Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Peternakan Sumbang Emisi Terbesar Sektor Pangan

Kompas.com, 4 April 2025, 09:39 WIB
Yunanto Wiji Utomo

Editor

KOMPAS.com - Peternakan menghasilkan emisi gas rumah kaca dua kali lebih besar dibandingkan tanaman budi daya yang dikonsumsi manusia. Temuan ini terungkap dalam sebuah studi yang memetakan aktivitas pertanian di seluruh dunia secara rinci.

Dalam laporan tersebut, para peneliti menyoroti bahwa apa yang manusia makan berkontribusi besar terhadap emisi yang mendorong perubahan iklim. Berbagai aktivitas mulai dari transportasi, pembukaan lahan hutan (deforestasi), proses pendinginan makanan, hingga proses pencernaan hewan ternak seperti sapi juga menjadi penyumbang besar gas pencemar ke atmosfer.

Para peneliti meneliti karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan dinitrogen oksida (N2O) yang dilepaskan dari produksi dan konsumsi makanan hasil pertanian di darat. Mereka menemukan bahwa dari tahun 2007 hingga 2013, emisi dari sektor ini mencapai 17,318 miliar metrik ton setara CO? per tahun, atau 35 persen dari seluruh emisi yang disebabkan oleh manusia.

Sebuah studi yang memodelkan emisi bersih dari lebih dari 170 produk tanaman dan 16 produk hewan di hampir 200 negara menemukan bahwa makanan berbasis hewan menyumbang 57 persen dari total emisi pangan. Persentase ini juga mencakup emisi dari tanaman yang ditanam sebagai pakan ternak.

Sementara itu, tanaman yang dikonsumsi langsung oleh manusia menyumbang sekitar 29 persen dari total emisi pangan. Sisanya berasal dari komoditas lain seperti kapas dan karet. Studi yang diterbitkan di jurnal Nature Food ini tidak memasukkan emisi dari sektor perikanan.

Pola makan berbasis tanaman secara umum dianggap lebih ramah lingkungan. Namun, peneliti utama Atul Jain dari University of Illinois menyatakan bahwa ia ingin mengetahui secara pasti seberapa besar dampaknya. Ia juga mengakui bahwa ada alasan pribadi yang mendorongnya untuk mendalami isu ini lebih jauh.

"Saya sudah menjadi vegetarian sejak kecil," katanya. "Saya ingin menghitung berapa jejak karbon saya."

Untuk membuat model yang konsisten dari begitu banyak produk berbeda, tim Jain bekerja dari nol. Ia membagi lahan pertanian di seluruh dunia menjadi sekitar 60.000 kotak grid.

"Begitu kami mengidentifikasi area tanaman di satu kotak grid, kami menentukan berapa persen area itu dialokasikan untuk tanaman, hutan, rumput, dan seterusnya," jelasnya.

Baca juga: Nestle Indonesia Umumkan Pengurangan Emisi 20,38 Persen pada 2024

Pendekatan tersebut memungkinkan tim peneliti memodelkan data emisi secara spesifik berdasarkan lokasi untuk puluhan jenis tanaman dan produk hewan utama.

Selain itu, mereka juga memasukkan data konsumsi pangan masing-masing negara, termasuk emisi yang dihasilkan dari aktivitas impor dan ekspor.

Sapi Penyumbang Terbesar

Daging sapi tercatat sebagai komoditas dengan kontribusi emisi terbesar, menyumbang sekitar 25 persen dari total emisi pangan, sementara dari sektor tanaman, padi menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi sebesar 12 persen.

Kondisi ini menjadikan peternakan sapi di Amerika Selatan dan pertanian padi di Asia Tenggara sebagai sumber utama emisi gas rumah kaca yang berkaitan dengan produksi pangan. Studi ini secara terpisah mengukur dampak dari tanaman untuk konsumsi manusia dan tanaman untuk pakan ternak, serta mempertimbangkan berbagai faktor lain seperti transportasi dan perdagangan.

Dalam menghitung emisi bersih, peneliti juga memasukkan peran tanaman yang mampu menyerap karbon. Mereka menekankan pentingnya memperhitungkan seluruh faktor karena banyaknya umpan balik dan interaksi yang terjadi dalam sistem ini. Studi tersebut juga menyoroti bahwa meningkatnya permintaan pangan global berpotensi memperparah pemanasan global. 

Jain mengatakan bahwa tantangan riset selanjutnya adalah mengumpulkan data konsumsi yang lebih rinci dari berbagai wilayah dunia. Data ini akan digunakan untuk mengembangkan alat yang memungkinkan setiap orang menghitung jejak karbon dari makanan yang mereka konsumsi.

"Anda bisa pergi ke lokasi Anda, mengidentifikasi apa yang Anda makan, seberapa banyak Anda makan, dan menghitung jejak karbon Anda sendiri," kata Jain. (Lastboy Tahara Sinaga)

Baca juga: Uni Eropa Beri Produsen Mobil Kelonggaran untuk Penuhi Aturan Emisi

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
El Nino dan La Nina Picu Kekeringan dan Banjir Ekstrem Bersamaan
El Nino dan La Nina Picu Kekeringan dan Banjir Ekstrem Bersamaan
LSM/Figur
Ilmuwan Usulkan Tenggelamkan Pohon di Samudera Arktik untuk Serap Karbon
Ilmuwan Usulkan Tenggelamkan Pohon di Samudera Arktik untuk Serap Karbon
LSM/Figur
KKP Perketat Pengawasan 25 Spesies Ikan dan Penyu, Cegah Penyelundupan
KKP Perketat Pengawasan 25 Spesies Ikan dan Penyu, Cegah Penyelundupan
Pemerintah
CDP Umumkan 877 Perusahaan Raih Skor A Tahun 2025, Kinerja Lingkungan Meningkat
CDP Umumkan 877 Perusahaan Raih Skor A Tahun 2025, Kinerja Lingkungan Meningkat
Swasta
Preferensi Investor Bergeser ke Skrining ESG Positif, Ini Penjelasannya
Preferensi Investor Bergeser ke Skrining ESG Positif, Ini Penjelasannya
Pemerintah
Survei Ungkap Pasar Karbon Sukarela Diprediksi Tumbuh Pesat
Survei Ungkap Pasar Karbon Sukarela Diprediksi Tumbuh Pesat
Swasta
Pengelolaan Sampah di Indonesia Buruk, Wamendagri Ingatkan Ancaman Kesehatan dan Krisis Iklim
Pengelolaan Sampah di Indonesia Buruk, Wamendagri Ingatkan Ancaman Kesehatan dan Krisis Iklim
Pemerintah
99 Ton Ikan Salem Ilegal Gagal Masuk Indonesia, Kerugiannya Bisa Capai Rp 4,8 Miliar
99 Ton Ikan Salem Ilegal Gagal Masuk Indonesia, Kerugiannya Bisa Capai Rp 4,8 Miliar
Pemerintah
Darurat Sampah, Pemkot Tangsel Salahkan Pedagang Kaki Lima
Darurat Sampah, Pemkot Tangsel Salahkan Pedagang Kaki Lima
Pemerintah
Sri Mulyani Masuk Dewan Gates Foundation Milik Bill Gates, Ini Jejaknya di Indonesia
Sri Mulyani Masuk Dewan Gates Foundation Milik Bill Gates, Ini Jejaknya di Indonesia
Pemerintah
Sekjen PBB: Investasi Energi Bersih Global tembus 2,2 Triliun Dollar AS
Sekjen PBB: Investasi Energi Bersih Global tembus 2,2 Triliun Dollar AS
Pemerintah
Kemandirian BUMN Jadi Fondasi Strategis Menuju ESG dan Negara Kesejahteraan
Kemandirian BUMN Jadi Fondasi Strategis Menuju ESG dan Negara Kesejahteraan
LSM/Figur
IEA: Keluarnya AS Tak Pengaruhi Komitmen Transisi Energi di Asean
IEA: Keluarnya AS Tak Pengaruhi Komitmen Transisi Energi di Asean
Pemerintah
Kubah Es Raksasa di Greenland Berpotensi Mencair Lagi, Ini Penjelasan Pakar
Kubah Es Raksasa di Greenland Berpotensi Mencair Lagi, Ini Penjelasan Pakar
LSM/Figur
Empat Negara Asia Ini Layak Jadi Referensi Implementasi Program WTE
Empat Negara Asia Ini Layak Jadi Referensi Implementasi Program WTE
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau