsi PBB dan Peter McMullin Centre mendesak negara-negara untuk mendukung keberlangsungan status kenegaraan bagi wilayah yang menghadapi kerusakan iklim ekstrem.
Laporan itu menyebutkan bahwa pulau-pulau di Samudra Pasifik berada dalam risiko tinggi karena daratannya terus tergerus oleh naiknya permukaan air laut.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya