Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah

Kompas.com, 25 September 2026, 17:58 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Di salah satu RW di Kelurahan Penggilingan, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, warga telah menerapkan sistem pengumpulan sampah organik yang dijemput secara rutin setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat.

Sampah organik yang telah dipilah ini kemudian dibawa ke fasilitas pengolahan kompos komunal milik RW untuk diolah secara gotong royong.
‎
‎Koordinator Koperasi Kompos PKK RW 16 Penggilingan, Shanty Syahril mengatakan, pembuatan kompos tersebut menggunakan metode pelapisan di dalam kotak berukuran 1x1x1 meter.

Baca juga: Cegah Stunting, TEP Undip Ajak Warga Senggi Olah Pangan Lokal Jadi Makanan Bergizi

Dalam prosesnya, sampah makanan yang kaya nitrogen disusun berlapis-lapis dengan daun kering yang berfungsi sebagai karbon. Fasilitas komposter komunal RW mampu mengolah sekitar 500 kilogram sampah per minggu.

‎Di balik kelancaran pengomposan ini, pengelola meminta warga untuk meniriskan makanan berkuah sebelum diserahkan ke koperasi. Ini dilakukan karena cairan sisa makanan berkuah akan membuat kompos menjadi terlalu basah dan menambah beban berat saat diangkut.
‎
‎"Kalau kuahnya, kami menyuruh disaring. Enggak tahu, disiram ke tanaman atau (dibuang) ke got (selokan). Yang dikumpulkan ke kami ampasnya. Kalau dibuang ke wastafel tuh (warga) suka mengeluh mampet, karena kadang banyak minyaknya dan lemak. Kecuali, jika ada acara, memang (sisa kuah dari makanan) dipilah, tetapi tetap dibuang (ke selokan) juga, kami enggak mengolah kuah," ujar Shanty di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
‎
‎Ia mengaku pernah bereksperimen menguji praktik pengurangan sampah dengan biaya murah di sebuah kantor.

Ia mengidentifikasi gagalnya sistem penggunaan kembali akibat kebiasaan karyawan meninggalkan sisa cairan dari makanan yang membasahi dan mengotori wadah tempat sampah daur ulang. Ia mengusulkan sistem pengelolaan sampah di kantor tersebut diubah dengan mengharuskan karyawan mengumpulkan semua sisa cairan ke dalam wadah khusus terlebih dahulu.

Namun, bagi Shanty, solusi paling efektif justru mengajak karyawan mengambil porsi hidangan yang disesuaikan dengan 'kapasitas perut' dan melahapnya habis.

Dalam mencegah potensi risiko dari sisa makanan berkuah, hotel dan restoran juga perlu mengedepankan perencanaan produksi berdasarkan estimasi jumlah tamu, pola konsumsi, dan data historis transaksi penjualan.

Opsi lain, mencegahnya dengan mengadopsi sistem replenishment atau pengisian kembali secara bertahap ketimbang harus menempatkan seluruh persediaan di buffet sejak awal.

Baca juga: FAO: Hutan Jadi Kunci Utama Ketahanan Pangan, Gizi, dan Mata Pencaharian

Menurut Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Hariyadi Sukamdani, semakin bagus perencanaan produksi dan pengendalian sisa makanan berkuah, maka akan lebih kecil beban yang harus ditanggung instalasi pengolahan air limbah (IPAL).

"Memisahkan produk berkuah dan komponen makanan apabila memungkinkan. Untuk menu tertentu, kuah dapat disajikan atau ditambahkan secara terpisah. Metode ini memberi fleksibilitas kepada tamu sekaligus membantu mengurangi volume makanan yang terbuang," tutur Hariyadi, Selasa (15/9/2026).

Rantai nilai kerugian

Berdasarkan riset terbaru Gotong Royong Atasi Susut dan Sisa Pangan di 2030 (GRASP 2030), sayur matang dan masakan berkuah menjadi jenis makanan yang paling banyak terbuang. Makanan berkuah tergolong lebih cepat basi karena kadar air yang tinggi mempercepat pertumbuhan mikroorganisme.

Ini selaras dengan temuan lain dalam riset itu yang menyebut mayoritas makanan saat terbuang sudah dalam kondisi basi, berbau, berubah warna atau tekstur, dan berjamur. Besarnya proporsi responden riset yang mengaku lupa stok, tidak sempat mengonsumsi, atau menyimpan makanan terlalu lama menunjukkan bahwa sisa pangan lebih banyak dipicu oleh kegagalan pengelolaan dibandingkan keterbatasan ketersediaannya.

Berikut data jenis atau bahan makanan apa saja yang terbuang dalam seminggu berdasarkan riset terbaru Gotong Royong Atasi Susut dan Sisa Pangan di 2030 (GRASP 2030), inisiatif dari Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) serta didukung oleh Waste and Resources Action Programme (WRAP).
?
?Studi formatif ini menggunakan desain mixed-method dengan menggabungkan pengukuran skala perilaku, eksplorasi konteks rumah tangga, dan validasi sosial terhadap pesan atau intervensi. Dalam studi ini, triangulasi data diperoleh melalui survei terhadap 300 responden di Jakarta untuk mengukur skala, home visit 22 partisipan dengan tujuan memvalidasi perilaku aktual, serta focus group discussion (FGD) bersama 21 peserta menguji penerimaan pesan dan intervensi.Manda Firmansyah/Kompas.com Berikut data jenis atau bahan makanan apa saja yang terbuang dalam seminggu berdasarkan riset terbaru Gotong Royong Atasi Susut dan Sisa Pangan di 2030 (GRASP 2030), inisiatif dari Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) serta didukung oleh Waste and Resources Action Programme (WRAP). ? ?Studi formatif ini menggunakan desain mixed-method dengan menggabungkan pengukuran skala perilaku, eksplorasi konteks rumah tangga, dan validasi sosial terhadap pesan atau intervensi. Dalam studi ini, triangulasi data diperoleh melalui survei terhadap 300 responden di Jakarta untuk mengukur skala, home visit 22 partisipan dengan tujuan memvalidasi perilaku aktual, serta focus group discussion (FGD) bersama 21 peserta menguji penerimaan pesan dan intervensi.

Executive Director Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD), Indah Budiani mengatakan, sisa makanan berkuah cenderung sulit diselamatkan untuk konsumsi manusia.

"Kalau sayur bahan, mungkin bisa diolah untuk bahan makanan lain. (Meski sulit) makanan berkuah, seperti soup (masih) bisa diolah kembali, contohnya kemarin dari chef Unilever diolah menjadi gabin kroket," ucapnya, Selasa (15/9/2026).

Di balik sisa makanan berkuah, ada rantai nilai biaya tersembunyi akibat kerugian ekonomi dan lingkungan maupun rantai nilai sumber daya yang terbuang.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
Pemerintah
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
Swasta
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau