Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ancaman Nyata Kenaikan Air Laut, Ribuan Orang Berpotensi Jadi Pengungsi

Kompas.com, 1 Oktober 2026, 19:42 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Dunia diprediksi akan memiliki 216 juta pengungsi iklim pada pertengahan abad ini.

Pengungsi iklim sendiri adalah orang-orang yang terpaksa meninggalkan rumah atau daerah tempat tinggal mereka karena perubahan lingkungan akibat iklim yang semakin memburuk, sehingga wilayah tersebut tidak lagi aman atau layak untuk dihuni.

Pada banyak kasus, pemicu utamanya adalah panas ekstrem, kekeringan, atau banjir.

Analisis terbaru dari Bank Dunia yang berjudul Groundswell pun memberikan perkiraan untuk setiap wilayah.

Melansir Climate Crisis 247, Selasa (8/9/2026) mereka akan pindah dari daerah yang kekurangan air dan penurunan hasil panen, serta dari wilayah yang dilanda kenaikan permukaan laut dan gelombang badai. Namun masalahnya adalah mereka mungkin tidak memiliki tempat tujuan.

Baca juga: Kota di Eropa Belum Maksimal Gunakan Ruang Hijau untuk Atasi Perubahan Iklim

Ada beberapa negara yang kemungkinan tidak lagi memiliki penduduk sama sekali pada akhir abad ini karena mengungsi, yaitu Maladewa, Tuvalu, Kepulauan Marshall, Nauru, dan Kiribati.

Hal tersebut terjadi karena sebagian besar pulau ini hanya berada beberapa meter di atas permukaan laut. Yang paling memprihatinkan adalah Maladewa, di mana titik tertingginya hanya sekitar 2,3 meter di atas permukaan laut.

Laporan Groundswell mencatat Maladewa adalah negara dengan wilayah terendah di dunia, di mana lebih dari 80 persen pulaunya berada kurang dari 1 meter di atas permukaan laut.

Negara tersebut saat ini memiliki penduduk sebanyak 600.000 jiwa. Daratan besar terdekat adalah India, yang berjarak sekitar 750 kilometer. Sangat sulit dibayangkan bagaimana orang sebanyak ini bisa dipindahkan dan ke mana mereka akan bermukim.

Sedangkan Tuvalu memiliki populasi 11.000 jiwa. Daratan besar terdekat adalah Australia. Kedua negara ini sudah mulai melakukan persiapan.

"Lebih dari sepertiga dari 11.000 penduduk Tuvalu telah mengajukan visa iklim untuk pindah ke Australia berdasarkan kesepakatan yang dibuat kedua negara dua tahun lalu," menurut laporan NBC.

Sementara Kepulauan Marshall memiliki populasi 53.000 jiwa yang tersebar di beberapa pulau. Jarak mereka lebih dari 1.600 kilometer dari daratan besar mana pun.

University of Hawaii melaporkan selama dekade terakhir, penduduk Kepulauan Marshall dihantam dua bencana beruntun yang merusak yaitu kekeringan telah menurunkan pasokan air minum hingga tingkat darurat, dan banjir akibat pasang laut telah merendam seluruh pulau.

Baca juga: Dampak Perubahan Iklim, 560 Juta Anak Dunia Terpapar Panas Ekstrem Tambahan

Republik Nauru hanya memiliki luas wilayah sekitar 21 kilometer persegi. Negara ini memiliki populasi 8.000 jiwa dan merupakan negara terkecil ketiga di dunia berdasarkan luas daratan. Jarak ke Australia mencapai 4.800 kilometer.

Selain itu masih ada Kiribati yang memiliki populasi 130.000 jiwa. Anote Tong, presiden negara tersebut hingga tahun 2015, menyampaikan agar rakyat dapat bertahan hidup, mereka harus bermigrasi.

"Pilihannya adalah kita menunggu sampai saat di mana kita harus memindahkan orang-orang secara massal, atau kita mempersiapkan mereka mulai dari sekarang," katanya.

Perubahan iklim membuat negara tersebut menghadapi tiga masalah utama yakni seluruh penduduk mereka harus pergi meninggalkan tanah airnya, sebagian besar berada ribuan kilometer jauhnya dari daratan besar mana pun. Dan yang terakhir adalah tidak ada dorongan atau insentif langsung bagi negara lain untuk mau menerima warga mereka.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
Pemerintah
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
Swasta
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau