KOMPAS.com - Dampak dari pesan-pesan kelestarian lingkungan tidak hanya bergantung pada isinya, tetapi juga pada urutan penyampaiannya. Respons emosional yang muncul dari satu pesan dapat memengaruhi cara orang memahami pesan berikutnya tentang gerakan ramah lingkungan.
Di sektor pariwisata, di mana para wisatawan sering diimbau untuk memilih opsi yang bertanggung jawab terhadap lingkungan, memahami alur respons emosional ini bekerja dapat membantu organisasi merancang komunikasi lingkungan yang lebih efektif.
Melansir Phys, Rabu (23/9/2026) komunikasi lingkungan sering kali menyampaikan masalah dan solusi secara terpisah. Padahal, masyarakat cenderung menangkap pesan lingkungan sebagai sebuah rangkaian bertahap.
Misalnya saja mengetahui bahaya kerusakan lingkungan, baru kemudian melihat opsi solusinya. Hal ini membuka kemungkinan bahwa emosi negatif di awal dapat memengaruhi cara seseorang menerima pesan positif setelahnya.
Untuk mempelajari proses ini, Profesor Insin Kim dan Dr. Alisa Kazakova dari Pusan National University bekerja sama dengan Dr. Marcel Bastiaansen dari Breda University of Applied Sciences dan Tilburg University di Belanda untuk meneliti bagaimana respons emosional berkembang melalui tahapan-tahapan imbauan ramah lingkungan.
Baca juga: Kepedulian Lingkungan Konsumen Indonesia Kembali Meningkat Setelah 3 Tahun
Para peneliti mengembangkan kerangka kerja emosi bertahap yang memperjelas peran berbeda dari tingkat ketertarikan/kewaspadaan (arousal) dan sifat emosi positif-negatif (valence) saat seseorang menerima pesan-pesan lingkungan.
Hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam Journal of Travel & Tourism Marketing.
Para peneliti menguji kerangka kerja tersebut melalui dua studi saling melengkapi yang menggabungkan bukti aktivitas otak dan perilaku manusia, dengan fokus memisahkan respons arousal dan valence.
Pada Studi 1, eksperimen perekaman gelombang otak menunjukkan bahwa paparan terhadap gambar kerusakan lingkungan terlebih dahulu berhasil meningkatkan perhatian awal dan menjaga keterikatan pikiran orang tersebut saat kemudian diberikan pesan solusi ramah lingkungan.
Pada Studi 2, dengan urutan pesan yang sama, yakni dimulai dari pesan negatif lalu diikuti pesan positif menghasilkan perubahan emosi ke arah positif yang sangat kuat karena adanya efek kontras. Hal ini pada akhirnya meningkatkan niat orang tersebut untuk melakukan tindakan nyata yang mendukung lingkungan.
Temuan ini membuktikan bahwa arousal dan valence memiliki peran yang berbeda dalam membujuk seseorang.
Tingkat kewaspadaan (arousal) berfungsi menarik perhatian awal dan membantu proses pencernaan pesan, tetapi tidak secara langsung membuat seseorang ingin bertindak.
Akan tetapi penilaian sifat emosi (valence) menjadi faktor utama yang menentukan penilaian akhir dan dorongan seseorang untuk mengambil tindakan ramah lingkungan.
"Temuan kami memperjelas peran berbeda dari rasa tergugah dan rasa positif-negatif dalam tiap tahapan ajakan. Dorongan emosi di awal berguna untuk menyedot perhatian dan membantu memahami pesan, sedangkan penilaian perasaan di tahap berikutnyalah yang mendorong keputusan dan niat seseorang untuk bertindak," jelas Kim.
Temuan ini pun membawa manfaat praktis bagi organisasi pariwisata yang mengandalkan partisipasi wisatawan dalam menjaga lingkungan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya