KOMPAS.com - Survei yang dipublikasikan di Nature Climate Change mengungkapkan ilmuwan merupakan sumber informasi paling terpercaya tentang perubahan iklim di beberapa negara berkembang (global south), melampaui surat kabar, teman, dan media sosial.
Kesimpulan tersebut didapat setelah peneliti melakukan survei terhadap 8400 orang di Chili, Kolombia, India, Kenya, Nigeria, Afrika Selatan, dan Vietnam.
Studi ini menemukan bahwa memercayai dan memperhatikan ilmuwan iklim berhubungan dengan peningkatan pengetahuan tentang iklim.
Dampaknya kira-kira dua kali lipat lebih besar dibandingkan dengan pengaruh yang didapatkan dari memiliki gelar sarjana.
Seorang ilmuwan yang tidak ikut serta dalam riset ini mengatakan bahwa temuan tersebut menunjukkan adanya kesempatan untuk "memperkuat pengetahuan tentang iklim" di negara-negara global selatan dengan memperluas akses ke informasi sains iklim.
Baca juga: WHO: Panas Ekstrem akibat Perubahan Iklim Bikin Pekerja Stres
Survei ini sendiri dilakukan secara daring oleh perusahaan polling YouGov antara April dan Mei 2023. Para responden dapat menjawab dalam bahasa Inggris atau "bahasa spesifik negara" lainnya.
Sebagai contoh, responden di Chile dan Kolombia memiliki opsi untuk mengisi survei dalam bahasa Spanyol, sementara responden di India dapat menjawab dalam bahasa Hindi.
Melansir Eco Business, Senin (25/8/2025) dampak dari perubahan iklim dirasakan secara tidak proporsional oleh anggota masyarakat yang paling miskin, yang sering kali tinggal di negara-negara global selatan.
Meskipun begitu, Dr Luis Sebastian Contreras Huerta, peneliti psikologi eksperimental di Universidad Adolfo Ibanez, Chili menyatakan bahwa penelitian mengenai pandangan terhadap iklim "sangat berpihak" pada negara-negara global utara (negara maju).
Ini mengapa hasil studi mengenai keyakinan publik tentang perubahan iklim negara berkembang menjadi hal penting.
Hasil di tiap negara yang disurvei menunjukkan bahwa ilmuwan menduduki peringkat tertinggi dalam hal kepercayaan di semua negara, kecuali Vietnam. Di Vietnam, ilmuwan menempati peringkat kedua, setelah program televisi.
Sementara itu, teman dan tokoh agama menempati peringkat terendah dalam hal kepercayaan.
Huerta pun mengungkapkan hasil tersebut merupakan hal yang menggembirakan karena masyarakat umum ternyata cenderung menaruh kepercayaan pada ilmuwan sebagai sumber informasi utama mereka.
Namun Huerta yang tidak terlibat langsung dalam studi ini juga memperingatkan mengenai keinginan sosial (social desirability), sebuah fenomena di mana orang menjawab survei dengan cara yang menurut mereka akan dipandang baik oleh orang lain.
Dalam konteks ini, hal itu berarti orang mungkin melaporkan kepercayaan yang lebih tinggi pada ilmuwan dan ketergantungan yang lebih rendah pada media sosial daripada yang sebenarnya mereka lakukan.
Baca juga: Ancaman Perubahan Iklim, Hutan Paling Beragam di Dunia Tak Mampu Adaptasi
Lebih lanjut, survei menunjukkan bahwa orang-orang mungkin mengatakan bahwa menangani perubahan iklim itu penting, tetapi ini tidak berarti mereka akan menempatkannya di daftar prioritas.
"Meskipun orang-orang menunjukkan kepedulian yang kuat terhadap perubahan iklim, dalam hal mengalokasikan sumber daya publik yang terbatas, prioritas seperti kesehatan, pendidikan, pengentasan kemiskinan dan keamanan seringkali didahulukan," jelas Huerta.
Selain itu, kendati memberikan gambaran publik terhadap perubahan iklim, peneliti mencatat masih ada kemungkinan terdapat bias dalam penelitian ini.
Pasalnya, survei ini hanya dapat diselesaikan oleh orang-orang yang memiliki akses internet yang berarti bahwa survei tersebut secara sistematis kurang mewakili mereka yang berpenghasilan rendah, tinggal di daerah pedesaan dan yang berusia lebih tua.
Di seluruh negara yang disurvei, usia rata-rata respondennya adalah 31 tahun.
Terdapat pula sedikit bias gender, di mana laki-laki mencapai 55 persen dari responden survei.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya