KOMPAS.com - Portofolio energi dari 20 perusahaan private equity (ekuitas swasta) teratas menghasilkan polusi yang lebih besar daripada hampir seluruh negara di dunia, kecuali AS, China, India, dan Rusia. Temuan ini diungkapkan dalam laporan dari Private Equity Climate Risks Consortium.
Sebagai informasi perusahaan private equity adalah perusahaan investasi yang mengumpulkan dana dari investor kaya atau lembaga keuangan untuk membeli, memperbaiki, dan menjual kembali perusahaan lain demi meraih keuntungan.
Laporan Private Equity Climate Risks Consortium mencatat bahwa perusahaan-perusahaan ini secara total mengelola aset senilai 7,3 triliun dollar AS. Nilai yang sangat besar ini sebenarnya memberi mereka kemampuan untuk beralih dari bahan bakar fosil tanpa mengalami kerugian finansial yang parah.
Namun, melansir Edie, Rabu (16/9/2026) investasi energi mereka saat ini justru masih didominasi oleh aset bahan bakar fosil, seperti pembangkit listrik tenaga gas alam dan batu bara.
Secara keseluruhan, portofolio mereka menghasilkan 1,5 miliar ton gas rumah kaca setiap tahunnya. Ke-20 perusahaan ini memiliki total 15.000 mil pipa gas/minyak, pembangkit listrik berkapasitas 124 gigawatt, serta ratusan ladang minyak dan gas.
Baca juga: Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Sektor private equity juga mendanai lima dari sepuluh pemilik pusat data terbesar di AS, menjadikannya pemilik pusat data terbesar di luar raksasa teknologi.
Laporan tersebut mencontohkan Blackstone yang menginvestasikan 2,16 miliar Dolar AS pada Northern Indiana Public Service Company (NIPSCO) pada tahun 2024, yang kemudian mengumumkan rencana pembangunan pembangkit listrik gas alam berkapasitas 2.300 megawatt khusus untuk melayani pusat-pusat data tersebut.
Investasi private equity pada pusat data di AS sendiri mencapai 45,7 miliar Dolar AS pada tahun 2025, atau sekitar 72 persen dari total investasi di sektor tersebut.
Laporan itu mencatat bahwa beberapa perusahaan investasi ini akan meraup keuntungan ganda yakni dari pusat data itu sendiri sekaligus dari infrastruktur listrik yang dibutuhkan untuk mengoperasikannya.
Selain aset yang sudah dimiliki, beberapa perusahaan private equity raksasa justru terus menambah jumlah perusahaan bahan bakar fosil ke dalam portofolio mereka sejak tahun 2024.
Laporan tersebut juga menemukan bahwa dana investasi minyak dan gas milik private equity malah berkinerja buruk.
Dari total 190,4 miliar dollar AS yang disetorkan ke 145 dana minyak dan gas, hasil pengembaliannya hanya 192,9 miliar dollar AS alias cuma untung tipis sekitar 2 persen. Jika dihitung dengan inflasi, para investor sebenarnya mengalami kerugian secara rata-rata.
Tidak ada satu pun dari 20 perusahaan yang diteliti mendapatkan nilai A untuk portofolio dan kebijakan energi mereka saat ini, dan hanya tiga perusahaan yang berhasil meraih nilai B.
Laporan tersebut juga menemukan dampak kesehatan yang serius dari portofolio yang mencemari lingkungan ini, di mana polusi udara dari kilang, pembangkit listrik batu bara, dan fasilitas gas alam (LNG) yang didanai private equity berkaitan dengan setidaknya 1.000 kematian dini.
Laporan ini merekomendasikan agar perusahaan private equity secara terbuka melaporkan kepemilikan bahan bakar fosil dan emisi mereka, menetapkan target iklim berbasis sains, menerbitkan rencana transisi di seluruh portofolio, serta lebih transparan mengenai pengeluaran politik dan aktivitas lobi iklim mereka.
Baca juga: Kucuran Dana Bank untuk Bahan Bakar Fosil Naik 8 Persen Pada 2025
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya