Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim

Kompas.com, 26 September 2026, 16:36 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Menekan angka susut dan sisa pangan (food loss and waste/FLW) berdampak lebih dari sekadar mengurangi masalah ketersediaan logistik.

‎Direktur Pangan dan Pertanian Kementerian PPN/Bappenas, Jarot Indarto mengatakan, pengelolaan FLW dapat menyelamatkan nilai ekonomi di baliknya.

‎"Menyelamatkan FLW itu tidak hanya menyelamatkan pangan itu sendiri, tetapi juga menyelamatkan gizi yang terkandung di dalamnya, serta menyelamatkan nilai ekonomi yang ada pada pangan tersebut," ujar Jarot dalam Closing the Food Gap: Intercepting Food Loss and Food Waste, Rabu (23/9/2026).‎

Baca juga: FAO: Hutan Jadi Kunci Utama Ketahanan Pangan, Gizi, dan Mata Pencaharian

‎Dalam konteks sistem pangan agrikultur, pengelolaan FLW di Indonesia sangat mendesak. Pengelolaan FLW juga menjadi bagian integral dari pembangunan rendah karbon.

Indonesia saat ini telah bergabung dalam inisiatif global bernama Convergence Initiative yang dikoordinasikan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO).

Inisiatif ini menyelaraskan aksi penanganan FLW dengan mitigasi krisis iklim. Indonesia telah menyerahkan cetak biru (blueprint) aksi konvergensi ini kepada markas besar FAO, yang berfokus pada empat area prioritas. 

‎Pertama, produksi dan konsumsi yang bertanggung jawab. Kedua, sistem pangan berbasis sumber daya kelautan (Blue Transformation). Ketiga, penanganan susut dan sisa pangan. Keempat, ekonomi sirkular.

‎Untuk merealisasikan target pengurangan FLW sebesar 75 persen pada 2045, Bappenas telah menyusun peta jalan (roadmap) yang diterjemahkan ke dalam lima strategi utama pelaksanaannya. Pertama, mengembangkan kebijakan dan regulasi FLW di Indonesia. 

‎"Kami percaya bahwa ada beberapa potensi regulasi lingkungan yang perlu dikembangkan lebih lanjut, misalnya regulasi terkait pelabelan pangan dan mendiskusikan hal ini sejak tiga tahun lalu," tutur Jarot.

‎Kedua, membangun kapasitas dan edukasi. Ketiga, meningkatkan koordinasi dan kolaborasi karena dalam masalah FLW ini bukan hanya tanggung jawab satu atau beberapa institusi saja.

Dalam penanganan FLW juga perlu berkolaborasi dengan banyak pemangku kepentingan. Keempat, mengembangkan teknologi dan infrastruktur. Kelima, mengembangkan skema insentif dan disinsentif.

‎Jarot menyadari bahwa menjembatani kesenjangan di sektor pangan tidak mungkin dilakukan secara sepihak. Target pengurangan yang ambisius ini membutuhkan kolaborasi di antara berbagai pemangku kepentingan. 

Baca juga: Daripada Dibuang Sia-sia, Sisa Kulit Buah MBG Disulap Siswa SMAN 7 Manado Jadi Sabun

‎"Kami berharap forum berbagi pengetahuan baik di tingkat nasional maupun internasional dapat menghasilkan solusi progresif untuk upaya pengelolaan FLW di masa depan," ucapnya.

‎Rencana Aksi

‎Perencana Ahli Muda, Direktorat Pangan dan Pertanian, Kementerian PPN/Bappenas, Ifan Martino mengatakan, nantinya rencana aksi pengurangan FLW akan diturunkan di level pemerintah daerah dan menggabungkannya dengan menggunakan pendekatan sistem. 

‎Sistem pangan tidak hanya terdampak oleh krisis iklim. Namun, juga berpotensi memengaruhi krisis iklim melalui emisi yang dihasilkan di sepanjang rantai nilai sistem pangan.

‎Convergence Action Blueprint diharapkan dapat menjadi pedoman untuk memastikan dampak sistem pangan terhadap krisis iklim dapat minimal.

"Jadi enggak hanya bicara pangan dan gizi, tapi juga isu-isu terkait dengan perubahan iklim dan juga ketahanan air ini menjadi aspek yang dipertimbangkan dan dimasukkan di dalam rencana aksi nasional ini," ujar Ifan dalam konferensi pers usai diskusi Membedah Rancangan Undang-undang Pangan Baru, Rabu (9/9/2026).

‎Ia berharap, rencana aksi tersebut berjalan selaras di tingkat nasional maupun daerah, di mana pangan lokal akan menjadi aspek yang sangat diperhatikan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
Pemerintah
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
Swasta
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau