Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Universitas Bisa Bantu Hadapi Krisis Iklim, tapi Terjebak Urusan Uang

Kompas.com, 16 Juli 2025, 18:12 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Penelitian baru menunjukkan bahwa universitas punya potensi besar untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.

Jika universitas lebih mudah dijangkau dan tersebar seperti perpustakaan, mereka bisa membantu masyarakat menghadapi krisis iklim dan masalah ekonomi.

Namun, studi menunjukkan banyak universitas kurang siap membantu masyarakat menghadapi krisis karena mereka sibuk berjuang untuk bertahan hidup secara finansial.

Lingkungan yang kompetitif dan kekurangan dana membuat universitas lebih fokus pada dirinya sendiri, bukan pada kepentingan publik atau aksi iklim, yang juga menyebabkan publik tidak lagi percaya pada mereka.

Baca juga: Baru 370 dari 5000 Sekolah di Jakarta Tanamkan Pendidikan Lingkungan

Misalnya, universitas yang kekurangan dana cenderung menerima uang dari industri bahan bakar fosil, yang menghambat aksi iklim. Akademisi yang sibuk dan mahasiswa berutang jadi kurang peduli isu lingkungan karena terbebani masalah finansial pribadi.

Kekurangan dana juga membuat universitas sulit berinteraksi dengan masyarakat dan memenuhi kebutuhan mereka.

Studi ini kemudian menemukan bahwa universitas adalah aset yang belum dioptimalkan untuk mengatasi ketidakadilan dan kerentanan akibat krisis iklim dan ekonomi.

Ini karena universitas terlalu fokus pada aspek keuangan, yang menghambat kemampuan mereka melakukan perubahan struktural penting untuk melawan perubahan iklim.

Makalah penelitian tersebut, yang berjudul "Universities, polycrisis and regional redistribution: The need for radical transformation" tersebut ditulis oleh Dr. Martin Sokol, seorang Associate Professor geografi ekonomi di Trinity College Dublin, dan Profesor Jennie C. Stephens, seorang Profesor Keadilan Iklim di ICARUS Climate Research Centre, Jurusan Geografi, National University of Ireland, Maynooth.

"Universitas seringkali lebih mementingkan peringkat global daripada kondisi komunitas lokalnya. Cara seperti ini tidak bisa terus berlanjut jika kita ingin menciptakan masyarakat yang sehat dan berkelanjutan di masa depan," ungkap Dr. Sokol, dikutip dari Phys, Rabu (16/7/2025).

Studi ini menyarankan agar universitas didistribusikan lebih merata secara geografis dan fokus pada pembelajaran serta penelitian yang melibatkan komunitas.

Baca juga: Usung Kearifan Lokal, BREWi JAYA Jadi Wujud Bisnis Berkelanjutan UB untuk Pendidikan Terjangkau

Mereka mengusulkan "universitas keadilan iklim" yang menciptakan pengetahuan bersama untuk memenuhi kebutuhan lokal dan regional, berbeda dengan model universitas yang saat ini lebih berorientasi finansial.

Alih-alih menjadi institusi yang individualistis, mencari keuntungan, dan eksklusif, universitas keadilan iklim akan menjadi institusi dengan misi kolektif, inklusif, dan demi kebaikan publik.

Mereka akan berkolaborasi dengan masyarakat untuk menciptakan perubahan sosial, mengedepankan pendidikan gratis, inovasi sosial, dan kesejahteraan komunitas dibandingkan pendapatan universitas.

Studi ini pun menunjukkan bahwa diperlukan lebih banyak perhatian untuk memastikan investasi di universitas supaya selaras dengan kebaikan publik dan masa depan yang lebih adil dan stabil.

Penempatan universitas yang lebih merata secara geografis juga sangat dibutuhkan untuk membantu masyarakat di daerah yang rentan iklim.

"Struktur dan pendanaan universitas memiliki pengaruh besar terhadap prioritas masyarakat dan bagaimana kita bersama-sama mempersiapkan diri menghadapi masa depan yang semakin disruptif," ujar Profesor Stephens.

Analisis pertama dari studi ini diterbitkan dalam jurnal Review of Regional Research sebagai bagian dari edisi khusus berjudul "The changing role of universities in the context of regional sustainability transformations."

Baca juga: Wimbledon Bakal Berubah, Dari Cuma Turnamen Tenis ke Panggung Perlawanan Iklim

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
LSM/Figur
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Pemerintah
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Pemerintah
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Swasta
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Pemerintah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
Pemerintah
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Pemerintah
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
Pemerintah
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau