Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Teknologi Satelit Bantu Lindungi Pasokan Air Minum Dunia, Kok Bisa?

Kompas.com, 30 September 2026, 14:12 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS. com - Sungai merupakan bagian terpenting bagi bumi, yang menghubungkan lautan, atmosfer, dan daratan. Sungai memicu lahirnya peradaban manusia di seluruh dunia.

Bahkan hingga hari ini, 90 persen populasi dunia tinggal dalam radius 10 kilometer dari sungai. Manusia masih sangat bergantung pada sungai untuk bertahan hidup, terutama sebagai sumber utama air minum bagi kota-kota di seluruh belahan dunia.

Namun sayangnya sungai sulit dipelajari karena banyak di antaranya yang sukar dijangkau. Bahkan untuk mengenali keberadaannya saja sudah menjadi tantangan tersendiri, karena banyak sungai yang kering kerontang selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.

Baca juga: Studi Ungkap Sungai Alirkan Mikroplastik Lebih Banyak dari Perkiraan ke Laut

"Sungai, terutama anak sungai kecil, sangat sulit didefinisikan. Alirannya selalu berubah-ubah dan bisa muncul lalu hilang," kata Dongmei Feng, profesor teknik lingkungan di University of Cincinnati, dikutip dari Phys, Rabu (17/6/2026).

Dalam makalah yang diterbitkan di jurnal Nature Water, para ahli hidrologi dari seluruh dunia menjelaskan bagaimana para ilmuwan dapat memanfaatkan alat-alat baru seperti penginderaan jauh berbasis satelit untuk mempelajari kualitas air, tingkat kesehatan, serta tekanan yang dialami oleh seluruh sungai di dunia.

Baca juga: Krisis Iklim Rusak Keanekaragaman Hayati Mikroba Sungai

Memantau sungai dalam skala luas

Menurut Feng sungai harus dipelajari dalam skala global sekaligus secara individu

"Setiap sungai itu unik, dibentuk oleh iklim, lingkungan sekitar, dan jejak aktivitas manusia yang berbeda-beda. Itulah sebabnya kami ingin mempelajari setiap sungai secara menyeluruh," kata Feng.

Para peneliti menggunakan penginderaan jauh berbasis satelit untuk memantau bagaimana sungai memengaruhi lautan di dunia saat sedimen dan nutrisi terbawa ke muara, area penting tempat berkembang biaknya ikan dan kehidupan laut lainnya.

Tak hanya itu, penulis pendamping Xiao Yang dari Southern Methodist University mengatakan bahwa teknologi satelit terbaru memungkinkan para peneliti memantau kualitas air menggunakan perubahan spektrum cahaya, yang dapat mendeteksi kandungan nutrisi di dalam air. Satelit dan pemodelan komputer menjanjikan pemantauan kualitas air dengan detail global yang luar biasa.

Feng juga berencana mempelajari dinamika nutrisi di sungai yang dapat menyebabkan ledakan ganggang beracun. Fenomena ini dapat menghentikan operasional tempat pengolahan air bersih serta mengganggu aktivitas naik perahu, berenang, dan rekreasi lainnya.

Baca juga: Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai

Selain itu bakteri sianobakteri beracun pada ganggang tersebut dapat membahayakan kesehatan manusia, menyebabkan gatal-gatal pada kulit, mual, hingga kerusakan hati atau saraf. Mengolah air yang tercemar ganggang beracun membutuhkan proses bertahap yang sangat mahal.

Feng berencana mempelajari data sungai-sungai di dunia selama 50 tahun terakhir untuk memahami bagaimana sungai membawa nutrisi dan bagaimana hal itu dapat membantu kita mengembangkan sistem peringatan dini untuk ledakan ganggang beracun.

Ganggang yang mengapung ini menghalangi sinar matahari dan membunuh tanaman air lainnya. Lalu ketika ganggang tersebut mati, bakteri yang memakan tanaman mati itu akan menghabiskan oksigen di dalam air, menciptakan area mati yang dapat menyebabkan kematian massal pada ikan. Siklus mematikan ini disebut eutrofikasi.

"Kita bisa belajar banyak dengan mempelajari dinamika nutrisi ini," kata Feng.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
LSM/Figur
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pemerintah
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
Swasta
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Swasta
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Swasta
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Swasta
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau