KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi gasifikasi terkontrol untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK), terutama metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2), dari pengolahan sampah menjadi energi atau waste to energy (WtE).
Peneliti Pusat Riset Teknologi Konversi Energi (PRTKE) BRIN Nina Konitat Supriatna mengatakan, teknologi tersebut mengintegrasikan proses gasifikasi dengan teknologi penangkap karbon.
Menurut Nina, teknologi yang dikembangkan untuk fasilitas WtE berkapasitas 150 ton sampah per hari tersebut diklaim mampu mengurangi emisi GRK hingga 90 persen.
“Inovasi ini mengubah sampah menjadi energi sekaligus menekan emisi GRK dan mengolah material sisa menjadi produk bernilai tinggi, seperti Carbon Nanotube (CNT),” ujar Nina, dilansir dari laman resmi BRIN, Kamis (24/9/2026).
Dalam proses gasifikasi, sampah diolah menjadi gas yang mengandung hidrogen, karbon monoksida, dan metana.
BRIN juga mengembangkan pemanfaatan limbah plastik dalam proses tersebut. Pada suhu hingga 1.600 derajat Celsius, limbah plastik diolah menjadi Carbon Nanotube (CNT), material yang disebut memiliki berbagai aplikasi teknologi.
Sementara itu, residu proses gasifikasi berupa tar dan char (arang) dikembangkan menjadi bahan isolator dengan performa yang diklaim setara dengan komposit komersial.
Selain teknologi pengolahan sampah, BRIN juga mengembangkan teknologi penangkapan karbon untuk menekan emisi dari sektor industri.
Salah satunya adalah teknologi Calcium Looping yang dikembangkan bersama University of Waterloo, Kanada. Teknologi tersebut ditujukan antara lain untuk industri semen yang menghasilkan emisi tidak hanya dari penggunaan bahan bakar, tetapi juga dari proses produksi.
“Calcium looping ini bisa menangkap CO2 sampai 90 persen. Ini untuk industri semen, karena itu adalah sektor yang masalah emisinya bukan hanya dari bahan bakar, tetapi juga dari perubahan kalsium karbonat (CaCO3) menjadi kalsium oksida (CaO),” kata Nina.
BRIN juga mengembangkan teknologi Direct Air Capture (DAC) berbasis solvent yang disebut lebih ramah lingkungan melalui kerja sama dengan Universitas Indonesia (UI).
Nina mengatakan, BRIN tengah mencari industri yang dapat menjadi lokasi penerapan dan modifikasi teknologi Calcium Looping tersebut.
Pengembangan teknologi tersebut dilakukan di tengah persoalan pengelolaan sampah perkotaan yang masih menghasilkan emisi.
Nina mengatakan, pembuangan sampah secara sembarangan, penumpukan sampah di TPA, dan pembakaran terbuka dapat berkontribusi terhadap pencemaran udara dan pemanasan global.
Pembakaran sampah yang tidak terkelola juga dapat menghasilkan emisi CO2 serta polutan seperti dioksin dan furan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya