Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBB: Upaya Global untuk Kesetaraan Gender Jauh Tertinggal

Kompas.com, 24 September 2026, 06:20 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Laporan terbaru PBB menemukan bahwa dengan kecepatan saat ini, butuh waktu 171 tahun untuk mencapai kesetaraan gender. Hal ini terjadi karena lembaga-lembaga yang dibikin untuk memperjuangkan kemajuan tersebut justru kekurangan dana dan dibubarkan.

Yang mengejutkan, menurut laporan Gender Snapshot 2026, tidak ada satu pun indikator Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG 5) tentang kesetaraan gender yang berada di jalur yang benar untuk tercapai pada tenggat waktu awal di tahun 2030.

Melansir laman resmi United Nations, Kamis (17/9/2026) target-target tersebut mencakup penghentian diskriminasi, kekerasan berbasis gender, dan praktik-praktik merugikan seperti pernikahan paksa serta mutilasi alat kelamin perempuan, sekaligus memastikan keterlibatan penuh perempuan dalam kepemimpinan serta mengamankan hak-hak ekonomi dan kepemilikan properti mereka.

Hambatan sistemik perempuan

Perempuan masih menghadapi banyak hambatan sistemik untuk terjun ke dunia politik.

Baca juga: Dampak Cuaca Panas, Pekerja Perempuan Pekerja Informal Rugi Rp1.009 Triliun Per Tahun

Laporan PBB menyoroti bahwa kekuasaan politik masih didominasi oleh laki-laki, di mana 6 dari 7 negara saat ini dipimpin oleh pria.

Biaya pencalonan diri dalam pemilihan bisa melampaui 100 kali lipat pendapatan rata-rata per kapita suatu negara, sehingga banyak perempuan yang sudah tersingkir bahkan sebelum pemilu dimulai.

Di beberapa negara, hingga 8 dari 10 perempuan yang mencalonkan diri juga mengalami kekerasan di ruang publik.

Bahkan ketika perempuan berhasil masuk pemerintahan, mereka kerap diarahkan menjauh dari posisi-posisi penting yang memegang kekuasaan ekonomi dan keamanan tertinggi. Hampir 9 dari 10 menteri pertahanan dan lebih dari 8 dari 10 menteri keuangan adalah laki-laki.

Di luar pemerintahan, perempuan hanya mencakup 6 persen dari total CEO di seluruh dunia dan memimpin kurang dari 20 persen mahkamah agung.

Akibatnya, keputusan yang membentuk dunia bisnis, hukum, pekerjaan, ketenagakerjaan, dan ekonomi global sebagian besar dikendalikan oleh laki-laki.

Laporan tersebut menegaskan bahwa ketimpangan ini sangat merusak demokrasi. Sebuah negara tidak dapat menegakkan hak asasi manusia atau prinsip-prinsip demokratis secara penuh jika separuh populasinya tidak memiliki suara yang setara dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan.

Kekerasan dan diskriminasi

Jutaan perempuan di seluruh dunia juga masih mengalami berbagai bentuk kekerasan dan diskriminasi yang sangat parah.

Hampir satu dari lima anak perempuan menikah sebelum usia 18 tahun, dan diperkirakan 230 juta perempuan serta anak perempuan di seluruh dunia adalah penyintas mutilasi alat kelamin perempuan.

Hampir satu dari tiga perempuan di seluruh dunia pernah mengalami kekerasan dari pasangan atau kekerasan seksual semasa hidup mereka. Hanya dalam kurun waktu 12 bulan terakhir saja, 316 juta perempuan mengalami kekerasan fisik atau seksual dari pasangan mereka.

Yang penting, laporan PBB menemukan bahwa tidak ada satu pun negara yang telah mencapai kesetaraan hukum secara penuh. Sebanyak 51 persen dari 131 negara yang diteliti masih memiliki celah hukum yang besar.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau