KOMPAS.com - Dunia diprediksi akan memiliki 216 juta pengungsi iklim pada pertengahan abad ini.
Pengungsi iklim sendiri adalah orang-orang yang terpaksa meninggalkan rumah atau daerah tempat tinggal mereka karena perubahan lingkungan akibat iklim yang semakin memburuk, sehingga wilayah tersebut tidak lagi aman atau layak untuk dihuni.
Pada banyak kasus, pemicu utamanya adalah panas ekstrem, kekeringan, atau banjir.
Analisis terbaru dari Bank Dunia yang berjudul Groundswell pun memberikan perkiraan untuk setiap wilayah.
Melansir Climate Crisis 247, Selasa (8/9/2026) mereka akan pindah dari daerah yang kekurangan air dan penurunan hasil panen, serta dari wilayah yang dilanda kenaikan permukaan laut dan gelombang badai. Namun masalahnya adalah mereka mungkin tidak memiliki tempat tujuan.
Baca juga: Kota di Eropa Belum Maksimal Gunakan Ruang Hijau untuk Atasi Perubahan Iklim
Ada beberapa negara yang kemungkinan tidak lagi memiliki penduduk sama sekali pada akhir abad ini karena mengungsi, yaitu Maladewa, Tuvalu, Kepulauan Marshall, Nauru, dan Kiribati.
Hal tersebut terjadi karena sebagian besar pulau ini hanya berada beberapa meter di atas permukaan laut. Yang paling memprihatinkan adalah Maladewa, di mana titik tertingginya hanya sekitar 2,3 meter di atas permukaan laut.
Laporan Groundswell mencatat Maladewa adalah negara dengan wilayah terendah di dunia, di mana lebih dari 80 persen pulaunya berada kurang dari 1 meter di atas permukaan laut.
Negara tersebut saat ini memiliki penduduk sebanyak 600.000 jiwa. Daratan besar terdekat adalah India, yang berjarak sekitar 750 kilometer. Sangat sulit dibayangkan bagaimana orang sebanyak ini bisa dipindahkan dan ke mana mereka akan bermukim.
Sedangkan Tuvalu memiliki populasi 11.000 jiwa. Daratan besar terdekat adalah Australia. Kedua negara ini sudah mulai melakukan persiapan.
"Lebih dari sepertiga dari 11.000 penduduk Tuvalu telah mengajukan visa iklim untuk pindah ke Australia berdasarkan kesepakatan yang dibuat kedua negara dua tahun lalu," menurut laporan NBC.
Sementara Kepulauan Marshall memiliki populasi 53.000 jiwa yang tersebar di beberapa pulau. Jarak mereka lebih dari 1.600 kilometer dari daratan besar mana pun.
University of Hawaii melaporkan selama dekade terakhir, penduduk Kepulauan Marshall dihantam dua bencana beruntun yang merusak yaitu kekeringan telah menurunkan pasokan air minum hingga tingkat darurat, dan banjir akibat pasang laut telah merendam seluruh pulau.
Baca juga: Dampak Perubahan Iklim, 560 Juta Anak Dunia Terpapar Panas Ekstrem Tambahan
Republik Nauru hanya memiliki luas wilayah sekitar 21 kilometer persegi. Negara ini memiliki populasi 8.000 jiwa dan merupakan negara terkecil ketiga di dunia berdasarkan luas daratan. Jarak ke Australia mencapai 4.800 kilometer.
Selain itu masih ada Kiribati yang memiliki populasi 130.000 jiwa. Anote Tong, presiden negara tersebut hingga tahun 2015, menyampaikan agar rakyat dapat bertahan hidup, mereka harus bermigrasi.
"Pilihannya adalah kita menunggu sampai saat di mana kita harus memindahkan orang-orang secara massal, atau kita mempersiapkan mereka mulai dari sekarang," katanya.
Perubahan iklim membuat negara tersebut menghadapi tiga masalah utama yakni seluruh penduduk mereka harus pergi meninggalkan tanah airnya, sebagian besar berada ribuan kilometer jauhnya dari daratan besar mana pun. Dan yang terakhir adalah tidak ada dorongan atau insentif langsung bagi negara lain untuk mau menerima warga mereka.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya