Artikel Lainnya
Lestari
21 Mei 2026
Lestari
11 Mei 2026
Lestari
1 Mei 2026
Lestari
22 April 2026
Lestari
15 April 2026
KOMPAS.com - Jika ada mesin waktu yang membawa warga Beijing kembali ke 10 tahun lalu, mereka mungkin tak akan mengenali kotanya sendiri.
Pada masa itu, keluar-masuk rumah berarti wajib mengenakan masker tebal. Jarak pandang kerap terhalang kabut asap ekstrem atau smog. Bahkan, warga sampai membeli kantong udara segar atau fresh air bag untuk sekadar menghirup udara yang lebih bersih.
Dilansir Reuters pada (5/1/2016), indeks kualitas udara atau air quality index (AQI) di Kota Beijing pernah mencapai lebih dari 250. Angka tersebut masuk kategori sangat tidak sehat.
China Daily pada (3/1/2017) melaporkan, partikel udara halus PM2.5 di Beijing mencapai 73 mikrogram per meter kubik, nyaris tiga kali lipat dari batas aman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang berada di level 25 mikrogram per meter kubik.
Penyebab langit merah di Kota Beijing adalah kombinasi kegiatan industri dan pembakaran energi fosil, terutama batu bara.
Baca juga: Ragam Masker Saat Kabut Asap di Beijing
Berkat industrialisasi masif, China berhasil menjadi “pabrik dunia”, mengalahkan gabungan sembilan negara manufaktur terbesar lainnya. Namun, capaian besar itu juga membawa konsekuensi terhadap lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat.
Pada April 2026, realitas muram tersebut mulai memudar. Langit Beijing kembali membiru. Burung-burung pun dapat kembali terbang nyaman di atas kota.
Transformasi itu tidak terjadi begitu saja. Pemerintah China menjalankan kebijakan elektrifikasi dan pengendalian emisi secara agresif. Hanya dalam satu dekade, konsentrasi PM2.5 di Beijing turun menjadi 27 mikrogram per meter kubik pada 2025.
Meski kepadatan lalu lintas di kota berpenduduk 21 juta jiwa itu tetap tinggi, jalanan mulai kehilangan suara bising dan asap knalpot yang dahulu menyesakkan. Salah satu faktor penentunya adalah kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) yang menggantikan kendaraan berbahan bakar fosil.
Perubahan drastis itu turut dirasakan warga Indonesia yang bermukim di China, Chrisnadi. Sebagai pengguna angkutan umum dan pejalan kaki, dia merasa Beijing kini jauh lebih tenang dan aman.
Baca juga: Pabrikan China Mulai Fokus Kembangkan Mesin Hybrid
Mahasiswa Indonesia yang telah delapan bulan menetap di Beijing dan Guangzhou itu mengatakan, kota tempat dia tinggal terasa lebih nyaman berkat semakin banyaknya kendaraan listrik.
“Kalau ada truk lewat, tidak ada lagi getaran mesin diesel yang mengintimidasi atau kepulan asap hitam yang biasa kami sebut 'cumi-cumi darat'. Suasananya jauh lebih bersih," ujarnya kepada Kompas.com di sela-sela perhelatan pameran otomotif di Beijing, pada akhir April 2026.
Pengalaman senada dibagikan oleh Junhi, mahasiswa asal Bekasi yang telah tiga tahun menimba ilmu di Beijing. Menurut dia, kendaraan listrik yang memenuhi kota turut meningkatkan kualitas hidup menjadi lebih baik.
“Kota Beijing ini menjadi kota yang sangat minim polusi, sangat nyaman untuk ditinggali, baik itu belajar, bekerja maupun hidup,” ungkapnya.
Banyak orang menyebut perubahan di Beijing sebagai “revolusi senyap”. Lanskap kota yang dahulu dipenuhi raungan mesin dan asap tebal perlahan berubah menjadi lebih tenang dan bersih.
Baca juga: Produksi Kendaraan Listrik di China Disebut Bisa Pangkas Emisi dan Atasi Polusi
Tidak hanya itu, “revolusi senyap” juga mengubah paradigma masyarakat yang memandang elektrifikasi tidak hanya baik untuk bumi, tetapi juga nyaman dan murah.
Perubahan wajah kota yang terjadi di Beijing saat ini merupakan akhir dari maraton elektrifikasi terstruktur yang dijalankan Pemerintah China lebih dari satu dekade lalu.
Pada pertengahan 2010-an, Beijing dan sejumlah kota industri di China tertutup smog hingga kerap dijuluki airpocalypse. Pemerintah China pun menyatakan “perang” terhadap polusi secara agresif.
Saat berkunjung ke SAIC Motor pada 2014, Presiden China Xi Jinping menyatakan bahwa pengembangan kendaraan energi baru merupakan satu-satunya jalan bagi China untuk beralih dari pasar otomotif besar menjadi kekuatan otomotif global.
Pada tahun yang sama, Perdana Menteri China Li Keqiang juga menegaskan di hadapan Kongres Rakyat Nasional bahwa China mendeklarasikan perang terhadap polusi, sebagaimana negara itu memerangi kemiskinan.
Baca juga: Demi Capai Target Emisi, China Bangun PLTS Terbesar di Dunia
Dari sana, China merancang visi besar untuk membangun ekosistem elektrifikasi dari hulu ke hilir. Tujuannya jelas, yakni mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Infrastruktur energi bersih pun dibangun secara masif, mulai dari turbin angin raksasa, ladang panel surya, pembangkit listrik tenaga air, hingga jaringan transmisi tegangan tinggi.
Perusahaan-perusahaan besar di kawasan Shenzhen, Suzhou, dan Guangzhou turut menyambut kebijakan tersebut. Banyak pabrik memasang panel surya di atap bangunan untuk menyuplai kebutuhan operasional sekaligus memangkas jejak karbon.
Di sektor otomotif, Pemerintah China juga berupaya memopulerkan kendaraan listrik kepada konsumen. Salah satu momentumnya adalah ketika Tesla diizinkan memproduksi mobil di China pada 2019. Keputusan itu sekaligus memicu kompetisi dengan produsen lokal.
Tantangan itu disambut BYD. Melansir The Straits Times (27/5/2024), jagoan lokal itu mengalahkan penjualan kendaraan Volkswagen di dalam negeri pada 2023. Sementara itu, pada akhir 2023, BYD mengalahkan Tesla dalam produksi EV.
Baca juga: China Bikin Pembangkit Listrik Tenaga Surya Lepas Pantai Terbesar di Dunia
Pada akhir tahun yang sama, China juga mengalahkan Jepang sebagai eksportir otomotif dengan mengirimkan 4,14 juta kendaraan ke seluruh dunia, dengan 1,55 juta adalah EV atau hibrida.
Kecepatan dan skala elektrifikasi di China mustahil tercapai tanpa adanya mesin penggerak berupa intervensi kebijakan dari negara, khususnya dari sisi suplai dan permintaan.
Dari sisi suplai, Pemerintah China menerapkan serangkaian regulasi untuk mensubsidi produksi dan pengembangan baterai. Dukungan itu memungkinkan produsen memproduksi kendaraan secara masif dengan harga yang semakin terjangkau.
Keseriusan itu tercermin dari dukungan senilai 230 miliar dollar Amerika Serikat (AS) dari pemerintah untuk pengembangan industri EV.
Pemerintah China juga agresif mendorong elektrifikasi di ruang publik. Beberapa kebijakan yang diterapkan, antara lain mewajibkan armada transportasi publik menggunakan EV dan mendorong gedung-gedung komersial menyediakan stasiun pengisian daya.
Baca juga: Intip Kecanggihan Sistem Tukar Baterai Mobil Listrik di China
Shenzhen bahkan menjadi kota pertama di dunia yang berhasil mengelektrifikasi 100 persen armada bus publiknya. Jumlahnya mencapai 16.359 unit bus listrik.
Jenny (23), warga China yang bekerja sebagai karyawan swasta, mengatakan bahwa negaranya memiliki pelat nomor hijau untuk kendaraan listrik dan hibrida, serta pelat biru untuk kendaraan berbahan bakar fosil.
“Saya tidak tahu kapan, tetapi kendaraan dengan pelat hijau telah melampaui pelat biru. Sebagian besar tempat parkir pusat perbelanjaan menyediakan banyak stasiun pengisian daya. Ini sangat memudahkan karena orang tinggal bayar pakai ponsel,” jelasnya.
Kondisi itu tak lepas dari intervensi kebijakan pemerintah China terhadap konsumen. Di kota-kota besar, pemerintah membatasi penerbitan pelat biru dengan harga mahal dan sistem lelang. Sebaliknya, pelat hijau diterbitkan dengan kuota longgar, bahkan gratis.
Insentif lain yang diberikan adalah pembebasan pajak pembelian kendaraan baru dan subsidi tunai. Kebijakan tersebut membuat harga kendaraan listrik dapat setara, bahkan lebih murah, dibandingkan kendaraan berbahan bakar minyak.
Baca juga: China Perketat Regulasi Keselamatan Kendaraan Listrik
Tangan dingin Pemerintah China membuahkan hasil. Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) menyebutkan, satu dekade invasi kendaraan pelat hijau (listrik) dan elektrifikasi industri berhasil memangkas rata-rata harian PM2.5 di Beijing secara ekstrem ke level 30 hingga 32 mikrogram.
Pengurangan jutaan ton emisi karbon dan berkurangnya asap knalpot dari jalanan perkotaan membawa dampak langsung terhadap kesehatan publik.
Penelitian National Institutes of Health pada 2021 menyebutkan, kebijakan elektrifikasi di kawasan Beijing–Tianjin–Hebei (BTH) mampu memangkas konsentrasi PM2.5 hingga 20 persen.
Penurunan polusi kendaraan itu diproyeksikan dapat mencegah 23,5 juta kasus morbiditas, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan asma, serta 4.600 kematian pada 2030.
Secara ekonomi, berkurangnya jumlah warga yang jatuh sakit juga menyelamatkan negara dari kerugian sebesar 20,65 miliar yuan atau sekitar Rp 46 triliun. Kerugian tersebut sebelumnya muncul akibat hilangnya 1,5 juta hari kerja atau work loss days.
Baca juga: Mobil Listrik Murni Akan Dominasi 90 Persen Pasar China pada 2040
Lebih jauh, elektrifikasi juga mengubah agenda penyelamatan lingkungan menjadi mesin ekonomi baru.
China menunjukkan bahwa transisi energi tidak selalu membunuh industri lama. Sebaliknya, perubahan tersebut dapat melahirkan ekonomi hijau dan lapangan kerja baru atau green-collar jobs.
Dengan rantai pasok raksasa yang membentang dari hulu ke hilir, China mampu menyerap jutaan tenaga kerja, mulai dari sektor pertambangan dan pemurnian material kritis seperti litium, para teknisi dan insinyur perakitan di pabrik baterai raksasa (gigafactory).
Tidak hanya itu, kebijakan elektrifikasi di China juga melahirkan profesi-profesi baru, seperti teknisi instalasi dan pemeliharaan charging pile (stasiun pengisian daya) yang kini menjamur di setiap basement mal dan area istirahat jalan tol nasional.
Satu dekade maraton elektrifikasi China menegaskan satu hal penting dalam agenda lingkungan global, yakni transformasi energi berskala besar membutuhkan keberpihakan politik.
Baca juga: China Siapkan Aturan Baru Atasi Limbah Baterai Mobil Listrik
Dengan perencanaan matang, Pemerintah China mampu merombak struktur energi industri nasional, menghadirkan transportasi publik yang terelektrifikasi, serta mengubah preferensi ratusan juta konsumen.
Pencapaian tersebut juga mendapat perhatian dari berbagai institusi ekonomi. Mereka menilai China telah mengubah lanskap geopolitik energi global melalui pengurangan emisi dan penguatan manufaktur energi bersih.
Bagi China, elektrifikasi bukan hanya agenda lingkungan. Kebijakan ini juga menjadi strategi pertahanan ekonomi dan dominasi teknologi.
Oxford Institute for Energy Studies (OIES) menyebut China tengah bertransformasi menjadi electrostate pertama di dunia. Istilah ini merujuk pada negara yang kekuatan utamanya berasal dari sistem kelistrikan dan manufaktur energi bersih, bukan dari cadangan minyak seperti petrostate.
Perubahan dari petrostate menuju electrostate juga menjadi langkah strategis China untuk mengurangi ketergantungan pada minyak mentah impor yang mencapai 70 persen.
Baca juga: China Rencanakan Sistem Energi Baru, Hadapi Krisis Minyak akibat Perang Iran
Elektrifikasi berbasis energi bersih menjadi kunci untuk mendukung kemandirian energi sekaligus mengamankan keberlangsungan industri manufaktur yang menjadi lokomotif perekonomian China.
Kajian dari OilPrice menyebutkan, elektrifikasi merupakan hedge atau lindung nilai energi yang disadari China sejak awal. Melalui revolusi energi bersih, China berupaya melepaskan diri dari ancaman blokade di rute-rute geopolitik rawan, seperti Selat Malaka.
Perjalanan elektrifikasi di China menjadi pengingat bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu berbenturan dengan kelestarian lingkungan.
Revolusi senyap itu membuktikan bahwa perubahan radikal tidak selalu datang dengan hiruk-pikuk. Ia bisa hadir lewat jalanan yang lebih sunyi, udara yang lebih bersih, dan langit kota yang kembali biru.
Bagi Indonesia, khususnya Jakarta dan kota-kota besar yang tengah berjuang melawan polusi udara, China melalui Kota Beijing telah memberikan cetak biru transisi energi yang sangat berharga.
Baca juga: Strategi Energi 5 Tahun China Akan Menggambar Ulang Peta Energi di Asia
Beberapa langkah strategis yang patut diadopsi Indonesia, antara lain menyusun kebijakan yang komprehensif dari hulu ke hilir, membangun ekosistem pabrik dan infrastruktur secara mandiri, memberikan insentif nyata bagi dunia usaha dan masyarakat, memprioritaskan transportasi publik, hingga menyeimbangkan kebutuhan manusia dan alam.
Lestari
21 Mei 2026
Lestari
11 Mei 2026
Lestari
1 Mei 2026
Lestari
22 April 2026
Lestari
15 April 2026