Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral

Kompas.com, 24 September 2026, 14:00 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah daerah (Pemda) diminta mengubah tata kelola perkotaan dalam menghadapi krisis iklim, dari pendekatan sektoral dan berbasis batas administratif menjadi kolaboratif serta berbasis kawasan.

Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto mengatakan, persoalan seperti banjir, polusi, dan bencana yang berkaitan dengan perubahan iklim tidak mengenal batas wilayah administratif.

Karena itu, penanganannya membutuhkan koordinasi antardaerah, terutama ketika persoalan di satu wilayah dapat memengaruhi wilayah lain.

Baca juga: Wakil Ketua MPR: Krisis Iklim Bukan Persoalan yang Jauh dari Kehidupan Masyarakat Lagi

“Pendekatannya sekarang agak berbeda karena wilayah enggak hanya berpatokan pada batas peta, urusan iklim itu lintas wilayah, urusan polusi, urusan bencana juga lintas wilayah,” ujar Bima dalam Urban Climate Forum 2026, Rabu (16/9/2026).

Menurut Bima, daerah yang tidak memperhitungkan tata ruang dan kondisi wilayah hulu, misalnya, dapat menimbulkan dampak ekologis bagi wilayah di hilir.

Ia menyebut ada tiga perubahan yang perlu dilakukan Pemda dalam tata kelola menghadapi krisis iklim.

Pertama, mengubah pendekatan sektoral menjadi terintegrasi. Kedua, memperluas pendekatan dari batas administrasi menuju pengelolaan berbasis kawasan.

Ketiga, mengubah pola penanganan dari reaktif menjadi antisipatif melalui perencanaan dan penggunaan data.

Bima meminta pemerintah daerah mulai melakukan pemetaan, inventarisasi data, serta pengukuran emisi gas rumah kaca (GRK) secara berkala.

Menurut dia, setiap daerah memiliki persoalan iklim dan emisi yang berbeda sehingga membutuhkan basis data lokal sebagai dasar penyusunan kebijakan.

“Persoalan di Kota Bogor berbeda tentu di Tangerang, berbeda juga di Kota Medan dan lain-lain. Karena itu akan sangat baik kalau kita bicara climate change, bicara GRK, maka kepala daerah harus memiliki baseline di daerahnya masing-masing,” tutur Bima.

Baca juga: Gelombang Panas Ancam Stadion, Ahli Dorong Renovasi untuk Hadapi Krisis Iklim

Basis data tersebut, lanjut dia, dapat digunakan untuk mengidentifikasi persoalan mobilitas perkotaan, menyusun baseline emisi, serta mendukung perencanaan energi dan transportasi publik yang sesuai dengan kondisi masing-masing daerah.

Tiga Tahap Transformasi Kota

Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard mengatakan, transformasi menuju kota yang lebih berkelanjutan dapat dilakukan melalui tiga tahapan.

Dalam jangka pendek, pemerintah daerah perlu mengenali kondisi kotanya secara lebih mendalam. Hal tersebut mencakup pengukuran emisi, pemetaan risiko iklim, identifikasi kelompok masyarakat rentan, hingga inventarisasi infrastruktur dasar dengan menggunakan data yang dapat dipercaya.

“Risiko Padang berbeda dengan Jakarta. Kapasitas fiskal Medan berbeda dengan kota kecil. Kota pesisir berbeda dengan kota di pegunungan. Karena itu, pemerintah pusat tidak hanya memberikan instruksi, pemerintah pusat juga membangun *enabling environment* agar pemerintah daerah mampu mengambil keputusan yang terbaik,” kata Febrian.

Dalam jangka menengah, Pemda perlu menerjemahkan dokumen perencanaan menjadi proyek yang konkret. Tahap ini mencakup penyiapan skema pembiayaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penghubungan pemerintah daerah dengan investor dan mitra pembangunan.

Baca juga: RUU Pangan Dinilai Belum Cukup Antisipasi Krisis Iklim

Menurut Febrian, APBN dan APBD dapat berfungsi sebagai katalisator pembiayaan, sementara skema lain seperti Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), green finance, pembiayaan iklim internasional, filantropi, dan investasi swasta dapat digunakan untuk mendukung proyek yang siap secara teknis dan finansial.

Adapun dalam jangka panjang hingga 2045, pemerintah daerah diarahkan untuk mengubah sistem perkotaan menuju kota rendah emisi karbon.

Perubahan tersebut mencakup pengembangan transportasi publik, perlindungan ekosistem alam, serta pengurangan risiko iklim baru yang dapat muncul dari pembangunan perkotaan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau