Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Spesies Invasif Diperkirakan Makin Merajalela Seiring Naiknya Air Laut

Kompas.com, 2 Oktober 2026, 20:00 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Studi baru memperingatkan bahwa lebih dari seratus spesies invasif berpotensi menginvasi wilayah perairan pesisir di seluruh dunia pada pertengahan abad ini seiring naiknya permukaan air laut akibat perubahan iklim.

Melansir Independent, Kamis (29/9/2026) spesies invasif seperti kepiting bulu Cina (Chinese mitten crab), tiram Pasifik, dan udang windu Asia (Asian tiger shrimp) dapat memicu hilangnya keanekaragaman hayati serta mengubah ekosistem, yang berujung pada dampak kerugian ekonomi yang parah.

Meskipun penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa perubahan iklim dapat menggeser sebaran spesies di darat dan laut, dampak dari masuknya spesies laut non-asli yang invasif ke area-area pesisir akibat kenaikan air laut masih belum banyak dipahami.

"Kenaikan permukaan air laut dapat membuka habitat baru yang memungkinkan perluasan spesies laut non-asli ke daratan pesisir yang tergenang air, hal yang selama ini belum banyak diteliti," jelas studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature Ecology & Evolution.

Baca juga: Daya Rusak Spesies Invasif Ternyata Jauh Melampaui Kepunahan Lokal

Muara sungai paling rentan invasi

Laporan tersebut mencatat, muara sungai menjadi wilayah yang paling rentan terhadap invasi spesies laut ini, karena kawasan tersebut merupakan pusat kegiatan manusia.

Penelitian ini memodelkan sebaran masa depan dari 122 spesies laut non-asli di bawah skenario kenaikan air laut yang terus berlanjut. Skenario emisi karbon tingkat sedang memperkirakan permukaan air laut global akan naik rata-rata 20 cm pada tahun 2050.

Dalam skenario tersebut, studi ini memprediksi bahwa sekitar 290.000 hingga 470.000 km² daratan pesisir yang terendam akan menjadi habitat yang cocok bagi spesies invasif. Spesies ini umumnya memiliki keunggulan alami yang membuat mereka menang bersaing dibanding spesies asli.

Spesies invasif seperti tiram Pasifik, kepiting biru Atlantik, siput pemangsa Veined rapa whelk, dan udang windu Asia diperkirakan dapat menguasai dua pertiga daratan pesisir yang terendam di wilayah tempat mereka sudah berkembang biak saat ini.

Beberapa biota laut yang diteliti, seperti teritip bergaris, anemon laut hijau garis-oranye, dan kepiting renang Indo-Pasifik, diperkirakan menjadi yang paling banyak mendapatkan perluasan habitat dari area terendam tersebut. Mereka kemungkinan besar akan menyebar paling masif di kawasan dekat muara sungai.

Studi ini menekankan pentingnya memasukkan faktor kenaikan air laut ke dalam penilaian risiko invasi spesies asing.

Baca juga: Beberapa Kota Pesisir Tenggelam Lebih Cepat daripada Kenaikan Air Laut

"Kawasan pesisir di sekitar muara sungai umumnya padat penduduk dan menjadi salah satu wilayah laut yang paling penting secara ekologi maupun ekonomi," jelas para peneliti.

Mereka menambahkan, invasi spesies non-asli ke arah daratan berisiko merusak keanekaragaman hayati sekaligus mengganggu aktivitas manusia.

Oleh karena itu, para peneliti mendesak diperlukannya strategi pemantauan dan pengelolaan sejak dini untuk menekan dampak buruk terhadap keanekaragaman hayati, produktivitas sektor perikanan, serta fungsi ekosistem di kawasan pesisir.

Meski demikian, mereka memberi catatan bahwa habitat baru yang terendam air laut tidak selalu langsung bisa dikuasai dengan cepat oleh spesies invasif tersebut.

"Terlepas dari berbagai kemungkinan tantangan tersebut, penelitian kami menyajikan data berharga yang dapat membantu penyusunan rencana pengelolaan yang tepat sasaran terutama mengingat masih minimnya strategi pengawasan dan pemantauan menyeluruh terhadap invasi spesies laut di wilayah daratan akibat luapan air laut," pungkas para ilmuwan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Pemerintah
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Pemerintah
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
Pemerintah
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau