KOMPAS.com - Studi baru memperingatkan bahwa lebih dari seratus spesies invasif berpotensi menginvasi wilayah perairan pesisir di seluruh dunia pada pertengahan abad ini seiring naiknya permukaan air laut akibat perubahan iklim.
Melansir Independent, Kamis (29/9/2026) spesies invasif seperti kepiting bulu Cina (Chinese mitten crab), tiram Pasifik, dan udang windu Asia (Asian tiger shrimp) dapat memicu hilangnya keanekaragaman hayati serta mengubah ekosistem, yang berujung pada dampak kerugian ekonomi yang parah.
Meskipun penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa perubahan iklim dapat menggeser sebaran spesies di darat dan laut, dampak dari masuknya spesies laut non-asli yang invasif ke area-area pesisir akibat kenaikan air laut masih belum banyak dipahami.
"Kenaikan permukaan air laut dapat membuka habitat baru yang memungkinkan perluasan spesies laut non-asli ke daratan pesisir yang tergenang air, hal yang selama ini belum banyak diteliti," jelas studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature Ecology & Evolution.
Baca juga: Daya Rusak Spesies Invasif Ternyata Jauh Melampaui Kepunahan Lokal
Laporan tersebut mencatat, muara sungai menjadi wilayah yang paling rentan terhadap invasi spesies laut ini, karena kawasan tersebut merupakan pusat kegiatan manusia.
Penelitian ini memodelkan sebaran masa depan dari 122 spesies laut non-asli di bawah skenario kenaikan air laut yang terus berlanjut. Skenario emisi karbon tingkat sedang memperkirakan permukaan air laut global akan naik rata-rata 20 cm pada tahun 2050.
Dalam skenario tersebut, studi ini memprediksi bahwa sekitar 290.000 hingga 470.000 km² daratan pesisir yang terendam akan menjadi habitat yang cocok bagi spesies invasif. Spesies ini umumnya memiliki keunggulan alami yang membuat mereka menang bersaing dibanding spesies asli.
Spesies invasif seperti tiram Pasifik, kepiting biru Atlantik, siput pemangsa Veined rapa whelk, dan udang windu Asia diperkirakan dapat menguasai dua pertiga daratan pesisir yang terendam di wilayah tempat mereka sudah berkembang biak saat ini.
Beberapa biota laut yang diteliti, seperti teritip bergaris, anemon laut hijau garis-oranye, dan kepiting renang Indo-Pasifik, diperkirakan menjadi yang paling banyak mendapatkan perluasan habitat dari area terendam tersebut. Mereka kemungkinan besar akan menyebar paling masif di kawasan dekat muara sungai.
Studi ini menekankan pentingnya memasukkan faktor kenaikan air laut ke dalam penilaian risiko invasi spesies asing.
Baca juga: Beberapa Kota Pesisir Tenggelam Lebih Cepat daripada Kenaikan Air Laut
"Kawasan pesisir di sekitar muara sungai umumnya padat penduduk dan menjadi salah satu wilayah laut yang paling penting secara ekologi maupun ekonomi," jelas para peneliti.
Mereka menambahkan, invasi spesies non-asli ke arah daratan berisiko merusak keanekaragaman hayati sekaligus mengganggu aktivitas manusia.
Oleh karena itu, para peneliti mendesak diperlukannya strategi pemantauan dan pengelolaan sejak dini untuk menekan dampak buruk terhadap keanekaragaman hayati, produktivitas sektor perikanan, serta fungsi ekosistem di kawasan pesisir.
Meski demikian, mereka memberi catatan bahwa habitat baru yang terendam air laut tidak selalu langsung bisa dikuasai dengan cepat oleh spesies invasif tersebut.
"Terlepas dari berbagai kemungkinan tantangan tersebut, penelitian kami menyajikan data berharga yang dapat membantu penyusunan rencana pengelolaan yang tepat sasaran terutama mengingat masih minimnya strategi pengawasan dan pemantauan menyeluruh terhadap invasi spesies laut di wilayah daratan akibat luapan air laut," pungkas para ilmuwan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya