Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Ungkap Sungai Alirkan Mikroplastik Lebih Banyak dari Perkiraan ke Laut

Kompas.com, 30 September 2026, 09:06 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Mikroplastik merupakan ancaman lingkungan modern dan berpotensi membahayakan kesehatan manusia.

Potongan-potongan plastik sangat kecil yang berukuran 1 hingga 5.000 mikrometer ini utamanya berasal dari pecahan plastik yang lebih besar, serta sumber lain seperti cat dan kosmetik.

Mikroplastik ditemukan di hampir seluruh penjuru bumi, dan sebuah penelitian baru di jurnal Science menunjukkan bahwa sungai mungkin mengalirkan jauh lebih banyak mikroplastik ke laut daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Melansir Phys, Senin (14/9/2026) banyak mikroplastik berpindah dari daratan ke sungai, dan akhirnya berujung di lautan. Begitu sampai di laut, mikroplastik dapat merusak ekosistem pesisir dan rantai makanan, serta tertelan oleh hewan-hewan laut.

Baca juga: Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik

Perkiraan jumlah mikroplastik yang mengalir dari sungai ke laut sangat bervariasi dari tahun ke tahun, berkisar antara 6.100 hingga 2,31 juta metrik ton per tahun.

Perbedaan angka yang sangat jauh ini disebabkan oleh minimnya data lapangan, perbedaan cara pengambilan sampel, serta model komputer yang gagal memperhitungkan perubahan mendadak akibat curah hujan.

"Sungai merupakan perantara utama dalam siklus mikroplastik global, tetapi berapa banyak yang dialirkan ke laut dan faktor apa saja yang mengendalikannya masih belum terungkap secara pasti," tulis para penulis penelitian tersebut dalam laporan mereka.

Model perhitungan yang lebih baik

Dipimpin oleh Hehao Qin dari Universitas Peking, tim peneliti menggunakan pendekatan yang lebih menyeluruh dengan memantau kondisi sungai setiap hari. Mereka merancang model komputer yang dapat memperkirakan berapa banyak mikroplastik yang mengalir dari perairan ini ke lautan.

Model baru ini berhasil mengatasi beberapa masalah utama yang membuat perkiraan-perkiraan sebelumnya kurang akurat. Pemodelan ini menggunakan penyesuaian matematis untuk menyelaraskan pengukuran dari berbagai ukuran jaring dan metode pengambilan sampel yang berbeda.

Model ini juga memantau curah hujan dan aliran air sungai harian, sehingga mampu mencatat perubahan mendadak yang sering kali luput dari pemodelan terdahulu.

Model kemudian dilatih menggunakan 1.386 data pengukuran mikroplastik nyata dari sungai-sungai di seluruh dunia. Untuk membuat perkiraan, model ini menggabungkan data tersebut dengan pola cuaca harian, penggunaan lahan, dan aliran sungai untuk menghitung jumlah partikel plastik di sungai-sungai dunia, yang kemudian diubah menjadi satuan metrik ton.

Baca juga: Studi Ungkap Potensi Bahaya Mikroplastik dari Gelas Kopi Sekali Pakai

Masalah yang jauh lebih besar

Dengan model baru ini, tim peneliti menghitung bahwa sungai-sungai di dunia mengalirkan sekitar 263.000 metrik ton mikroplastik ke laut pada tahun 2022. Sekitar 96 persen dari plastik tersebut berasal dari negara-negara berkembang (Global South), di mana kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur menyumbang lebih dari separuhnya.

Sungai yang paling banyak membuang limbah mikroplastik ke laut adalah Sungai Yangtze.

Tim peneliti juga menemukan hal yang sering luput dari model-model terdahulu yakni dampak curah hujan. Di banyak wilayah aliran sungai, hujan deras dapat menyebabkan lonjakan mendadak pada kadar mikroplastik. Badai yang kuat dapat membilas mikroplastik dari daratan ke sungai serta mengaduk plastik yang mengendap di tanah dan dasar sungai.

Berdasarkan temuan ini, para peneliti memberikan peringatan keras.

"Tanpa pengendalian yang lebih ketat pada produksi plastik dan pengelolaan sampah di hulu, peningkatan hujan ekstrem akibat perubahan iklim dapat memperparah lonjakan limbah ini dan memburukkan polusi mikroplastik di laut," tulis mereka.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
Pemerintah
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
Swasta
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau