KOMPAS. com - Sungai merupakan bagian terpenting bagi bumi, yang menghubungkan lautan, atmosfer, dan daratan. Sungai memicu lahirnya peradaban manusia di seluruh dunia.
Bahkan hingga hari ini, 90 persen populasi dunia tinggal dalam radius 10 kilometer dari sungai. Manusia masih sangat bergantung pada sungai untuk bertahan hidup, terutama sebagai sumber utama air minum bagi kota-kota di seluruh belahan dunia.
Namun sayangnya sungai sulit dipelajari karena banyak di antaranya yang sukar dijangkau. Bahkan untuk mengenali keberadaannya saja sudah menjadi tantangan tersendiri, karena banyak sungai yang kering kerontang selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.
Baca juga: Studi Ungkap Sungai Alirkan Mikroplastik Lebih Banyak dari Perkiraan ke Laut
"Sungai, terutama anak sungai kecil, sangat sulit didefinisikan. Alirannya selalu berubah-ubah dan bisa muncul lalu hilang," kata Dongmei Feng, profesor teknik lingkungan di University of Cincinnati, dikutip dari Phys, Rabu (17/6/2026).
Dalam makalah yang diterbitkan di jurnal Nature Water, para ahli hidrologi dari seluruh dunia menjelaskan bagaimana para ilmuwan dapat memanfaatkan alat-alat baru seperti penginderaan jauh berbasis satelit untuk mempelajari kualitas air, tingkat kesehatan, serta tekanan yang dialami oleh seluruh sungai di dunia.
Baca juga: Krisis Iklim Rusak Keanekaragaman Hayati Mikroba Sungai
Memantau sungai dalam skala luas
Menurut Feng sungai harus dipelajari dalam skala global sekaligus secara individu
"Setiap sungai itu unik, dibentuk oleh iklim, lingkungan sekitar, dan jejak aktivitas manusia yang berbeda-beda. Itulah sebabnya kami ingin mempelajari setiap sungai secara menyeluruh," kata Feng.
Para peneliti menggunakan penginderaan jauh berbasis satelit untuk memantau bagaimana sungai memengaruhi lautan di dunia saat sedimen dan nutrisi terbawa ke muara, area penting tempat berkembang biaknya ikan dan kehidupan laut lainnya.
Tak hanya itu, penulis pendamping Xiao Yang dari Southern Methodist University mengatakan bahwa teknologi satelit terbaru memungkinkan para peneliti memantau kualitas air menggunakan perubahan spektrum cahaya, yang dapat mendeteksi kandungan nutrisi di dalam air. Satelit dan pemodelan komputer menjanjikan pemantauan kualitas air dengan detail global yang luar biasa.
Feng juga berencana mempelajari dinamika nutrisi di sungai yang dapat menyebabkan ledakan ganggang beracun. Fenomena ini dapat menghentikan operasional tempat pengolahan air bersih serta mengganggu aktivitas naik perahu, berenang, dan rekreasi lainnya.
Baca juga: Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Selain itu bakteri sianobakteri beracun pada ganggang tersebut dapat membahayakan kesehatan manusia, menyebabkan gatal-gatal pada kulit, mual, hingga kerusakan hati atau saraf. Mengolah air yang tercemar ganggang beracun membutuhkan proses bertahap yang sangat mahal.
Feng berencana mempelajari data sungai-sungai di dunia selama 50 tahun terakhir untuk memahami bagaimana sungai membawa nutrisi dan bagaimana hal itu dapat membantu kita mengembangkan sistem peringatan dini untuk ledakan ganggang beracun.
Ganggang yang mengapung ini menghalangi sinar matahari dan membunuh tanaman air lainnya. Lalu ketika ganggang tersebut mati, bakteri yang memakan tanaman mati itu akan menghabiskan oksigen di dalam air, menciptakan area mati yang dapat menyebabkan kematian massal pada ikan. Siklus mematikan ini disebut eutrofikasi.
"Kita bisa belajar banyak dengan mempelajari dinamika nutrisi ini," kata Feng.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya