JAKARTA, KOMPAS.com - Sebanyak lebih dari 1.250 orang mengikuti aksi bersih lingkungan dalam rangka World Cleanup Day (WCD) Indonesia di Jakarta, Minggu (20/9/2026).
Dalam kegiatan yang mengusung tema “Aksi Bersih Pemuda Pemudi Merdeka dari Sampah” tersebut, peserta mengumpulkan 175,35 kilogram sampah dari kegiatan plogging dan campaign drop-off sampah terpilah.
Sampah yang terkumpul terdiri dari 35,15 kilogram sampah anorganik, 117,05 kilogram sampah residu, 7,1 kilogram puntung rokok, 4,55 kilogram sampah organik, serta 11,5 kilogram sampah campur dari booth activation.
Baca juga: Rano Karno Sebut Pemprov DKI Kekurangan Truk Sampah dan Mobil Damkar Imbas Efisiensi
Aksi berlangsung dengan rute dari Waste Station Rekosistem Dukuh Atas menuju ATMAterra, Kampus Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Semanggi.
Leader Nasional WCD Indonesia Andy Bahari mengatakan, kegiatan tersebut melibatkan komunitas, institusi pendidikan, media, perusahaan pengelolaan sampah, dan pemerintah untuk mendorong penanganan persoalan sampah secara bersama-sama.
“Hari ini kami bekerja sama dengan teman-teman komunitas, pendidikan, media, perusahaan pengelolaan sampah, dan pemerintah untuk sama-sama menyatukan aspirasi. Kami harus menjadi bagian dari solusi, karena isu sampah jauh dari kata selesai,” ujar Andy dalam keterangan tertulis, Minggu.
Sekretaris Deputi Ekonomi Sirkuler dan Dampak Lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Pangan Rofi Alhanif mengatakan, pengurangan sampah perlu dimulai dari tingkat rumah tangga, terutama melalui pemilahan.
Menurut dia, pemilahan sejak dari sumber menjadi bagian penting dalam penerapan ekonomi sirkular karena material yang masih memiliki nilai dapat kembali dimanfaatkan.
“Kalau kita bisa memulai dari rumah kita, 50 persen urusan sampah itu bisa terselesaikan, karena dalam ekonomi sirkular, sumber daya dipakai sebanyak mungkin sampai nilai ekonominya habis. Kuncinya adalah pemilahan. Kita harus pilah mulai dari rumah,” ujar Rofi.
Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular Kementerian Lingkungan Hidup Agus Rusly mengatakan, pemerintah mendukung kegiatan yang melibatkan masyarakat dalam penanganan sampah, termasuk generasi muda.
“Kita menuju 2029 bebas sampah dan 2045 Indonesia Emas. Kita mulai dari kegiatan yang melibatkan banyak pihak untuk membersihkan sampah dari lingkungan kita,” kata Agus.
Sampah yang terkumpul dalam kegiatan tersebut selanjutnya dikelola oleh Rekosistem.
CEO dan Co-Founder Rekosistem Ernest Christian Layman mengatakan, sampah yang masih dapat didaur ulang akan disalurkan ke pabrik daur ulang yang dapat mengolah sekaligus memberikan nilai ekonomi pada material tersebut.
Menurut Andy, sampah hasil kegiatan plogging juga akan diproses oleh Rekosistem agar tidak berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).
Baca juga: PepsiCo, BWC, dan Pemkot Denpasar Ubah Sampah Bekas Kemasan Jadi Papan Penanda Jalan
Dosen Psikologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Benedicta Eviena P mengatakan, institusi pendidikan dapat berperan dalam membangun kebiasaan pengelolaan sampah dan gaya hidup berkelanjutan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya