Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Karhutla Bakar 1,32 Juta Hektar hingga Agustus 2026, Lahan Gambut Banyak Jadi Kebun Sawit

Kompas.com, 2 Oktober 2026, 19:40 WIB
Manda Firmansyah,
Andika Aditia

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Luas area terbakar di Indonesia selama periode bulan Januari-Agustus 2026 mencapai 1,32 juta hektare.

Berdasarkan analisis model Area Indikatif Terbakar (AIT) MADANI Berkelanjutan, secara berurutan, provinsi dengan wilayah terdampak terluas adalah Kalimantan Barat (388.771 hektare), Kalimantan Tengah (245.102 hektare), dan Papua Selatan (149.076 hektare).

‎Lebih dari separuh AIT atau 51,14 persen terdeteksi di wilayah izin dan konsesi dengan seluas 675 ribu hektare.

Dari total tersebut, yang terbesar berada di izin perkebunan kelapa sawit sebesar 246,035 ha. Disusul kemudian, area izin yang tumpang tindih 166,208 ha, dan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) seluas 137,116 ha, konsesi migas 84,670 ha, dan minerba 41,740 ha.

‎Direktur Eksekutif MADANI Berkelanjutan, Nadia Hadad mengatakan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan kegagalan sistem, bukanlah semata-mata bencana alam. Ini diperparah dengan kenyataan bahwa pembahasan karhutla selama ini masih berkutat pada data luasan terbakar dan aspek teknis pengendalian api.

Baca juga: Karhutla di Gambut Bisa Ganggu Regenerasi Alami, Pakar UGM Jelaskan Sebabnya

‎Menurut Nadia, dominasi pembahasan tersebut menyebabkan perspektif kelompok rentan di garis depan dampak belum memperoleh ruang yang sebanding. 

‎“Kelompok rentan seperti penyandang disabilitas, anak-anak, perempuan, termasuk perempuan hamil, lansia, dan Masyarakat Adat dan komunitas lokal yang menjaga hutan menghadapi risiko yang berlipat ganda,” ujar Nadia dalam keterangan tertulis, Sabtu (12/9/2026).

‎Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Cabang Pontianak, Kalimantan Barat, Yuli Suryantika  menyinggung beban perempuan yang berlipat ganda akibat karhutla. Pekerjaan rumah tangga dan ekonomi yang sudah menumpuk, kini bertambah dengan membersihkan abu, mencuci lebih sering, merawat keluarga yang sakit, sampai membeli masker dan obat.

‎Di sisi lain, pendapatan keluarga mereka justru menurun. Anak-anak pun kehilangan ruang bermain dan belajar disebabkan gangguan pernapasan maupun ketimpangan akses pembelajaran daring darurat. Namun, perempuan bukan hanya korban. Di Ketapang, lebih dari 140 perempuan di 10 desa aktif dalam inisiatif The Power of Mama untuk patroli, pencegahan, dan edukasi karhutla. 

‎“Perempuan yang selalu di garis depan dalam hal dampak semestinya juga mendapat tempat dalam pengambilan kebijakan,” ucapnya.

‎Syarifah Nurul, penyandang disabilitas tuli dari Kota Pontianak mengatakan, karhutla membawa ancaman berbeda bagi rekan-rekan tuli. Ketika asap tebal mengaburkan pandangan, mereka kehilangan 'jendela' utama untuk memahami situasi sekitar, di mana orang yang bisa mendengar masih tertolong lewat suara.

‎“Bagi kami, mata adalah jendela untuk melihat dunia. Ketika kabut asap menghalangi pandangan, ami seperti kehilangan arah dan merasa sunyi,” tutur Nurul.

Baca juga: Tekan Risiko Kebakaran Gambut, Sinergi Lintas Sektor di Cengal Diperkuat

‎Lahan gambut berubah menjadi kebun sawit

‎Keberadaan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BGRM) mencerminkan pentingnya kelembagaan khusus dalam mengawal restorasi gambut.

Research Manager Pantau Gambut, Syafiq Gumilang mengatakan, secara data, tren penurunan kebakaran gambut memang bertepatan dengan periode berjalannya program estorasi oleh BRGM, meski tentu ada faktor-faktor lain yang turut memengaruhi. 

‎Ironisnya, setelah BRGM dibubarkan, mandat restorasi dialihkan ke berbagai pihak dengan kewenangan serta dukungan anggaran yang semakin terbatas dan birokrasi lebih berlapis.

‎“Kita perlu melihat kembali kualitas restorasi yang sudah dilakukan. Dari titik-titik sampel gambut terbakar di area restorasi yang pernah kami amati, hanya sekitar 1 persen yang kembali menjadi hutan. Selebihnya berubah menjadi perkebunan sawit atau monokultur, selain juga ditemukannya sejumlah perkebunan sawit ilegal di area KHG (kesatuan hidrologis gambut)," ujar Syafiq.

‎Jadi, persoalannya bukan hanya siapa yang diberi kewenangan untuk merestorasi. Namun, juga terkait apakah restorasi tersebut benar-benar mengembalikan fungsi ekologis gambut.

Baca juga: ITS Kembangkan Traktor Perahu Listrik, Ubah Pertanian di Lahan Gambut Jadi Lebih Ramah Lingkungan

Tanpa kelembagaan yang kuat, pengawasan konsisten, dan target pemulihan ekosistem jelas, restorasi gambut berisiko berhenti pada pekerjaan teknis belaka, sehingga tidak benar-benar mengembalikan gambut sebagai ekosistem.

‎

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau