KOMPAS.com - Peternakan sapi perah menghasilkan sejumlah besar gas rumah kaca yang sangat kuat.
Salah satu gas utama yang berkontribusi terhadap perubahan iklim ini adalah metana.
Namun, ada kabar baik. Ilmuwan mengatakan peternakan ini dapat mengurangi secara drastis emisi metana mereka dengan cara menutupi kolam kotoran sapi dengan terpal raksasa.
Terpal ini akan memerangkap metana yang dihasilkan dari penguraian kotoran, mencegahnya lepas ke atmosfer. Metana yang terperangkap ini kemudian bisa dikumpulkan dan digunakan, misalnya sebagai sumber energi.
Para ilmuwan mencatat adanya pengurangan emisi metana sebesar 80 persen di sebuah peternakan sapi perah di California.
Pengurangan drastis ini terjadi setelah pemilik peternakan tersebut memasang "digester", sebuah sistem yang menjebak gas-gas di atas kolam kotoran sapi dan mengubahnya menjadi bahan bakar. Sistem ini mirip biogas di Indonesia.
Baca juga: Sektor Energi Lepaskan 120 Juta Ton Emisi Metana pada 2024
"Jika sistem dibangun dengan baik dan dikelola dengan hati-hati, emisi dapat benar-benar turun. Itulah yang kami lihat di sini," kata salah satu penulis studi Francesca Hopkins, asisten profesor perubahan iklim dan keberlanjutan di University of California, Riverside, dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Live Science, Sabtu (21/6/2025).
Metana adalah gas rumah kaca dengan potensi pemanasan 80 kali lipat dari karbon dioksida selama 20 tahun. Kotoran sapi menghasilkan metana selama dekomposisi, saat bakteri memecah bahan organik.
Tetapi dengan meningkatkan penggunaan digester dan menutup kebocoran yang mungkin muncul di dalamnya, para peneliti berpikir bahwa petani dapat mengurangi emisi metana ini secara signifikan.
Digester adalah segel yang mencegah metana keluar dari kolam kotoran ternak. Metana disedot keluar dari sistem dan dibakar untuk menghasilkan listrik atau dimurnikan untuk menghasilkan gas alam terbarukan.
Gas ini dapat disuntikkan ke dalam sistem distribusi gas alam, dikompresi untuk menghasilkan bahan bakar kendaraan, atau diproses untuk menghasilkan produk lain, menurut Badan Perlindungan Lingkungan AS.
Dalam studi ini, Hopkins dan rekan-rekannya mengukur dampak digester pada peternakan sapi perah di Tulare County, wilayah yang menghasilkan susu terbanyak di AS.
Mereka memasang stasiun pengukuran bergerak yang dilengkapi dengan sensor gas. Stasiun ini digunakan untuk merekam kadar metana di sekitar peternakan selama satu tahun sebelum digester dipasang, dan satu tahun setelah digester dipasang pada tahun 2021.
Sebelum digester dipasang, kadar metana di dekat kolam kotoran sapi rata-rata mencapai 28,6 bagian per juta (ppm).
Setelah digester dipasang dan berfungsi, kadar metana turun drastis hingga 3,7 ppm. Perbandingan antara 28,6 ppm dan 3,7 ppm ini secara jelas menunjukkan pengurangan emisi metana yang sangat signifikan.
Pada awalnya, sistem digester tersebut memiliki beberapa kebocoran. Namun, peneliti bekerja sama dengan operator peternakan untuk mendeteksi dan memperbaiki kebocoran-kebocoran tersebut.
Hasil yang didapatkan dari peternakan di Tulare County secara jelas membuktikan betapa efektifnya digester dalam mengurangi emisi metana.
Saat ini, digester berada di urutan teratas daftar strategi California untuk menekan emisi metana dari sektor pertanian.
Baca juga: Perusahaan Susu dan Kopi Lambat Atasi Emisi Metana
Komitmen ini diperkuat pada tahun 2016, ketika California mengesahkan undang-undang yang menargetkan pengurangan kontribusi metana dari peternakan sapi perah dan ternak lainnya sebesar 40 persen dari tingkat tahun 2013, yang harus dicapai pada tahun 2030.
Jika semua peternakan yang sudah memiliki proyek digester di California menunjukkan hasil sehebat peternakan di Tulare County, mereka sudah bisa mencapai hampir seluruh target pengurangan emisi metana negara bagian pada tahun 2030.
Kendati demikian ada kelemahan dalam pengaplikasian digester karena memerlukan investasi, izin, dan pemeliharaan jangka panjang.
Sistem ini juga tidak dapat mengendalikan emisi dan polutan selain metana, seperti amonia misalnya.
"Sistem ini tidak cocok untuk setiap peternakan. Namun bagi peternakan sapi perah yang dapat menjalankannya. Ini merupakan salah satu cara yang paling hemat biaya untuk memangkas emisi gas rumah kaca," papar Hopkins.
Studi dipublikasikan di jurnal Global Change Biology Bioenergy.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya