Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Paradoks Investasi Lahan di Balik Frasa "Habis Kebakaran, Terbitlah Sawit"

Kompas.com, 1 Oktober 2026, 19:41 WIB
Manda Firmansyah,
Andika Aditia

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Penyebab kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kompleks, yang man tidak semua perkebunan kelapa sawit 'dibangun' di atas lahan yang telah terbakar sebelumnya. Namun, frasa populer 'habis kebakaran, terbitlah sawit' yang mencuat di masyarakat harus diinterpretasikan sebagai peringatan untuk sistem manajemen pembangunan berbasis lahan.

‎Lebih dari sekadar apakah kebakaran terjadi untuk membuka lahan, permasalahan utama yang lebih mendasar adalah apakah sistem ekonomi, investasi, dan tata kelola lahan di Indonesia memungkinkan kerusakan lingkungan mengubah alam menjadi semakin menarik untuk pengembangan.

‎Menurut pemerhati lingkungan dan pembangunan berkelanjutan, E. Kurniawan Padma, jika jawabannya masih dapat diterima, maka Indonesia memiliki masalah struktural yang perlu ditangani segera. Paradigma konvensional memandang kelapa sawit sebagai instrumen investasi yang sangat jelas. 

Baca juga: Kebakaran Lahan Gambut Akibat El Nino Bisa Terulang pada 2027

‎Paradoks Investasi Lahan

‎Investor menghitung nilai tanah, biaya pengembangan, produktivitas, harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO), arus kas, tingkat ‎pengembalian internal (IRR), nilai aktual (NPV), dan waktu pengembalian.

‎"Pertanyaan dasar adalah berapa banyak investasi yang harus dilakukan dan berapa banyak keuntungan yang akan dihasilkan? ‎Industri sawit Indonesia telah berkembang secara signifikan sebagai hasil dari model tersebut, yang juga berkontribusi besar pada ekonomi negara. Tetapi dunia telah berubah. Jika seseorang ingin melakukan investasi di sektor sawit, mereka tidak lagi hanya menghadapi masalah harga dan produksi," ujar Kurniawan dalam keterangan tertulis, Minggu (13/9/2026).

‎Namun, investor sekarang perlu mempertimbangkan faktor lain ketika hendak berinvestasi ke perkebunan kelapa sawit, seperti kebakaran, deforestasi, emisi karbon, biodiversitas, konflik sosial, akses pasar, reputasi, pembiayaan, dan regulasi.

‎Jika perkebunan dibangun di lingkungan alam yang memiliki nilai ekologis tinggi atau menghadapi tekanan pasar dan pembiayaan akibat risiko keberlanjutan, maka itu bisa menjadi investasi yang berisiko. 

‎Imbasnya, ukuran keberhasilan investasi berbasis lahan tidak lagi terbatas pada pengembalian finansial. Investasi kini harus beralih ke Integrated Value Return, yang mempertimbangkan nilai finansial, nilai alam, nilai sosial, dan ketahanan investasi jangka panjang.

‎Hutan atau bentang alam yang tetap utuh memiliki nilai ekologis tinggi. Namun, harga pasar tidak selalu menunjukkan nilai dalam banyak model ekonomi konvensional. Hutan menyediakan air, menyimpan karbon, melindungi tanah, menjaga iklim mikro, menyediakan habitat satwa, dan menjadi ‎sumber kehidupan manusia. Banyak keuntungan tidak menghasilkan uang langsung, sehingga nilai hutan seringkali tidak dicatat dengan baik dalam neraca investasi.

Baca juga: Kebakaran Lahan di Rinjani, 70 Hektare Lahan Rusak

‎Sebaliknya, ketika suatu wilayah mengalami degradasi, ia dapat kehilangan sebagian nilai ekologisnya, dengan tetap dianggap sebagai wilayah berpotensi ekonomi yang besar. 

‎"Ini adalah paradoks yang perlu diselesaikan. Kita tidak boleh membangun sistem pembangunan yang secara tidak langsung menciptakan gagasan bahwa hutan utuh menghalangi investasi sementara lahan yang rusak menawarkan peluang investasi," tutur Kurniawan.

‎Indonesia perlu menegaskan untuk tidak memberikan stimulus ekonomi dari kerusakan lingkungan. Kerusakan lingkungan yang menghasilkan keuntungan ekonomi tidak boleh terjadi. Api dilarang digunakan untuk mengurangi nilai ekologis sebuah wilayah dan kemudian menjadikannya lebih menarik secara ekonomi. ‎Setelah kebakaran, kawasan tidak boleh secara otomatis diperlakukan sebagai lahan kosong. 

‎Di sisi lain, dalam memandang industri kelapa sawit, kata dia, harus bersikap objektif, karena sektor strategis ini mendorong ekonomi lokal, dan ‎memberikan pendapatan kepada jutaan masyarakat.

‎"Diskusi tentang sawit tidak boleh ‎berhenti pada perdebatan hitam-putih tentang :sawit atau hutan'. Di mana sawit dibuat adalah pertanyaan yang lebih penting. Bagaimana sawit diproduksi? Bagaimana nilai alam dapat dipertahankan?," ucapnya.

‎Ia menganggap, masa depan kepala sawit tidak akan ditentukan oleh jumlah lahan yang dibuka. Sebaliknya, masa depan sawit akan ditentukan oleh peningkatan dalam hal produktivitas, efisiensi, teknologi, ekonomi sirkular, kolaborasi dengan petani, pengurangan emisi, dan perlindungan biodiversitas.Paradigma baru perlu diubah dari gagasan menambah luas lahan yang dibutuhkan untuk memproduksi lebih banyak, menjadi manajemen semakin bagus demi nilai berkelanjutan. 

‎"Konsep 'tanah yang tepat' dapat dimulai dengan gagasan bahwa nilai alam adalah dasar dari keputusan investasi. Apakah lahan ini tepat untuk dikembangkan? Ini adalah pertanyaan pertama yang harus dijawab sebelum berbicara tentang investasi, pembangunan kebun, atau produksi. Bukan hanya itu, apakah lahan ini dapat diakses? Tidak ada bukti bahwa lahan yang tersedia layak dikembangkan," ujar Kurniawan.

Baca juga: Perusahaan Sawit Didenda Rp 282 Miliar Atas Kasus Kebakaran Lahan

‎Setiap investasi berbasis lahan harus mempertimbangkan status dan kepastian hukum, nilai karbon, biodiversitas, integritas ekosistem, fungsi tata air, risiko kebakaran, risiko gambut, konektivitas habitat, nilai sosial masyarakat, risiko konflik, dan ketahanan terhadap krisis iklim.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Pemerintah
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Pemerintah
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
Pemerintah
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau