Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 18 Agustus 2025, 18:42 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

 

Jakarta, Kompas.com - Situs warisan dunia Istana Kerajaan Tiébélé di Burkina Faso terancam perubahan iklim. Kini, situs tersebut di ambang kehancuran. Istana Kerajaan Tiébélé merupakan salah satu dari hanya empat situs Burkina Faso yang masuk dalam daftar warisan dunia UNESCO.

Berdasarkan laman resmi UNESCO, Istana Kerajaan Tiébélé berdiri sejak abad ke-16 dan berada di kaki bukit Tchébili.

Ini adalah kompleks arsitektur tanah yang menjadi bukti organisasi sosial dan nilai-nilai budaya masyarakat Kasena.

Istana Kerajaan Tiébélé memiliki arsitekturnya khas yang memadukan tanah, kayu, kotoran sapi, dan jerami. Istana ini ditata berdasarkan distribusi sosial maupun spasial yang merujuk pada status penghuninya.

Namun, pola hujan di Tiébélé yang tidak dapat diprediksi mengganggu pekerjaan restorasi situs warisan dunia itu.

"Untuk mengecat dinding, dinding harus benar-benar kering, tetapi hujan sudah mulai turun saat kami sedang melakukan restorasi," ujar seorang warga muda di Tiébélé, Abdou Anè, dilansir dari The Guardian, Senin (18/8/2025).

Lembaran plastik tidak cukup untuk melindungi lukisan-lukisan tersebut dari hujan. Meski sangat bangga Istana Kerajaan Tiébélé telah diakui sebagai situs warisan dunia, kata dia, masyarakat Kasena membutuhkan bantuan untuk terus melestarikannya.

"Saat ini, lebih mudah membangun dengan atap logam dan semen," ucapnya.

Menurut Anè, hujan biasanya hanya turun sekali pada bulan Maret atau April, atau dikenal sebagai 'hujan mangga'. Namun, saat ini hujan mengguyur tempat tinggalnya tiga hingga empat kali.

“Terkadang kami mendapatkan hujan di saat-saat yang sebelumnya tidak kami dapatkan," tutur Anè.

Kata dia, ada pohon-pohon yang tidak berbuah lagi. Padahal, itu berasal dari pohon-pohon yang dulu digunakan masyarakat Kasena untuk membangun rumah. Masyarakat Kasena, terutama para lansia yang masih ingat seperti apa iklim di masa lalu, khawatir dengan perubahan baru tersebut.

Hujan turun deras – lebih dari yang diperkirakan – menjadi fenomena yang tidak dipahami masyarakat Kasena.

"Misalnya, sekarang sudah bulan Agustus dan tidak ada hujan. Mereka yang telah melihat musim-musim di masa lalu dan membandingkannya dengan sekarang merasa khawatir. Mereka yang lahir dalam situasi ini tidak memahami perubahan tersebut," ujar Anè.

Dalam budaya Kasena, para perempuan bertanggung jawab untuk mengecat rumah-rumah. Mereka menggunakan pigmen yang diekstrak dari batu laterit, tanah liat, basal, dan bahkan kotoran sapi – bahan-bahan asli wilayah tersebut – untuk garis-garis lukisan unik. Mereka merebus buah pohon néré untuk membuat pernis yang menyegel cat.

Lukisan-lukisan di dinding-dinding rumah di kawasan situs warisan dunia itu merepresentasikan pemikiran, budaya, serta agama masyarakat Kasena. Rumah-rumah berdinding bergelombang yang dilapisi garis-garis geometris unik Istana Kerajaan Tiébélé di Burkina Faso juga merupakan destinasi wisata yang terkenal.

Namun, selama bertahun-tahun, kunjungan wisatawan ke Istana Kerajaan Tiébélé merosot karena kekerasan jihadis melanda Burkina Faso dan negara-negara tetangganya seperti Mali dan Niger sejak 2015.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Isu Keandalan AI Kini Jadi Sorotan Petinggi Bisnis
Isu Keandalan AI Kini Jadi Sorotan Petinggi Bisnis
Pemerintah
Mayoritas Negara Diproyeksikan Gagal Capai Target Sistem Pangan 2030
Mayoritas Negara Diproyeksikan Gagal Capai Target Sistem Pangan 2030
Pemerintah
Baleg DPR RI Targetkan Pembahasan RUU Masyarakat Adat jadi UU Rampung di Awal 2027
Baleg DPR RI Targetkan Pembahasan RUU Masyarakat Adat jadi UU Rampung di Awal 2027
Pemerintah
Ancaman Laut Dunia, Praktik Illegal Fishing Makin Marak Meski Terus Ditekan
Ancaman Laut Dunia, Praktik Illegal Fishing Makin Marak Meski Terus Ditekan
Pemerintah
Microsoft Pangkas Pembelian Kredit Karbon hingga 80 Persen, Prioritaskan AI
Microsoft Pangkas Pembelian Kredit Karbon hingga 80 Persen, Prioritaskan AI
Pemerintah
Berbagai Tambang Batu Bara RI dengan Kapasitas 760 Juta Ton Berakhir Izinnya hingga 2035
Berbagai Tambang Batu Bara RI dengan Kapasitas 760 Juta Ton Berakhir Izinnya hingga 2035
LSM/Figur
Pemulihan Kawasan Bromo Pasca-Kebakaran Perlu Pertimbangkan Karakter Ekosistem
Pemulihan Kawasan Bromo Pasca-Kebakaran Perlu Pertimbangkan Karakter Ekosistem
LSM/Figur
Pipa Baja Galvanis Spindo Perkuat Jaringan Air Bersih Kubangsari Tasikmalaya
Pipa Baja Galvanis Spindo Perkuat Jaringan Air Bersih Kubangsari Tasikmalaya
BrandzView
135.793 Fasilitas Kesehatan Belum Laporkan Limbah B3, Pakar Ingatkan Risiko Pencemaran Air
135.793 Fasilitas Kesehatan Belum Laporkan Limbah B3, Pakar Ingatkan Risiko Pencemaran Air
LSM/Figur
Ancaman El Niño Buat Pelaku Bisnis Kian Cemas
Ancaman El Niño Buat Pelaku Bisnis Kian Cemas
Pemerintah
Astra Terima Kunjungan Menteri Pariwisata di Desa Sejahtera Astra Kemiren, Perkuat Wisata Berbasis Budaya
Astra Terima Kunjungan Menteri Pariwisata di Desa Sejahtera Astra Kemiren, Perkuat Wisata Berbasis Budaya
Desa Sejahtera Astra
Kemenhut: Ancaman Karhutla di Kawasan Bromo Belum Selesai Meski Api Sudah Terkendali
Kemenhut: Ancaman Karhutla di Kawasan Bromo Belum Selesai Meski Api Sudah Terkendali
Pemerintah
Mengapa Kita Selalu Terlambat Menghadapi Bencana?
Mengapa Kita Selalu Terlambat Menghadapi Bencana?
Pemerintah
Limbah Jagung dan Daun Pepaya Diolah Jadi Penangkal Nyamuk Malaria
Limbah Jagung dan Daun Pepaya Diolah Jadi Penangkal Nyamuk Malaria
LSM/Figur
Bukan Sekadar Teknologi Canggih, Inilah 'Fondasi Tak Kasatmata' Keselamatan PLTN
Bukan Sekadar Teknologi Canggih, Inilah 'Fondasi Tak Kasatmata' Keselamatan PLTN
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau