Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cegah Muntaber, Kabupaten Sekadau Deklarasi Bebas BAB Sembarangan

Kompas.com, 26 September 2025, 17:00 WIB
Zintan Prihatini,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KALIMANTAN BARAT, KOMPAS.com - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sekadau, Kalimantan Barat mendeklarasikan Open Defecation Free (ODF) yang merujuk pada perilaku berhenti buang air besar sembarangan. Bupati Kabupaten Sekadau, Aron, menyatakan hal ini untuk mencegah kasus muntah dan berak (muntaber) karena kebiasaan membuang kotoran, mandi, serta mengonsumsi air sungai.

Awalnya, kebanyakan warga menolak menggali septic tank ataupun toilet di rumah sendiri. Karena itu, beberapa kepala desa turun tangan membangun fasilitas itu untuk warganya.

"Tetapi kami memiliki sebuah keyakinan bahwa dengan kebersamaan itu, dengan kekompakan semua stakeholder yang ada termasuk juga camat, kepala desa, tokoh masyarakat, ketua adat mendukung itu semua," ujar Aron saat ditemui di kantornya dalam Media Trip bersama Wahana Visi Indonesia (WVI), Rabu (24/9/2025).

"Karena kami konsen betul di tahun 2022. Kami konsen (target selesai) sampai 2025," imbuh dia.

Baca juga: AHY Beberkan Prioritas Pembangunan Keberlanjutan, dari Sanitasi hingga Energi Bersih

Selain di jamban, warga juga kerap membuang langsung limbah dari wc pribadi ke sungai dan menyebabkan pencemaran. Dia mengakui bahwa budaya buang air besar sembarangan tak serta-merta bisa langsung dihilangkan.

"Kebiasaan ke wc kita bilang itu sebenarnya hampir 40-50 persen belum terbiasa lah kalau di kampung-kampung, mereka memang masih memanfaatkan alam," ungkap Aron.

Saat ini, wilayahnya menjadi daerah pertama yang mendeklarasikan ODF di Kalbar pada 7 Agustus 2025 lalu. Menurut Aron, ODF sudah dicanangkan sejak belasan tahun lalu di mana setiap kepala desa, lurah, dan camat wajib mendorong pembangunan satu rumah satu toilet.

"Kami meyakini bahwa untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terutama berkaitan dengan WC memang butuh proses. Bahwa bagaimana mereka itu mengawal ODF di desanya masing-masing," sebut dia.

Pemkab Sekadau pun mengesahkan Peraturan Bupati Tahun 2017 tentang pelaksanaan sanitasi total berbasis masyarakat. Lalu, meneken Perbup Nomor 2 Tahun 2025 tentang Strategi Sanitasi Kabupaten Sekadau 2025-2029. Pihaknya turut menggandeng Dinas Kesehatan, Dinas PU, Dinas Komunikasi dan Informasi, serta WVI menuju deklarasi ODF.

"Kami memahami bahwa program ini tidak bisa dikerjakan satu orang tapi kita harus melakukan komunikasi, kerja sama dengan berbagai pihak. Dari 94 desa itu memang kami lakukan semua prosesnya dengan baik," tutur dia.

Baca juga: 42 KabupatenKota Sabet Penghargaan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat

Kata Aron, Pemkab menganggarkan Rp 95 juta per desa salah satunya untuk program sanitasi. 

Bupati Kabupaten Sekadau, Aron, Rabu (24/9/2025). KOMPAS.com/ZINTAN Bupati Kabupaten Sekadau, Aron, Rabu (24/9/2025).

Gentong Mas Santun

Aron menyatakan pembangunan septic tank sulit dilakukan di desa pesisir sungai. Bekerja sama dengan warga dan WVI, akhirnya mereka memutar otak lalu menciptakan Gerakan Tolong Masyarakat Sanitasi Tuntas (Gentong Mas Santun).

Septic tank apung ini ditaruh di setiap rumah yang berada di hilir sungai dan berdekatan area rawa. Guna mencegah penumpukan kotoran dan meredam bau, masyarakat menyiramkan effective microorganism-4 (EM4) ke Gentong Mas Santun sebagai pengurai. 

"Di pesisir ini kan memang agak susah kami buat closetnya. Tetapi Puji Tuhan ada gentong ajaib dari Wahana Visi ada Gentong Mas, rupanya itu bisa membantu warga terutama di pesisir," jelas Aron.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Sekadau, Henry Alpius, menyampaikan Pemkab mewajibkan empat desa per tahun. Apabila tidak dijalankan, maka Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) tak akan disetujui.

"Perlu kami sampaikan untuk ODF penyakit-penyakit akibat lingkungan. Sebelum ODF ini, kami sangat rasakan terkait muntaber yang ada setiap kemarau dengan adanya ODF ini maka kasus-kasus penyakit muntah berak jauh berkurang," papar Henry.

Lainnya, membantu menurunkan angka stunting di Sekadau yang kini menyentuh angka 14 persen.

Baca juga: Perubahan Iklim Bisa Rugikan Produktivitas Global Hingga 1,5 Triliun Dolar AS

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
LSM/Figur
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Swasta
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
LSM/Figur
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Pemerintah
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau