Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jangan Balikkan Kemajuan, Jangan Dukung Sawit dengan Cara Salah

Kompas.com, 5 Januari 2025, 10:04 WIB
Yunanto Wiji Utomo

Penulis

KOMPAS.com - Kelapa sawit menjadi penopang ekonomi Indonesia. Meskipun belum sepenuhnya berkelanjutan, sektor industri kontroversial ini menunjukkan kemajuan. Karenanya, penting untuk mendukung bukan hanya sisi bisnis, tetapi juga perjalanannya menuju keberlanjutan.

Herry Purnomo, ilmuwan senior Center for International Forestry Research - International Center for Research in Agroforestry (CIFOR-ICRAF) yang juga guru besar di IPB University mengatakan, perluasan kelapa sawit dalam 20 tahun memicu 3 juta hektar deforestasi.

Namun demikian, tren deforestasi itu berubah. "Deforestasinya masih ada, tetapi semakin turun. Artinya kerja-kerja yang dilakukan peneliti, LSM, RSPO (Round of Sustainable Palm Oil), KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) membuahkan hasil," ungkap Herry.

Dua perbaikan lain adalah legalitas dan keterlacakan. Semakin banyak pelaku usaha sawit, termasuk smallholders (pemilik kebun dengan luasan kurang dari 2 hektar) mengupayakan legalitas. Semakin banyak produk sawit yang mencantumkan asal usul pembudidayaannya.

Baca juga: Petani Kecil Berperan Penting dalam Industri Kelapa Sawit, Perlu Distribusi Keuntungan yang Merata

"Kalau dihitung sejak 2020, hanya 1-2 persen produk kelapa sawit yang dihasilkan dari lahan yang berasal dari konversi," kata Herry. Jumlah tersebut menunjukkan penurunan signifikan dari 54 persen pada 1995-200 dan 14 persen pada tahun 2010. 

"Jadi jangan membela sawit dengan cara yang salah," kata Herry ketika dihubungi Kompas.com pada Jumat (3/1/2025).

"Produk sawit yang beredar saat ini, dari 100 mungkin hanya 2 yang terkait langsung dengan deforestasi. Jangan mengatakan bagus semua, deforestasi tidak apa-apa, sebab jika seperti itu sawit yang bagus jadi ternoda."

Narasi yang perlu dikembangkan saat ini adalah bahwa mungkin mendorong ekonomi sawit yang berkelanjutan. Pemerintah perlu mendorong agar industri sawit terus berkembang sekaligus mengupayakan nol deforestasi. 

Baca juga: Investor Bulgaria dan Indonesia Kerja Sama Perdagangan Produk Turunan Kelapa Sawit 10 Juta USD

"Kalau kebun masyarakat yang melanggar, pemerintah bisa melakukan pembinaan. Kalau korporasi besar bisa dikasih sanksi atau hukuman. Jadi bukan dengan malah mengatakan deforestasi tidak apa-apa," ujar Herry.

Bayang-bayang Praktik Deforestasi

Menegaskan perlunya nol deforestasi dalam perkebunan sawit penting. Sebab, meski angka deforestasi dalamn jangka panjang menurun, ada gejala kembalinya praktik pembukaan hutan untuk kebun sawit. 

KLHK mengungkap, deforestasi Indonesia pada tahun 2020-2021 adalah 113.500 hektar sementara pada tahun 2021-2022 adalah 104.000 hektar. Berdasarkan jumlah itu, maka penurunannya adalah 8,4 persen. 

Namun, Herry mengatakan, "Meskipun deforestasi karena sawit menurun, sawit tetap menjadi pendorong deforestasi utama." Sekitar 21 persen lahan sawit baru yang ada dibuat di atas lahan hasil konversi.

Irfan Bakhtiar, Direktur Transformasi WWF Indonesia pada Sabtu (4/1/2025) mengatakan, "Untuk mendukung perekonomian, sebaiknya dilakukan intensifikasi perkebunan kelapa sawit, terutama sawit rakyat."

"Peningkatan produktivitas melalui peremajaan sawit rakyat, penyediaan pupuk ramah lingkungan dan terjangkau harganya, serta program-program intensifikasi lainnya mestinya menjadi pilihan, dibandingkan dengan menambah luasan kebun sawit," terangnya.

Irfan menuturkan, pengembangan kelapa sawit untuk ekonomi pada dasarnya tidak salah. Namun, praktik mengonversi hutan dan lahan gambut, dikembangkan hanya oleh perusahaan besar, dan praktik monokultur dalam luasan besar membuatnya bermasalah.

Pihaknya mendorong praktik perkebunan kelapa sawit dengan melibatkan masyarakat, termasuk masyarakat adat. Selain itu, dia juga mendorong pendekatan agroforestry atau mencampur kebun dengan tanaman lain yang juga punya nilai ekonomi. 

Baca juga: Deforestasi, 1,9 Juta Hektare Hutan Indonesia Rusak Dalam 2 Tahun

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Pemerintah
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
LSM/Figur
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
Pemerintah
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
Pemerintah
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
Pemerintah
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Pemerintah
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
LSM/Figur
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
LSM/Figur
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
Pemerintah
Ketika AI 'Haus' Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
Ketika AI "Haus" Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau