Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mayoritas Perusahaan Tetap Bikin Laporan ESG, tapi Kurangi Publikasi

Kompas.com, 2 Oktober 2026, 20:12 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

Sumber esgdive

KOMPAS.com - Sebagian besar perusahaan yang merilis laporan keberlanjutan tahun lalu memilih untuk kembali menerbitkannya tahun ini. Namun, semakin sedikit perusahaan yang mengumumkan laporan tersebut ke publik. Selain itu istilah yang mereka gunakan terkait isu keberlanjutan terus berubah.

Hal ini terungkap dalam laporan terbaru dari Teneo, firma penasihat global yang mendampingi para CEO dan pimpinan perusahaan besar.

Ini adalah tahun keenam Teneo menganalisis perkembangan laporan keberlanjutan perusahaan. Firma tersebut menyatakan bahwa analisis ini dirancang untuk membantu perusahaan merencanakan pelaporan pada tahun 2027.

Baca juga: Perusahaan Belum Terdorong Masuk Pasar Karbon meski Regulasi Makin Ketat

Melansir ESG Dive, Kamis (1/10/2026) laporan yang dirilis pada 11 September tersebut menganalisis 250 laporan keberlanjutan dari perusahaan-perusahaan skala besar (S&P 500) yang terbit antara 1 Januari hingga 31 Agustus tahun ini.

Teneo menemukan, 87 persen perusahaan yang merilis laporan pada periode yang sama tahun lalu tetap menerbitkannya pada tahun 2026.

Meskipun tetap merilis laporan keberlanjutan, hanya 32 persen perusahaan yang mengeluarkan siaran pers untuk mengumumkannya turun drastis, dari 62 persen pada tahun 2022.

Selain itu, walau 49 persen laporan masih menggunakan kata "keberlanjutan" pada judulnya, semakin banyak perusahaan yang menggantinya dengan istilah seperti "dampak" atau "tujuan", dan semakin jarang yang menggunakan istilah "ESG" (Environmental, Social, and Governance) pada judul laporan mereka.

Teneo menemukan, hanya 4 persen laporan yang mencantumkan istilah "ESG" pada judulnya, turun drastis dari 35 persen pada tahun 2022.

Istilah "ESG" juga semakin menghilang dari isi laporan, dengan pemakaian rata-rata hanya 10 kali, alias merosot 50 persen dibanding tahun 2025.

Meski semakin sedikit perusahaan yang mempublikasikan laporan keberlanjutan mereka serta mengubah istilah di dalamnya, laporan ini menemukan makin banyak perusahaan yang melakukan penilaian double materiality. Itu merupakan kajian yang memeriksa dampak bisnis terhadap lingkungan dan masyarakat, selain dampak finansial. Mereka juga mulai bersiap menghadapi standar pelaporan internasional.

"Dunia keberlanjutan terus diwarnai oleh pengawasan yang makin ketat dan ketidakpastian. Konflik politik yang berlangsung serta perubahan regulasi global terus membentuk harapan dari para pemangku kepentingan kunci," tulis laporan tersebut.

Baca juga: PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis

Akibat tingginya pengawasan, Teneo menemukan bahwa banyak laporan keberlanjutan tahun 2026 diterbitkan lebih lambat dibanding tahun 2025. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh pemeriksaan hukum dan pasar yang lebih ketat.

Laporan tersebut juga menyatakan bahwa audit dari pihak ketiga independen kini telah menjadi standar wajib, di mana 75 persen perusahaan telah mengaudit data laporan mereka. Angka ini terus naik secara konsisten sejak 2022, yang saat itu baru mencapai 54 persen.

Laporan keberlanjutan tahun 2026 ini juga menjadi momen pembuktian capaian target tahun 2025. Jumlah perusahaan yang melaporkan perkembangan target ESG cenderung stabil di angka 30 persen. Namun, ada 12 persen perusahaan yang mengaku meleset dari target memilih untuk mengubah atau menyesuaikan kembali target mereka.

"Persyaratan kepatuhan yang akan datang serta pengawasan politik diperkirakan makin mendorong pentingnya kredibilitas data keberlanjutan yang dilaporkan," tulis Teneo.

Baca juga: GRI Siapkan Standar Pelaporan ESG Khusus Industri Makanan dan Minuman

Lebih lanjut, seiring makin meluasnya penggunaan kecerdasan buatan (AI), semakin banyak perusahaan yang memasukkan kebijakan tata kelola AI ke dalam laporan mereka. Sebanyak 55 persen perusahaan telah mencantumkan kebijakan AI tahun ini, dengan 12 persen di antaranya menjabarkan rinciannya secara spesifik.

Namun, ketika kebijakan soal AI makin gencar, rincian mengenai demografi tenaga kerja justru makin menghilang dari laporan seiring memanasnya sorotan terhadap program keberagaman.

Teneo menemukan, 72 persen perusahaan memang masih mencantumkan bagian mengenai inklusi dalam laporan, tetapi jumlah perusahaan yang melampirkan data rinci demografi karyawannya merosot drastis dari 92 persen pada 2025 menjadi 64 persen pada 2026.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Pemerintah
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Pemerintah
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
Pemerintah
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau