Penulis
KOMPAS.com - Masalah sistem pangan nasional sejatinya tidak hanya berpusat pada seberapa besar angka produksi pertanian di hulu.
Di tengah ancaman krisis iklim yang makin nyata, seperti fluktuasi cuaca ekstrem dan kenaikan suhu, tantangan terbesar justru terletak pada aksesibilitas, distribusi, serta daya tahan sistem pangan itu sendiri.
Membangun ketahanan pangan tidak cukup hanya dengan mendorong petani atau nelayan memanen lebih banyak produk.
Lebih dari itu, dibutuhkan transformasi sistemik yang menghubungkan keandalan produksi, kepastian pasar, insentif regulasi, hingga keberlanjutan ekonomi bagi para pelaku usaha di tingkat akar rumput.
Tantangan membangun sistem pangan ini mengemuka dalam langkah Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia bersama Pijar Foundation membangun koalisi lintas sektor di panggung internasional.
Didukung Perutusan Tetap Republik Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York (PTRI New York), diskusi strategis ini digelar di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB ke-81 (UNGA 81) dan Climate Week NYC 2026 pada 23 September 2026.
Pertemuan tersebut mempertemukan jajaran pembuat kebijakan, lembaga filantropi, investor, dan mitra pembangunan global untuk menyelaraskan skema pembiayaan, regulasi, serta keberlanjutan sistem pangan Indonesia.
Dalam pidatonya, Menko Pangan RI, Zulkifli Hasan menekankan pentingnya keterbukaan dan kecepatan dalam koordinasi antarpihak.
"Kami ingin mengajak berbagai pihak seperti dunia usaha, investor, filantropi, dan mitra pembangunan untuk dapat bekerja dalam satu arah," ujar Zulkifli Hasan.
"Dengan koordinasi pangan, laut, hutan, dan darat yang semakin terintegrasi, kami ingin memastikan kerja sama lintas sektor dapat bergerak lebih cepat dan menghasilkan dampak yang lebih besar," lanjutnya.
Baca juga: Dari Laboratorium ke Sawah, Upaya Menempatkan Petani di Pusat Transformasi Pangan
Di sisi lain, Pijar Foundation memandang lembaga filantropi memegang peran kunci dalam menghubungkan gagasan inovatif tahap awal dengan struktur sistemik yang dibutuhkan untuk ekspansi skala.
Executive Director Pijar Foundation, Cazadira Fediva Tamzil, menggarisbawahi bahwa kunci transformasi terletak pada kesiapan ekosistem penunjang.
Diskusi strategis di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB ke-81 (UNGA 81) dan Climate Week NYC 2026 pada 23 September 2026.
"Inovasi dapat menunjukkan kemungkinan baru, tetapi transformasi terjadi ketika sistem di sekitarnya memungkinkan gagasan tersebut untuk berkembang," tegasnya.
Menurutnya, filantropi dapat membantu menghubungkan inovator dengan pemerintah, modal, riset, dan mitra lainnya, sekaligus membuka ruang untuk menguji, belajar, dan membangun bukti.
"Pada akhirnya, tujuannya bukan hanya mendukung lebih banyak proyek percontohan, tetapi membantu membangun kondisi agar solusi dapat menciptakan manfaat publik yang berkelanjutan," jelas Cazadira.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya