Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pekerjaan di Bidang Energi Terbarukan Global Catat Rekor pada 2023

Kompas.com, 7 Oktober 2024, 17:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber ESG News

KOMPAS.com - Tinjauan Tahunan 2024 Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA) dan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mengungkapkan pekerjaan di bidang energi terbarukan global capai rekor pada 2023.

Laporan itu menunjukkan pekerjaan energi terbarukan global mencapai 16,2 juta pada 2023. Angka itu menandai peningkatan tajam sebesar 13,7 juta pada tahun 2022 lalu.

Temuan tersebut mencerminkan pertumbuhan tahunan sebanyak 18 persen yang didorong adanya perluasan kapasitas energi terbarukan dan manufaktur peralatan.

Baca juga: Indonesia-Jerman Perpanjang Kerja Sama EBT untuk Kelistrikan

Mengutip ESG News, Senin (7/10/2024) Tiongkok terus memimpin sektor energi terbarukan dengan perkiraan 7,4 juta pekerjaan atau 46 persen dari total global.

Sementara itu, Uni Eropa menyusul dengan 1,8 juta pekerjaan, Brasil sebanyak 1,56 juta, Amerika Serikat serta India masing-masing dengan hampir 1 juta pekerjaan.

"Kisah transisi energi dan keuntungan sosial ekonomi seharusnya tidak hanya tentang satu atau dua wilayah saja," ungkap Francesco La Camera, Direktur Jenderal IRENA.

Baca juga: Target Penggunaan Energi Terbarukan 23 Persen di Negara-negara Asean Tak Tercapai

"Jika kita semua ingin memenuhi janji kolektif untuk melipatgandakan kapasitas daya terbarukan pada 2030, dunia harus meningkatkan perannya dan mendukung wilayah terpinggirkan dalam mengatasi hambatan kemajuan transisi mereka," katanya lagi.

Sektor Pendorong

Sektor fotovoltaik surya (PV) tetap menjadi pendorong pertumbuhan lapangan kerja terkuat, mendukung 7,2 juta lapangan kerja di seluruh dunia, dengan 4,6 juta di antaranya berada di Tiongkok.

Investasi Tiongkok yang signifikan juga telah mengubah Asia Tenggara menjadi pusat ekspor utama untuk PV surya, yang mendorong penciptaan lapangan kerja di kawasan tersebut.

Sedangkan bahan bakar nabati cair berada di peringkat kedua dalam penciptaan lapangan kerja, diikuti oleh tenaga air dan angin.

Baca juga: Desentralisasi Energi Baru Terbarukan di Desa

Brasil memimpin sektor biofuel dengan sepertiga dari 2,8 juta lapangan kerja di dunia. Sementara Indonesia menyumbang seperempat dari lapangan kerja biofuel global.

Meskipun tren keseluruhan positif, lapangan kerja tenaga air turun dari 2,5 juta lapangan kerja pada tahun 2022 menjadi 2,3 juta pada tahun 2023 karena tingkat penyebaran yang lebih lambat.

Tiongkok, India, Brasil, Vietnam, dan Pakistan tetap menjadi pemberi kerja terbesar di sektor ini.

Afrika, meskipun memiliki potensi sumber daya yang sangat besar, terus tertinggal dalam investasi energi terbarukan, sehingga hanya menghasilkan 324.000 pekerjaan pada tahun 2023.

“Berinvestasi dalam pendidikan, keterampilan, dan pelatihan membantu meningkatkan keterampilan semua pekerja dari sektor bahan bakar fosil, mengatasi kesenjangan gender atau kesenjangan lainnya, dan mempersiapkan tenaga kerja untuk peran energi bersih yang baru,” jelas Gilbert F. Houngbo, Direktur Jenderal ILO.

Baca juga: Dekarbonisasi Nikel: Baseline Emisi Ditetapkan, Potensi Energi Terbarukan Dipetakan

Dengan tujuan melipatgandakan kapasitas daya terbarukan global pada tahun 2030, laporan tersebut mendesak kolaborasi internasional yang lebih kuat untuk memobilisasi peningkatan keuangan untuk dukungan kebijakan dan pengembangan kapasitas di wilayah yang belum mendapatkan manfaat dari energi terbarukan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
LSM/Figur
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Pemerintah
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Pemerintah
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Swasta
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Pemerintah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
Pemerintah
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Pemerintah
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau