Potongan-potongan plastik sangat kecil yang berukuran 1 hingga 5.000 mikrometer ini utamanya berasal dari pecahan plastik yang lebih besar, serta sumber lain seperti cat dan kosmetik.
Mikroplastik ditemukan di hampir seluruh penjuru bumi, dan sebuah penelitian baru di jurnal Science menunjukkan bahwa sungai mungkin mengalirkan jauh lebih banyak mikroplastik ke laut daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Melansir Phys, Senin (14/9/2026) banyak mikroplastik berpindah dari daratan ke sungai, dan akhirnya berujung di lautan. Begitu sampai di laut, mikroplastik dapat merusak ekosistem pesisir dan rantai makanan, serta tertelan oleh hewan-hewan laut.
Baca juga: Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik
Perkiraan jumlah mikroplastik yang mengalir dari sungai ke laut sangat bervariasi dari tahun ke tahun, berkisar antara 6.100 hingga 2,31 juta metrik ton per tahun.
Perbedaan angka yang sangat jauh ini disebabkan oleh minimnya data lapangan, perbedaan cara pengambilan sampel, serta model komputer yang gagal memperhitungkan perubahan mendadak akibat curah hujan.
"Sungai merupakan perantara utama dalam siklus mikroplastik global, tetapi berapa banyak yang dialirkan ke laut dan faktor apa saja yang mengendalikannya masih belum terungkap secara pasti," tulis para penulis penelitian tersebut dalam laporan mereka.
Dipimpin oleh Hehao Qin dari Universitas Peking, tim peneliti menggunakan pendekatan yang lebih menyeluruh dengan memantau kondisi sungai setiap hari. Mereka merancang model komputer yang dapat memperkirakan berapa banyak mikroplastik yang mengalir dari perairan ini ke lautan.
Model baru ini berhasil mengatasi beberapa masalah utama yang membuat perkiraan-perkiraan sebelumnya kurang akurat. Pemodelan ini menggunakan penyesuaian matematis untuk menyelaraskan pengukuran dari berbagai ukuran jaring dan metode pengambilan sampel yang berbeda.
Model ini juga memantau curah hujan dan aliran air sungai harian, sehingga mampu mencatat perubahan mendadak yang sering kali luput dari pemodelan terdahulu.
Model kemudian dilatih menggunakan 1.386 data pengukuran mikroplastik nyata dari sungai-sungai di seluruh dunia. Untuk membuat perkiraan, model ini menggabungkan data tersebut dengan pola cuaca harian, penggunaan lahan, dan aliran sungai untuk menghitung jumlah partikel plastik di sungai-sungai dunia, yang kemudian diubah menjadi satuan metrik ton.
Baca juga: Studi Ungkap Potensi Bahaya Mikroplastik dari Gelas Kopi Sekali Pakai
Dengan model baru ini, tim peneliti menghitung bahwa sungai-sungai di dunia mengalirkan sekitar 263.000 metrik ton mikroplastik ke laut pada tahun 2022. Sekitar 96 persen dari plastik tersebut berasal dari negara-negara berkembang (Global South), di mana kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur menyumbang lebih dari separuhnya.
Sungai yang paling banyak membuang limbah mikroplastik ke laut adalah Sungai Yangtze.
Tim peneliti juga menemukan hal yang sering luput dari model-model terdahulu yakni dampak curah hujan. Di banyak wilayah aliran sungai, hujan deras dapat menyebabkan lonjakan mendadak pada kadar mikroplastik. Badai yang kuat dapat membilas mikroplastik dari daratan ke sungai serta mengaduk plastik yang mengendap di tanah dan dasar sungai.
Berdasarkan temuan ini, para peneliti memberikan peringatan keras.
"Tanpa pengendalian yang lebih ketat pada produksi plastik dan pengelolaan sampah di hulu, peningkatan hujan ekstrem akibat perubahan iklim dapat memperparah lonjakan limbah ini dan memburukkan polusi mikroplastik di laut," tulis mereka.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya