Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengejar Nilai Tambah, Menekan Jejak Karbon dan Limbah Hilirisasi Nikel

Kompas.com, 30 September 2026, 23:08 WIB
Agung Dwi E,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Hilirisasi nikel semakin menjadi bagian penting dari transformasi ekonomi Indonesia. Sepanjang 2025, investasi hilirisasi nikel mencapai Rp 185,2 triliun, sebagaimana dilansir dari data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Hingga semester I 2026, nilai investasi dis ektor tersebut sudah mencapai Rp 71 triliun.

Dampak hilirisasi tidak hanya tecermin dalam nilai investasi nasional. Di daerah penghasil nikel, aktivitas pertambangan dan pengolahan ikut membentuk struktur ekonomi setempat.

Di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, misalnya, sektor pertambangan dan penggalian menyumbang Rp 13,29 triliun dari produk domestik regional bruto (PDRB) daerah sebesar Rp 31,65 triliun pada 2025. Porsinya sekitar 42 persen. Sementara itu, sektor industri pengolahan Rp 1,09 triliun dengan porsi 3,4 persen.

Nilai tambah tersebut datang bersamaan dengan peningkatan kebutuhan energi yang besar. Nikel merupakan salah satu mineral yang permintaannya ikut terdorong oleh pertumbuhan kendaraan listrik.

International Energy Agency (IEA) mencatat, permintaan nikel global meningkat 6–8 persen pada 2024 dengan sektor energi menyumbang 85 persen pertumbuhan permintaan berbagai mineral baterai seperti nikel, kobalt, grafit, dan litium.

Di sisi lain, pengolahan nikel termasuk aktivitas dengan kebutuhan energi tinggi. IEA mencatat, intensitas karbon rata-rata listrik yang digunakan dalam pemurnian nikel mencapai sekitar 603 gram CO2 per kWh, termasuk yang tertinggi dibandingkan sejumlah mineral yang dianalisis.

Persoalan jejak karbon tersebut menjadi tantangan di industri pengolahan nikel nasional. Terlebih, standar pasar global mulai bergerak ke arah yang lebih ketat.

Uni Eropa, misalnya, melalui Battery Regulation telah mengatur deklarasi jejak karbon baterai dan penerapan carbon footprint performance class untuk baterai kendaraan listrik. Ketentuan kelas kinerja tersebut mulai berlaku pada 18 Agustus 2026 dengan implementasi teknis yang bergantung pada pemberlakuan aturan turunannya.

Regulasi yang sama juga mengatur kewajiban due diligence bagi pelaku usaha baterai terkait rantai pasok bahan baku yang akan berlaku pada 18 Agustus 2027.

Dekarbonasi hilirisasi nasional

Menurunkan jejak karbon industri nikel bukan perkara sederhana. Sebagian besar fasilitas pengolahan dibangun di kawasan yang membutuhkan pasokan listrik besar. Pasokan itu sebagian besar disuplai oleh pembangkit listrik captive berbahan bakar batu bara.

Pemerintah pun menempatkan perubahan sumber energi sebagai salah satu kunci untuk menekan emisi industri nikel. Pada Juni 2025, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) bersama World Resources Institute (WRI) Indonesia meluncurkan Peta Jalan Dekarbonisasi Industri Nikel Nasional.

Peta jalan itu menargetkan pengurangan emisi industri nikel hingga 81 persen pada 2045. Penetapan target ini menjadi penting. Sebab, tanpa intervensi, WRI memperkirakan, emisi industri nikel dapat meningkat hingga 86 persen pada 2045.

Ada empat jalur yang disiapkan, yakni efisiensi energi dan material, penggantian bahan bakar, substitusi material, serta penggunaan listrik rendah karbon. Dari keempatnya, peralihan menuju listrik rendah karbon menjadi perhatian utama karena pembangkit captive berbasis batu bara merupakan sumber emisi terbesar dalam industri nikel.

Pemerintah melihat potensi energi surya, angin, air, biomassa, hingga hidrogen hijau untuk mengurangi ketergantungan tersebut.

Kebutuhannya pun tidak kecil. Peta jalan nasional merekomendasikan pembangunan sekitar 47,3 gigawatt pembangkit listrik energi terbarukan untuk mendukung dekarbonisasi industri nikel hingga 2045. Di sisi lain, pemerintah juga didorong menyiapkan harga energi rendah karbon yang kompetitif dan standar nikel hijau untuk memberikan kepastian bagi industri dan pasar.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
Pemerintah
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
Swasta
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau