Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kampung Bebas Rokok dan Pinjol yang Sejuk di Tengah Panas Surabaya

Kompas.com, 30 September 2026, 20:21 WIB
Manda Firmansyah,
Andika Aditia

Tim Redaksi

SURABAYA, KOMPAS.com - Di tengah panas kota yang menyengat, sebuah kampung di kawasan pesisir Surabaya justru terasa sejuk.

Melalui program urban farming, warga menyulap pekarangan dan lorong-lorong gang kampung menjadi kebun produktif dengan tanaman hidroponik, seperti selada dan sawi. Tanaman cabai dalam pot-pot kecil dan rambatan pohon anggur juga mengisi ruang beberapa sudut kampung.

‎Untuk menyuburkan tanaman, warga mengandalkan pupuk organik yang dihasilkan dari sampah organik dapur. Di setiap depan rumah, disediakan komposter kecil untuk sampah organik padat, seperti sisa sayuran cincang. Jika komposter kecil penuh, sampah tersebut akan dipindahkan ke komposter komunal berkapasitas besar. 

‎Sampah organik cair dimasukkan ke dalam lubang biopori agar terserap tanah dan menjadi nutrisi bagi akar tanaman. Untuk minyak jelantah, warga menampungnya secara terpisah dan menyetorkannya rutin. 

‎Dalam kurun waktu satu bulan, Bank Sampah Maju Makmur mengumpulkan sekitar 10 botol plastik ukuran 1,5 liter berisi minyak jelantah dari konsumsi rumah tangga warga kampung. 

‎Ketua Bank Sampah Maju Makmur, Dwi mengatakan, proses penampungan minyak jelantah dilakukan secara mandiri oleh warga dengan cara meniriskan sisa minyak goreng yang sudah tidak terpakai. Saat ini, satu botol ukuran 1,5 liter minyak jelantah dihargai Rp 6.000, turun dari harga sebelumnya yang sempat mencapai Rp9.000 per botol.

‎Bank sampah memprioritaskan minyak jelantah dari konsumsi rumah tangga biasa.  Minyak jelantah dari usaha kuliner besar, seperti penjual gorengan/bebek, jarang diterima atau dipisahkan karena kondisinya yang cenderung sangat hitam dan kotor.

‎"Kami juga menerima, cuma kan kadang mungkin (perlu dipisahkan) karena harganya lebih murah gitu kan, kalau yang kotor, itu Rp5.000," ujar Dwi kepada Kompas.com, Senin (28/9/2026).

‎Bank sampah juga memilah sampah plastik botol dengan aturan ketat yang disesuaikan dengan permintaan pengepul. Perbedaan harga botol plastik ditentukan jenis warna plastik, bukan merek produk.

Botol plastik bening memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan yang berwarna. Misalnya, botol plastik berwarna hijau dikategorikan rosokan karena disamakan dengan barang plastik bekas lain, seperti ember.

‎Bank sampah menimbang sampah setiap hari Minggu pagi, mencatatnya dalam buku tabungan dan membiarkan saldonya mengendap. Jenis sampah yang diterima sangat beragam, mulai dari kardus, botol plastik, sampai gelas air mineral.

Untuk styrofoam membutuhkan tonase besar untuk bernilai ekonomis tinggi. Berdasarkan data bulan September, bank sampah ini berhasil mengumpulkan 355 kilogram sampah anorganik, dengan kardus sebagai penyumbang terbesar atau 168 kilogram, yang jika diuangkan mencapai Rp 900.400. 

Baca juga: Urutan Pesan yang Tepat Tingkatkan Keberhasilan Ajakan Peduli Lingkungan

‎

Seorang warga di Surabaya menyetorkan sampah anorganik ke bank sampah di kampungnya di Surabaya, pada Senin (28/9/2026).Manda Firmansyah/Kompas.com Seorang warga di Surabaya menyetorkan sampah anorganik ke bank sampah di kampungnya di Surabaya, pada Senin (28/9/2026).

‎Saldo tabungan sampah warga dijadikan agunan untuk meminjam uang di koperasi. Jika warga tersebut tidak terdaftar aktif sebagai nasabah bank sampah, koperasi tidak akan mencairkan pinjaman.

Saat tenggat waktu pembayaran tiba, warga tidak perlu repot mencari uang tunai, karena cicilan akan dipotong dari saldo tabungan sampah mereka dan sisanya bisa dicairkan mendekati Hari Raya Idul Fitri.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
Swasta
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
LSM/Figur
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau